Headline
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA puluhan tahun, Saturnus menjadi teka-teki bagi para astronom. Planet ini memiliki cincin yang megah namun berusia "muda", serta bulan-bulan dengan karakteristik yang sangat aneh. Kini, studi terbaru yang dipimpin Matija Cuk dari SETI Institute menawarkan penjelasan tunggal yang dramatis, semuanya bermula dari tabrakan besar antara dua bulan purba.
Penelitian yang akan diterbitkan dalam Planetary Science Journal ini menunjukkan Titan, bulan terbesar Saturnus, kemungkinan besar adalah hasil penggabungan dua objek langit. Peristiwa hebat ini diperkirakan memicu efek domino yang membentuk wajah sistem Saturnus seperti yang kita lihat sekarang.
Awalnya, para ilmuwan berteori bahwa Saturnus pernah memiliki bulan es tambahan yang dinamai Chrysalis. Sekitar 100 juta tahun lalu, Chrysalis diduga hancur karena gaya gravitasi Saturnus, menyisakan debu dan es yang kini menjadi cincin planet tersebut.
Namun, simulasi terbaru tim Cuk memberikan alur cerita berbeda. Alih-alih hancur sendirian, Chrysalis justru bertabrakan dan menyatu dengan "proto-Titan".
"Hyperion, yang terkecil di antara bulan-bulan utama Saturnus, memberi kami petunjuk paling penting tentang sejarah sistem ini," ujar Cuk dalam pernyataannya. "Kami menyadari kunci Titan–Hyperion relatif muda, hanya berusia beberapa ratus juta tahun. Ini berasal dari periode yang sama ketika bulan tambahan itu menghilang."
Jika teori penggabungan ini benar, banyak anomali di Saturnus yang akhirnya terjawab:
Meski hipotesis ini sangat rapi dan sesuai dengan data distribusi massa Saturnus yang dikumpulkan misi Cassini-Huygens, para ilmuwan masih membutuhkan bukti langsung.
Harapan kini tertuju pada misi Dragonfly milik NASA yang dijadwalkan meluncur pada 2028. Wahana ini akan mendarat di Titan untuk mencari tanda-tanda lebih lanjut bahwa permukaan bulan tersebut memang masih muda, yang akan memperkuat teori tentang "kekacauan besar" 100 juta tahun silam. (Space/Z-2)
Ternyata NASA dan sejumlah mitra internasional memberikan petunjuk tentang bagaimana cincin Saturnus bisa terbentuk.
Sebuah studi terbaru menunjukkan Bumi mungkin pernah memiliki sistem cincin seperti Saturnus sekitar 466 juta tahun.
Cincin ikonik Saturnus akan tampak menghilang dari pandangan pada 23 Maret 2025 dalam fenomena langka yang disebut ring plane crossing.
Menghilangnya cincin Saturnus bulan ini pada dasarnya adalah ilusi optik yang disebabkan oleh kemiringan planet tersebut.
Sebuah studi terbaru menunjukkan cincin Saturnus kemungkinan berusia sekitar 4,5 hingga 4 miliar tahun, hampir setua planet itu sendiri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved