Headline
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
Kumpulan Berita DPR RI
DI balik keindahan cincin Saturnus yang bercahaya, tersimpan rahasia kosmik yang dahsyat. Penelitian terbaru yang dipimpin oleh ilmuwan SETI Institute, Matija Ćuk, mengungkapkan bahwa cincin es planet tersebut kemungkinan jauh lebih muda dari yang diperkirakan sebelumnya, yakni sekitar 100 juta tahun.
Studi ini mengusulkan sebuah teori yang menghubungkan pembentukan cincin tersebut dengan kelahiran Titan, bulan terbesar Saturnus, melalui tabrakan hebat antara dua bulan purba di masa lalu.
Berdasarkan simulasi komputer tingkat lanjut, Titan diyakini sebagai dunia generasi kedua yang terbentuk dari penggabungan dua objek prasejarah, yaitu Proto-Titan dan Proto-Hyperion.
Bukti utama dari teori ini ditemukan pada hubungan gravitasi yang aneh antara Titan dan tetangganya, Hyperion. Para peneliti menemukan bahwa sinkronisasi orbit antara kedua bulan tersebut relatif muda, diperkirakan hanya berusia beberapa ratus juta tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa Hyperion mungkin merupakan fragmen sisa dari tabrakan besar yang kemudian membentuk Titan dalam wujudnya yang sekarang.
Model penggabungan ini memberikan jawaban atas sejumlah teka-teki ilmiah yang selama ini belum terpecahkan. Dampak dari tabrakan besar tersebut secara efektif menghapus kawah-kawah tua di permukaan Titan, menjelaskan mengapa permukaannya tampak jauh lebih mulus dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Selain itu, energi panas dari benturan tersebut diduga memicu terbentuknya atmosfer nitrogen yang tebal, mengubah Titan yang semula objek beku menyerupai bulan Callisto milik Jupiter yang memiliki kawah dan tidak memiliki atmosfer, menjadi dunia yang memiliki aktivitas atmosferik dinamis.
Simulasi juga menunjukkan bahwa gaya gravitasi dari Proto-Hyperion sebelum bergabung mampu menjelaskan kemiringan orbit bulan saturnus yang jauh, Iapetus, yang tidak biasa.
Terbentuknya Titan melalui tabrakan ini kemudian memicu reaksi berantai yang menciptakan cincin ikonik Saturnus.
Saat Titan menetap di orbit barunya yang tidak stabil, ia menciptakan gangguan gravitasi atau resonansi orbital terhadap bulan-bulan kecil yang berada lebih dekat dengan Saturnus. Gangguan ini memaksa bulan-bulan tersebut keluar dari lintasan stabilnya, menyebabkan tabrakan berkecepatan tinggi yang menghancurkan satu sama lain.
Sebagian besar puing-puing ini berkumpul kembali menjadi bulan-bulan baru, sementara sisa debu dan esnya ditarik oleh gravitasi planet hingga membentuk piringan cincin yang kita lihat hari ini.
Meskipun waktu terjadinya bencana ini tidak jelas, hal itu dipastikan terjadi setelah penggabungan Titan, sesuai dengan perkiraan usia cincin sekitar 100 juta tahun.
Validasi lebih lanjut atas teori ini diharapkan akan datang dari misi Dragonfly milik NASA yang dijadwalkan tiba di Titan pada tahun 2034. Wahana robotik berbentuk oktokopter ini akan melakukan investigasi geologi dan kimia langsung di permukaan Titan untuk mencari bukti-bukti forensik dari tabrakan purba tersebut.
Jika terbukti benar, penemuan ini akan mengubah pemahaman manusia mengenai evolusi sistem planet di tata surya, menunjukkan bahwa keindahan sistem Saturnus lahir dari peristiwa kekerasan kosmik yang relatif baru.
Sumber: SETI Institute
Ilmuwan mengungkap asal-usul Titan Saturnus dari tabrakan bulan purba. Simak kaitan pembentukan Titan dengan usia cincin Saturnus dan misi Dragonfly 2026.
Selama lebih dari satu dekade, Bulan terbesar milik planet Saturnus, Titan dikenal sebagai salah satu kandidat terkuat tempat adanya kehidupan di luar Bumi.
Studi terbaru NASA mengungkap Bulan Titan milik Saturnus kemungkinan menyimpan "es berlumpur" yang bisa menjadi habitat mikro bagi kehidupan.
Ilmuwan menemukan senyawa baru di bulan Saturnus, Titan, yang melanggar aturan dasar kimia.
Berdasarkan data dari misi gabungan NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA) Cassini, para ilmuwan menduga, permukaan Titan mengalami proses pelarutan mirip
Studi terbaru NASA mengungkap Bulan Titan milik Saturnus kemungkinan menyimpan "es berlumpur" yang bisa menjadi habitat mikro bagi kehidupan.
Ilmuwan NASA dan Chalmers University menemukan hidrogen sianida beku dapat bercampur dengan hidrokarbon cair di Titan, bulan terbesar Saturnus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved