Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
ASTRONOT misi Apollo yang mengunjungi bulan antara tahun 1969 dan 1972 menemukan gerakan melompat berguna untuk menjelajahi permukaannya, di mana gravitasi hanya seperenam dari gravitasi Bumi.
Saat ini, robot berperan penting dalam eksplorasi luar angkasa, dan beberapa mengambil inspirasi dari astronot yang bergerak seperti kelinci melompat tersebut.
Salah satunya adalah SpaceHopper, robot berkaki tiga yang dirancang untuk menjelajahi lingkungan mikrogravitasi, seperti permukaan asteroid.
Baca juga : Tiga Perusahaan Berebut Bikin Penjelajah Bulan NASA
Dikembangkan oleh mahasiswa ETH Zurich, di Swiss, robot ini melipat kakinya untuk mendorong dirinya dari tanah.
Saat meluncur di udara, robot ini menggerakkan anggota tubuhnya seperti kucing jatuh yang berusaha menyeimbangkan diri, untuk stabil di udara dan mendarat dengan tepat.
Teknologi seperti robot melompat ini bisa membantu umat manusia menjelajahi kosmos lebih jauh.
Baca juga : Hari ini, Jepang Kirim Sampel Batuan Asteroid Ryugu ke Bumi
"Kita tidak bisa begitu saja mengirim manusia ke luar angkasa untuk melakukan tugas yang berpotensi berbahaya," kata Valerio Schelbert, mahasiswa magister yang bekerja pada SpaceHopper sebagai insinyur sistem, kepada CNN. "Tapi kita bisa membuat robot yang bisa melakukan tugas ini untuk kita."
Beberapa negara telah menjelajahi asteroid untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang asal-usul Bumi, dan beberapa perusahaan, seperti startup yang berbasis di California, AstroForge, berencana untuk menambang asteroid guna mendapatkan logam berharga.
SpaceHopper yang menjelajahi asteroid bisa dilengkapi dengan berbagai sensor untuk mengumpulkan informasi, kata Schelbert.
Baca juga : Fenomena Lintang Kemukus Kembali Menyapa Langit Fajar Indonesia
Dia menambahkan bahwa suatu hari mineral yang ditambang di luar angkasa dapat digunakan untuk pembangunan di sana – alih-alih membawanya dari Bumi.
Gerakan melompat telah digunakan untuk menjelajahi asteroid sebelumnya. Pada tahun 2018, Jepang mengerahkan robot melompat di asteroid dekat Bumi bernama Ryugu, termasuk Mobile Asteroid Surface Scout (MASCOT) yang dikembangkan oleh Jerman-Perancis, yang melompat dan menyeimbangkan dirinya dengan memutar lengan ayun.
Mahasiswa ETH Zurich mengatakan SpaceHopper – yang dilatih menggunakan pembelajaran penguatan, teknik yang mengajarkan AI untuk membuat keputusan berdasarkan trial and error – memungkinkan gerakan yang lebih terkontrol daripada penjelajah asteroid sebelumnya.
Baca juga : Misi Penyelamatan Dua Astronot NASA yang Terjebak, SpaceX Kembali Menciptakan Sejarah
"Jadi, ketika kita ingin pergi ke kawah itu, kita bisa ke sana," kata Schelbert.
Robot berkaki tiga yang dapat menyeimbangkan diri di gravitasi nol adalah "sebuah ide yang benar-benar baru," kata Florian Kehl, dosen di Departemen Ilmu Bumi dan Planet ETH Zurich.
Akhir tahun lalu, SpaceHopper mendapatkan pengalaman pertamanya dengan keadaan tanpa bobot pada penerbangan parabola, di mana pesawat bergerak dengan gerakan curam seperti roller-coaster untuk menciptakan periode tanpa bobot.
Para akademisi terkejut saat kaki mereka terangkat dari tanah. Namun, mereka mungkin lebih terkesan dengan SpaceHopper, yang menunjukkan keterampilan melompat dan menyeimbangkan diri selama serangkaian eksperimen.
"Kami benar-benar kagum," kata Schelbert. Dengan keberhasilan pengujian penerbangan parabola, SpaceHopper telah mencapai potensinya saat ini, dan proyek ini akan segera berakhir, tambahnya.
Namun, apa yang mereka pelajari digunakan untuk mengembangkan robot baru, LunarLeaper, yang diharapkan dapat digunakan dalam beberapa tahun mendatang.
Robot tripod seberat 10 kilogram (22 pon), yang didasarkan pada desain SpaceHopper, telah dipilih Badan Antariksa Eropa (ESA) sebagai kandidat untuk pergi ke bulan.
ESA berencana mengirim astronot Eropa pertama ke bulan tahun 2030. Mereka menggunakan robot sebagai pengintai untuk persiapan.
Tim di balik LunarLeaper, termasuk akademisi ETH Zurich, berharap dapat menggunakannya untuk menjelajahi lubang yang diperkirakan terhubung dengan tabung lava bawah permukaan.
Beberapa ilmuwan berharap tabung lava ini dapat menjadi tempat pangkalan bulan di masa depan, melindungi astronot dari lingkungan keras bulan.
Schelbert berharap pekerjaan yang dilakukan pada SpaceHopper akan menjadi penting untuk membantu eksplorasi luar angkasa di masa depan – mungkin bahkan membantu "umat manusia menjadi masyarakat antarbintang," katanya. (CNN/Z-3)
International Astronomical Union (IAU) secara resmi mengabadikan nama Bayu Risanto sebagai nama sebuah asteroid.
2025 MN45 harus tersusun dari material yang sangat kokoh agar tidak hancur akibat gaya sentrifugal dari putarannya yang ekstrem.
Asteroid raksasa memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun lalu, namun mamalia bertahan. Simak faktor evolusi dan adaptasi yang membuat mamalia selamat dari kepunahan massal.
Sistem peringatan dini benturan benda langit Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) berhasil mendeteksi sebuah objek yang melintas melalui Tata Surya.
Para ilmuwan NASA baru saja mengumumkan penemuan sebuah “bulan mini” baru, yaitu sebuah asteroid kecil bernama 2025 PN7 yang akan bergerak seiring dengan Bumi
NASA tengah memantau pergerakan tiga asteroid yang melintas dekat Bumi dalam rentang waktu hanya dua hari.
Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal ilmiah dan dilansir oleh laman PsyPost mengungkap bahwa misi luar angkasa tidak hanya berdampak pada otot dan tulang manusia
Masalah kesehatan itu terungkap ketika NASA menunda rencana spacewalk yang tadinya akan dilakukan oleh Cardman dan Fincke karena adanya kekhawatiran medis.
Astronaut Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) mengabadikan fenomena langka lunar halo di atas Samudra Hindia. Cincin cahaya di sekitar Bulan ini terlihat lebih jelas dari orbit Bumi.
Melalui proyek baru yang diberi nama HOBI-WAN, ESA tengah menguji kemungkinan memanfaatkan senyawa yang terdapat dalam urine sebagai bahan dasar pembuatan protein untuk pangan antariksa.
Peneliti NASA dan ESA memetakan bagaimana ruang angkasa memengaruhi sistem imun manusia.
Astronaut NASA Suni Williams dan Nick Hague berhasil menyelesaikan misi luar angkasa yang kompleks dan bersejarah pada 16 Januari 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved