Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
Ilmuwan telah berhasil mengidentifikasi bidang tektit pertama yang pernah ditemukan di Brasil. Spesimen ini diberi nama geraisites, merujuk pada negara bagian Minas Gerais tempat material ini pertama kali ditemukan. Sebelumnya, dunia hanya mengenal lima bidang tektit utama yang terletak di Australasia, Eropa Tengah, Pantai Gading, Amerika Utara, dan Belize.
Tektit merupakan material kaca alami yang terbentuk ketika asteroid atau benda luar angkasa lainnya menghantam Bumi dengan kekuatan yang sangat ekstrem. Secara fisik, tektit menunjukkan karakteristik aerodinamis yang terbentuk saat material cair mendingin di atmosfer, menghasilkan bentuk bola, elipsoid, tetesan air, hingga struktur barbel yang terpuntir.
Meskipun sekilas tampak hitam pekat dan opak, tektit akan menampakkan rona hijau keabu-abuan yang transparan saat diletakkan di bawah cahaya kuat. Permukaannya dipenuhi lubang-lubang kecil atau kavitasi, yang merupakan jejak gelembung gas yang terlepas selama proses pendinginan cepat, sebuah fitur spesifik yang membedakan tektit dari material kaca bumi lainnya.
Keberadaan bidang tektit ini ditemukan di lintas wilayah utara Minas Gerais hingga bagian timur laut Brasil, yakni Taiobeiras, Curral de Dalam, São João do Paraíso, Bahia, dan Piauí, membentang sejauh lebih dari 900 kilometer.
Sejauh ini para peneliti telah mengumpulkan lebih dari 600 fragmen tektit seiring dengan penemuan-penemuan terbaru. Fragmen-fragmen ini memiliki variasi ukuran yang luas, mulai dari kurang dari 1 gram hingga 85,4 gram, dengan dimensi terpanjang mencapai 5cm.
Keaslian geraisites sebagai material hasil tumbukan diperkuat melalui analisis geokimia yang mendalam. Para peneliti menemukan inklusi lechatelierite, jenis kaca silika suhu tinggi yang hanya dapat terbentuk dalam kondisi panas ekstrem yang tidak ditemukan pada proses geologi internal Bumi.
Selain itu, kadar airnya yang sangat rendah, hanya berkisar 71 hingga 107 ppm, menjadi bukti tak terbantahkan. Sebagai perbandingan, kaca vulkanik seperti obsidian memiliki kadar air hingga 2%, jauh lebih basah dibandingkan tektit yang dikenal sangat kering. Data isotop juga menunjukkan bahwa material ini berasal dari kerak benua purba Craton São Francisco yang berusia lebih dari 3 miliar tahun.
Melalui metode penanggalan isotop argon, tim peneliti menyimpulkan bahwa tumbukan tersebut terjadi setidaknya kurang dari 6,3 juta tahun yang lalu, mendekati akhir zaman Miosen. Terdapat tiga hasil penanggalan yang mengelompok secara konsisten, yang mendukung kesimpulan bahwa seluruh material tersebut berasal dari satu peristiwa tunggal yang masif.
Hingga kini, kawah asal geraisites belum ditemukan. Hal ini sejalan dengan catatan geologi dunia di mana dari enam bidang tektit, hanya tiga yang kawahnya telah terkonfirmasi. Meski lokasi pastinya masih misterius, volume batuan yang meleleh dan luasnya distribusi fragmen mengindikasikan bahwa benda luar angkasa yang menghantam Bumi saat itu memiliki ukuran yang sangat signifikan.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Geology oleh tim riset yang dipimpin oleh Álvaro Penteado Crósta, seorang geolog dan profesor senior di Institut Geosains Universitas Negeri Campinas (IG-UNICAMP). Crósta berkolaborasi dengan para peneliti dari Brasil, Eropa, Timur Tengah, dan Australia. (Astronomy/Science Daily/E-3)
Penelitian terbaru mengungkap meteorit Mars Black Beauty menyimpan air purba jauh lebih banyak, memperkuat bukti Mars pernah basah dan layak huni.
Seorang pria menyimpan batu 17 kg selama 17 tahun yang dikiranya emas. Setelah diuji ilmuwan, ternyata meteorit kuno dari luar angkasa,
Selama proses membuka batu, Hole mencobanya dengan berbagai alat seperti gergaji batu, grinder sudut, bor, hingga merendamnya dalam air asam.
Rover Perseverance NASA menemukan batu logam kaya besi dan nikel yang diduga meteorit pertama dalam misinya di Mars.
Wahana antariksa ESA menangkap pola mirip barcode di lereng Mars. Penelitian baru menunjukkan fenomena ini bukan akibat tumbukan meteorit.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved