Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Citra ESA Ungkap “Barcode” di Lereng Mars, Ternyata Akibat Longsoran Debu

Thalatie K Yani
12/11/2025 09:15
Citra ESA Ungkap “Barcode” di Lereng Mars, Ternyata Akibat Longsoran Debu
Wahana antariksa ESA menangkap pola mirip barcode di lereng Mars. Penelitian baru menunjukkan fenomena ini bukan akibat tumbukan meteorit.(ESA)

WAHANA antariksa milik European Space Agency (ESA) berhasil mengabadikan citra menakjubkan di permukaan Mars. Gambar itu menampilkan pola menyerupai garis kode (barcode) di lereng gunung berdebu.

Citra tersebut diambil pada Malam Natal 2023 oleh ExoMars Trace Gas Orbiter (TGO), yang memperlihatkan garis-garis gelap berbentuk jari menuruni sisi Apollinaris Mons, gunung berapi purba yang terletak di dekat ekuator Mars. Menurut keterangan ESA, pola tersebut terbentuk akibat longsoran debu yang dipicu tumbukan meteorit, mengguncang butiran halus di permukaan hingga meluncur ke bawah lereng.

Meski fitur ini hanya menutupi kurang dari 0,1% permukaan Mars, para ilmuwan menyebut fenomena tersebut memainkan peran besar dalam siklus debu planet merah. Setiap tahun, longsoran debu ini memindahkan material dalam jumlah setara dua badai global di Mars, menjadikannya bagian penting dari sistem iklim planet tersebut.

Penelitian: Angin dan Musim Jadi Pemicu Utama

Penelitian terbaru yang dipimpin Valentin Bickel dari Universitas Bern, Swiss, menemukan kurang dari satu di antara seribu streak atau garis lereng terbentuk akibat tumbukan meteorit. Sebagian besar justru dipicu perubahan musim dan aktivitas angin debu di permukaan Mars.

“Tumbukan meteorit dan gempa Mars hanya berperan lokal, namun tidak signifikan secara global,” ujar Bickel dalam pernyataan ESA.

Untuk menyimpulkan hal itu, tim menganalisis lebih dari dua juta streak dari 90.000 citra orbit Mars yang diambil antara 2006–2024, sebagian besar oleh wahana Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) milik NASA. Dengan menggunakan algoritma pembelajaran mendalam (deep learning), mereka memetakan lokasi dan waktu terbentuknya streak, serta menelusuri pola musiman pembentukan debu di seluruh planet.

Debu Mars Bergerak Seiring Perubahan Musim

Hasil penelitian menunjukkan, sebagian besar streak muncul selama musim paling berdebu di Mars, terutama pada musim panas dan gugur di belahan selatan. Apalagi ketika kecepatan angin cukup kuat untuk menggerakkan partikel pasir.

Bickel memperkirakan, total debu yang berpindah akibat streak ini mencapai seperempat dari total sirkulasi debu global Mars setiap tahun, setara dengan dua badai debu planet.

Fenomena ini paling sering terjadi saat matahari terbit dan terbenam. Namun karena wahana orbit jarang memotret Mars pada jam-jam tersebut, proses terbentuknya masih belum terekam secara langsung.

Penelitian itu juga mengidentifikasi lima wilayah utama pembentukan streak, yakni Amazonis, Olympus Mons Aureole, Tharsis, Arabia, dan Elysium. Daerah dengan lereng curam, debu longgar, serta hembusan angin yang cukup kuat untuk menggerakkan permukaan.

“Pengamatan ini membantu kita memahami apa yang terjadi di Mars saat ini,” kata Colin Wilson, ilmuwan proyek ExoMars TGO. (Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya