Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
RIBUAN pusaran debu kecil atau dust devil berputar di dataran berkarat Mars dengan kecepatan luar biasa. Kecepatannya mencapai hampir 160 kilometer per jam, jauh melebihi perkiraan sebelumnya.
Temuan ini diungkap tim peneliti yang menganalisis lebih dari 1.000 pusaran debu dari citra dua wahana milik European Space Agency (ESA) selama dua dekade terakhir. Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science Advances itu memberikan wawasan baru tentang dinamika angin di Planet Merah.
Menurut Valentin Bickel dari Universitas Bern, Swiss, yang memimpin studi tersebut, pemahaman baru ini penting untuk perencanaan misi eksplorasi Mars di masa depan. “Dengan mengetahui kecepatan angin dan pola terbentuknya pusaran debu, para ilmuwan bisa memperkirakan seberapa banyak debu yang menempel di panel surya wahana pendarat atau rover, serta menentukan frekuensi pembersihan otomatis,” jelasnya.
Untuk membuat katalog ini, tim Bickel menggunakan kecerdasan buatan (AI) guna memeriksa ribuan arsip gambar dari wahana Mars Express dan ExoMars Trace Gas Orbiter (TGO). AI tersebut menghitung pergeseran posisi setiap pusaran antara dua foto berurutan, lalu menentukan arah dan kecepatannya.
Menariknya, kedua wahana itu sebenarnya tidak dirancang untuk mengukur angin. Para peneliti memanfaatkan perbedaan warna mikro yang muncul akibat jeda beberapa detik antara pengambilan gambar tiap saluran kamera. Biasanya dianggap sebagai “gangguan gambar”, perbedaan kecil itu justru menjadi kunci untuk mengukur gerakan pusaran debu secara akurat.
Pusaran-pusaran ini paling sering muncul di dataran berdebu seperti Amazonis Planitia, terutama saat siang hari pada musim semi dan musim panas Mars. Mereka hanya bertahan beberapa menit, dengan puncak aktivitas antara pagi menjelang siang hingga tengah hari, mirip dengan fenomena dust devil di Bumi.
Berbeda dengan Bumi, debu di Mars bisa bertahan di atmosfer selama berbulan-bulan, karena tidak ada hujan yang bisa membersihkannya. Memahami bagaimana dan kapan debu terangkat dari permukaan sangat penting untuk memprediksi cuaca dan iklim jangka panjang Mars.
“Debu memengaruhi segalanya di Mars, dari kondisi cuaca lokal hingga kualitas citra wahana,” kata Colin Wilson, ilmuwan proyek ESA untuk Mars Express dan TGO. “Sulit melebih-lebihkan betapa pentingnya peran debu di planet ini.”
Temuan ini tidak hanya membantu ilmuwan memahami Mars lebih baik, tetapi juga dapat meningkatkan akurasi model atmosfer dan prakiraan cuaca bagi setiap misi masa depan yang mendarat di Planet Merah. (Space/Z-2)
Para ilmuwan menemukan bahwa angin di Mars berembus jauh lebih kencang dari dugaan sebelumnya. Temuan ini berasal dari analisis 1.039 pusaran debu (dust devils), tornado mini khas Planet Merah
Elon Musk mengumumkan SpaceX beralih fokus ke Bulan sebelum Mars. Targetkan kota mandiri dalam 10 tahun demi selamatkan peradaban manusia.
Penelitian terbaru mengungkap meteorit Mars Black Beauty menyimpan air purba jauh lebih banyak, memperkuat bukti Mars pernah basah dan layak huni.
Mars berada pada jarak rata-rata sekitar 140 juta mil atau 225 juta kilometer dari Bumi. Jarak tersebut menyebabkan keterlambatan komunikasi, sehingga pengendalian rover secara langsung
NASA sukses menguji coba navigasi AI pada Rover Perseverance di Mars. Tanpa campur tangan manusia, AI kini mampu memetakan rute aman di medan ekstrem Planet Merah.
Menurut laporan ilmiah dan data dari pengamatan satelit, permukaan Mars terdiri dari campuran berbagai material mineral yang memantulkan cahaya dengan spektrum warna berbeda.
Dari analisis terbaru, para peneliti melaporkan penemuan sebuah kandidat planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi dan mengorbit sebuah bintang mirip Matahari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved