Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Para ilmuwan menemukan bahwa angin di Mars berembus jauh lebih kencang dari dugaan sebelumnya. Temuan ini berasal dari analisis 1.039 pusaran debu (dust devils), tornado mini khas Planet Merah, yang mengungkap kecepatan angin mencapai 160 km/jam (100 mil/jam).
Data diperoleh dari dua wahana European Space Agency (ESA), yakni Mars Express dan ExoMars Trace Gas Orbiter (TGO). Meskipun keduanya tidak dirancang untuk mengukur angin, para peneliti berhasil menyusun katalog pusaran debu terbesar dalam sejarah lewat analisis citra permukaan secara cermat.
“Pusaran debu membuat angin yang tak terlihat menjadi tampak nyata,” ujar Valentin Bickel dari Universitas Bern, penulis utama studi ini. “Kini kami dapat memetakan pola angin global Mars, hal yang sebelumnya mustahil dilakukan.”
Rahasia metode ini ada pada perbedaan waktu pengambilan saluran warna merah dan biru dalam kamera wahana.
Dengan menelusuri pergeseran posisi pusaran di antara dua citra, ilmuwan mampu menghitung kecepatannya, mirip trik stereoscopic 3D.
Salah satu citra dari 3 Desember 2021 menunjukkan pusaran menjulang dengan warna tak selaras, bukti visual dari perbedaan waktu pengambilan gambar yang memungkinkan pengukuran gerak.
Penelitian ini memberikan pandangan global pertama tentang arah dan kekuatan angin di Mars. Sebelumnya, pengukuran hanya bisa dilakukan lewat stasiun cuaca di permukaan, terbatas pada beberapa titik saja.
Meski atmosfer Mars sangat tipis (1% dari Bumi), hembusan angin cukup kuat untuk mengangkat debu dan menciptakan badai global yang bisa mematikan misi robotik berbasis tenaga surya.
“Debu adalah faktor paling dinamis di atmosfer Mars,” kata Colin Wilson, ilmuwan proyek ESA. “Memahami cara debu terangkat dan terbawa angin sangat penting untuk misi masa depan, terutama bagi rover dan astronot yang bergantung pada energi surya.”
Temuan ini bukan hanya membuka tabir cuaca ekstrem Mars, tetapi juga menjadi langkah penting menuju eksplorasi manusia di dunia lain. (IFLScience/Z-10)
Mars sejak lama dijuluki Planet Merah. Julukan ini sudah dikenal sejak zaman kuno, ketika berbagai peradaban mengamati langit malam dan melihat Mars bersinar dengan warna kemerahan.
Para ilmuwan telah menemukan jawaban yang paling akurat terkait cara waktu berlalu di Mars, dan penemuan ini bisa berdampak pada masa depan navigasi
Lebih dari lima tahun menjalankan misinya, penjelajah Mars Perseverance milik NASA masih berjalan perlahan di permukaan planet merah itu.
Wahana antariksa ESA menangkap pola mirip barcode di lereng Mars. Penelitian baru menunjukkan fenomena ini bukan akibat tumbukan meteorit.
ESA merilis video menakjubkan dari data wahana Mars Express yang menampilkan saluran air purba, lembah, dan kawah di permukaan Mars.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved