Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
PLANET Mars nampaknya memiliki mekanisme pertahanan sendiri terhadap kehidupan dari Bumi yang dapat membantu melindungi Planet Merah dari kontaminasi mikroorganisme Bumi.
Para ilmuwan yang dipimpin oleh Corien Bakermans, profesor mikrobiologi Penn State University, bereksperimen dengan memaparkan Tardigrada pada simulasi regolit Mars.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan seberapa baik Tardigrada dapat beradaptasi di regolit dengan harapan suatu hari nanti dapat mengubah regolit Mars menjadi tanah organik tempat tanaman tumbuh.
Tardigrada adalah makhluk mikroskopis yang terlihat seperti beruang gemuk sehingga kerap dijuluki sebagai “beruang air.”
Dalam studi terbaru, para peneliti di Amerika Serikat, Polandia, dan Inggris menunjukkan cara makhluk ini dapat membantu astronot di masa depan dengan bertahan hidup di Mars.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa Tardigrada dapat bertahan hidup di regolit Mars dan membantu menumbuhkan tanaman di rumah kaca Mars.
Studi ini memperlihatkan bagaimana manusia dapat menggunakan Tardigrada untuk mengadaptasi sumber daya ekstraterestrial guna mendukung eksplorasi di Mars atau bahkan lokasi lain di tata surya.
Selain itu, penelitian ini mungkin dapat membantu melindungi astronot dari kontaminan yang mereka bawa.
Para ilmuwan tersebut mereplikasi regolit Mars berdasarkan komposisi kimianya. Secara khusus, penelitian Bakermans dan rekan-rekannya menggunakan dua simulan yang didasarkan pada pengukuran NASA yang sedang menjelajahi Kawah Gale di Mars.
Salah satu simulan, MGS-1, dirancang untuk meniru sifat umum regolit Mars. Sementara simulan OUCM-1 dirancang mewakili area Rocknest di Kawah Gale.
Temuan dari tim Bakermans cukup mengejutkan mereka. Ternyata, Tardigrada memiliki dua keadaan hidup, yaitu aktif dan dorman.
Ketika terpapar MGS-1, Tardigrada memasuki keadaan dorman dalam waktu hanya dua hari.
“Kami terkejut dengan seberapa merusak MGS-1 sehingga kami berteori mungkin ada sesuatu yang spesifik dalam simulan tersebut yang dapat dihilangkan dengan pencucian,” ujar Bakermans.
Ketika tim Bakermans mencuci sampel MGS-1 dan menambahkan sekelompok Tardigrada baru ke dalamnya, hasilnya menunjukkan efek buruk yang ringan.
Namun, faktor yang memengaruhi keadaan hidup Tardigrada tersebut masih belum dipastikan.
“Itu tidak terduga, tetapi dalam arti tertentu itu baik karena artinya mekanisme pertahanan regolit dapat menghentikan kontaminan,” kata Bakermans.
Ia melanjutkan bahwa lapisan MGS-1 dapat dicuci untuk membantu mendukung pertumbuhan tanaman atau mencegah kerusakan pada manusia yang bersentuhan dengannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tardigrada dapat membantu para astronot di masa depan untuk bertahan hidup di Mars.
Makhluk mikroskopis ini berguna untuk menumbuhkan tanaman di regolit Mars dengan kondisi rumah kaca tertutup.
Temuan ini pun konsisten dengan eksperimen sebelumnya yang menemukan bahwa regolit Mars berbahaya bagi sel-sel aktif.
Di sisi lain, temuan ini membawa hasil baru bahwa dengan hanya mencuci regolit Mars, kondisinya menjadi jauh lebih aman.
Hal ini berimplikasi pada harapan bahwa suatu hari nanti regolit tersebut dapat benar-benar diubah menjadi tanah untuk menanam tanaman, menghasilkan oksigen, dan memberi makan para astronot yang tinggal di Mars.
“Kami sedang meneliti potensi sumber daya untuk menumbuhkan planet sebagai bagian dari upaya membangun komunitas yang sehat, tetapi kami juga meneliti apakah ada kondisi merusak yang melekat pada regolit yang dapat membantu melindungi kontaminasi dari Bumi,” ungkap Bakermans.
Temuan ini telah dipublikasikan pada Desember 2025 di _International Journal of Astrobiology._
Namun, penelitian Bakermans dan rekan-rekannya menekankan bahwa penelitian lanjutan tetap harus dilakukan untuk memahami potensi kelayakan huni dan bahaya dari regolit Mars. (EarthSky, Space.com/P-3)
Wahana Curiosity milik NASA menemukan formasi geologi unik berbentuk “jaring laba-laba” di Mars. Fenomena boxwork ini diyakini terbentuk dari aktivitas air purba.
Studi terbaru mengungkap gunung berapi di Mars memiliki sejarah erupsi yang jauh lebih rumit dari dugaan semula, didorong oleh sistem magma yang terus berevolusi.
Elon Musk mengumumkan SpaceX beralih fokus ke Bulan sebelum Mars. Targetkan kota mandiri dalam 10 tahun demi selamatkan peradaban manusia.
Penelitian terbaru mengungkap meteorit Mars Black Beauty menyimpan air purba jauh lebih banyak, memperkuat bukti Mars pernah basah dan layak huni.
Mars berada pada jarak rata-rata sekitar 140 juta mil atau 225 juta kilometer dari Bumi. Jarak tersebut menyebabkan keterlambatan komunikasi, sehingga pengendalian rover secara langsung
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved