Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
PLANET Venus diprediksi akan mengalami fenomena hujan meteor dramatis pada Juli mendatang. Fenomena ini merupakan hasil dari pecahnya sebuah asteroid di dekat orbit Venus yang meninggalkan jejak debu ruang angkasa yang luas di jalurnya.
Para ilmuwan memprediksi puncak hujan meteor ini akan terjadi pada 5 Juli. Namun, bagi pengamat di Bumi, fenomena ini akan sangat sulit disaksikan. Hanya bola api (fireball) yang sangat terang dengan magnitudo sekitar -12 hingga -15, setara dengan terangnya Bulan purnama di langit kita, yang kemungkinan besar bisa tertangkap melalui teleskop dari Bumi.
Penemuan ini bermula dari "cerita detektif" yang melibatkan dua asteroid unik, yakni 2021 PH27 dan 2025 GN1. Keduanya ditemukan memiliki orbit yang hampir identik dan berada di wilayah yang sangat dekat dengan Venus.
Berdasarkan pengamatan spektrum, keduanya masuk dalam kelas tipe X, yang berarti memiliki komposisi material yang serupa. Keduanya juga memegang rekor sebagai asteroid tercepat di tata surya, hanya membutuhkan waktu 115 hari untuk sekali mengelilingi Matahari.
Tim astronom yang dipimpin oleh Albino Carbognani dari Italian National Institute for Astrophysics (INAF) melakukan simulasi orbit hingga 100.000 tahun ke belakang untuk mencari asal-usul kedua batu ruang angkasa ini.
Awalnya, peneliti menduga asteroid ini pecah karena gaya gravitasi Bumi atau Venus. Namun, simulasi menunjukkan kedua objek tersebut tidak pernah cukup dekat dengan planet mana pun untuk hancur akibat gaya pasang surut gravitasi.
Titik terang muncul ketika tim menyadari sekitar 17.000 hingga 21.000 tahun lalu, orbit asteroid induk mencapai titik perihelion (jarak terdekat dengan Matahari) yang sangat ekstrem, yakni hanya 15 juta kilometer. Jarak ini empat kali lebih dekat dibanding jarak rata-rata Merkurius ke Matahari.
Panas yang ekstrem menyebabkan permukaan asteroid retak, sementara rotasinya dipercepat oleh tekanan radiasi termal, sebuah fenomena yang dikenal sebagai Efek YORP. Kombinasi panas dan putaran cepat inilah yang akhirnya membelah asteroid induk menjadi dua bagian besar dan menyebarkan debu di sepanjang orbitnya.
"Mengingat orbitnya melintas sangat dekat dengan Venus, wajar jika muncul pertanyaan apakah fragmen kecil berukuran milimeter hasil fragmentasi tersebut masih mengorbit Matahari," ujar Carbognani dalam pernyataannya. "Simulasi kami mengonfirmasi bahwa hal itu memang mungkin terjadi."
Carbognani membandingkan fenomena ini dengan hujan meteor Geminid di Bumi yang berasal dari asteroid Phaethon. Meski saat ini belum ada pesawat ruang angkasa yang beroperasi di orbit Venus untuk merekam peristiwa Juli mendatang, harapan besar diletakkan pada misi masa depan.
"Opsi ideal untuk meningkatkan probabilitas deteksi adalah observasi langsung dari orbit Venus melalui wahana antariksa," tambah Carbognani. Misi seperti EnVision milik Eropa (ESA) serta DAVINCI dan VERITAS milik NASA diharapkan dapat memantau fenomena serupa di dekade mendatang.
Penelitian mendalam mengenai fenomena ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Icarus pada 17 Januari lalu.(Space/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved