Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
ROVER Perseverance milik NASA menemukan sebuah batu berstruktur tidak biasa di permukaan Mars. Batu bergelombang dengan kandungan logam tinggi tersebut diduga merupakan meteorit yang jatuh ke Planet Merah. Ini menjadi meteorit pertama yang ditemukan Perseverance selama empat tahun menjalankan misi menjelajahi bebatuan Mars untuk mencari petunjuk kehidupan masa lalu.
Sejak mendarat di Kawah Jezero pada awal 2021, Perseverance telah menemukan berbagai bentuk batu unik, seperti batu menyerupai “telur laba-laba”, “tengkorak”, hingga formasi mirip “kura-kura”. Beberapa sampel yang dikumpulkan bahkan mengandung nodul organik yang disebut sebagai indikasi paling jelas sejauh ini tentang kemungkinan jejak kehidupan purba di Mars. Namun, semua batu tersebut memiliki satu kesamaan, berasal dari Mars.
Situasi berubah pada 19 September, saat misi memasuki Sol ke-1.629. Rover menemukan batu berukuran sekitar 80 sentimeter di area Jezero bernama Vernodden. Batu tersebut kemudian diberi nama “Phippsaksla” dan diperkirakan tidak memiliki asal usul dari Mars.
“Batu ini diidentifikasi sebagai target menarik berdasarkan bentuknya yang terpahat dan menjulang, berbeda dari bebatuan datar dan terfragmentasi di sekitarnya,” tulis Candice Bedford, ahli geokimia dan mineralogi di Purdue University, dalam pernyataan NASA.
Analisis menunjukkan batu tersebut memiliki konsentrasi tinggi besi dan nikel, komposisi yang jarang ditemui pada batuan Mars tetapi umum pada meteorit. “Temuan ini mengindikasikan batu tersebut terbentuk di tempat lain dalam tata surya,” tulis Bedford. Usia meteorit ini belum dapat dipastikan, namun diperkirakan telah berada di Mars selama jutaan hingga miliaran tahun.
Menurut Bedford, ini bukan pertama kalinya rover menemukan batu asing di Mars. Rover Spirit, Opportunity, dan Curiosity juga pernah menemukan objek serupa di lokasi berbeda.
Penemuan Phippsaksla sebenarnya telah dilakukan dua bulan sebelumnya, namun baru diumumkan karena jeda publikasi selama penutupan aktivitas pemerintahan AS. Pernyataan NASA yang disiapkan pada 1 Oktober baru dirilis pada 13 November, sehari setelah pemerintahan kembali dibuka.
Sepanjang periode tersebut, Perseverance tetap beroperasi bersama beberapa misi penting lain.
Di sisi lain, meteorit asal Mars cukup sering ditemukan di Bumi. Batu-batu ini terlempar dari Mars akibat tabrakan besar dan mengembara di luar angkasa sebelum jatuh ke planet kita. Penelitian pada 2024 menunjukkan sekitar 200 meteorit Mars yang ditemukan di Bumi berasal dari lima kawah tabrakan berbeda. Pada Juli lalu, sebuah meteorit Mars seberat 24,5 kilogram bernama NWA 16788 terjual US$5,3 juta dalam sebuah lelang. (Live Science/Z-2)
Waktu di planet Mars berjalan sedikit lebih cepat dibandingkan Bumi akibat perbedaan gravitasi dan lintasan orbit. Apa dampaknya bagi manusia, teknologi, dan misi antariksa?
Mars memiliki gravitasi yang jauh lebih lemah dibandingkan Bumi, sekitar lima kali lebih kecil. Selain itu, Mars juga berada lebih jauh dari Matahari
Eksplorasi Mars terancam kontaminasi mikroorganisme Bumi. Ilmuwan menemukan bakteri dan organisme tangguh yang mampu bertahan di luar angkasa.
Mars tidak hanya berbeda dengan Bumi dari segi warna dan jaraknya saja, tetapi juga dari cara waktunya berjalan
Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) milik NASA baru saja mencatat tonggak sejarah dengan menangkap 100.000 foto permukaan Mars melalui kamera canggih HiRISE.
Ilmuwan berhasil memetakan sistem drainase kuno berskala benua di Mars untuk pertama kalinya.
Seorang pria menyimpan batu 17 kg selama 17 tahun yang dikiranya emas. Setelah diuji ilmuwan, ternyata meteorit kuno dari luar angkasa,
Selama proses membuka batu, Hole mencobanya dengan berbagai alat seperti gergaji batu, grinder sudut, bor, hingga merendamnya dalam air asam.
Wahana antariksa ESA menangkap pola mirip barcode di lereng Mars. Penelitian baru menunjukkan fenomena ini bukan akibat tumbukan meteorit.
Ilmuwan Tiongkok temukan fragmen meteorit langka pada sampel Bulan dari misi Chang’e-6. Temuan ini bisa ungkap asal-usul air dan materi di Tata Surya.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa kurang dari 10.000 meteorit benar-benar jatuh ke daratan atau perairan Bumi setiap tahunnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved