Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Pangan Masa Depan Astronot Bisa Berasal dari Urine Mereka Sendiri

Sekar Arum Pramudita
12/11/2025 10:17
Pangan Masa Depan Astronot Bisa Berasal dari Urine Mereka Sendiri
Ilustrasi(Freepik)

BAGI para peneliti antariksa, setiap tetes air dan setiap gram bahan organik memiliki nilai yang sangat besar. Di luar Bumi, tidak ada ruang untuk pemborosan, bahkan urine astronot pun kini dianggap sebagai sumber daya berharga.

Melalui proyek baru yang diberi nama HOBI-WAN (Hydrogen Oxidizing Bacteria In Weightlessness As a source of Nutrition), Badan Antariksa Eropa (ESA) tengah menguji kemungkinan memanfaatkan senyawa yang terdapat dalam urine sebagai bahan dasar pembuatan protein untuk pangan antariksa.

Tantangan Makanan di Luar Bumi

Selama ini, makanan untuk astronot sepenuhnya dikirim dari Bumi. Metode tersebut masih memungkinkan untuk misi di orbit rendah, seperti ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), tetapi akan menjadi tidak efisien untuk perjalanan yang lebih jauh seperti ke Bulan atau Mars.

Tantangan utamanya adalah biaya logistik yang sangat tinggi dan keterbatasan daya simpan makanan dalam perjalanan panjang. 

Oleh karena itu, ESA mulai mencari cara agar astronot dapat menghasilkan makanan sendiri di luar Bumi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar mereka, termasuk limbah tubuh.

Urea sebagai Sumber Nitrogen Baru

Salah satu terobosan yang sedang diuji adalah produksi Solein, bubuk protein serbaguna yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi pangan asal Finlandia, Solar Foods. 

Solein dibuat melalui proses fermentasi gas yang melibatkan mikroba, udara, dan listrik. 

Di Bumi, mikroorganisme tersebut mendapatkan nitrogen untuk pembentukan protein dari amonia. Namun, di luar angkasa, ESA berencana mengganti sumber nitrogen itu dengan urea, senyawa organik utama yang terdapat dalam urin manusia.

Penggunaan urea bukan sekadar langkah ekstrem, tetapi bagian dari konsep closed-loop system—sistem kehidupan tertutup di mana setiap limbah diolah kembali menjadi sumber daya baru. 

Dalam konteks antariksa, daur ulang biologis ini sangat penting untuk memastikan keberlangsungan misi jangka panjang tanpa bergantung penuh pada pasokan dari Bumi. 

Dengan memanfaatkan urea, para peneliti berharap dapat menciptakan rantai produksi protein yang efisien dan mandiri.

Uji Mikroba dalam Kondisi Mikrogravitasi

Selama delapan bulan ke depan, Solar Foods akan bekerja sama dengan kontraktor utama OHB System AG untuk mengembangkan teknologi produksi Solein yang sesuai dengan kondisi luar angkasa. 

Eksperimen ini akan menguji apakah mikroba dapat tumbuh dan berfungsi normal dalam lingkungan mikrogravitasi, di mana perilaku gas dan cairan sangat berbeda akibat tidak adanya gaya apung.

Faktor tersebut dapat memengaruhi cara nutrisi dan gas diangkut ke dalam sel mikroba, yang pada akhirnya menentukan keberhasilan proses fermentasi.

Menurut Arttu Luukanen, Wakil Presiden Senior Bidang Antariksa dan Pertahanan di Solar Foods, eksperimen ini merupakan langkah penting dalam sejarah bioteknologi luar angkasa. 

“Tujuan proyek ini adalah memastikan bahwa organisme kami dapat tumbuh di lingkungan luar angkasa sebagaimana di Bumi, serta mengembangkan dasar teknologi fermentasi gas yang dapat diterapkan di luar angkasa—sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” ujarnya.

Kesimpulan

Jika berhasil, proyek ini bukan hanya akan mengubah cara manusia bertahan hidup di luar Bumi, tetapi juga membuka peluang baru bagi sains bioteknologi: bahwa sesuatu yang dianggap limbah seperti urine, dapat menjadi kunci keberlanjutan kehidupan di antariksa. (Space/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik