Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
Dua astronaut NASA, Sunita Williams dan Barry "Butch" Wilmore, menghadapi ketidakpastian terkait jadwal kepulangan mereka dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Kendala ini disebabkan oleh serangkaian penundaan dalam program Boeing CST-100 Starliner yang seharusnya membawa mereka kembali ke Bumi.
Program CST-100 Starliner, yang dikembangkan oleh Boeing dalam kerangka Program Kru Komersial NASA, telah mengalami berbagai masalah teknis yang mengakibatkan penundaan berulang kali.
Baca juga : Ini Perkembangan Nasib Dua Astronot NASA yang Terjebak di Stasiun Luar Angkasa ISS
Awalnya, peluncuran pertama Starliner direncanakan pada tahun 2019, namun hingga kini, peluncuran yang berhasil masih belum terjadi.
Salah satu masalah terbesar yang dihadapi adalah kegagalan misi tanpa awak pada Desember 2019. Dalam misi tersebut, Starliner gagal mencapai orbit yang tepat karena kesalahan pada sistem waktu otomatis.
Sejak itu, Boeing telah bekerja keras untuk memperbaiki dan menguji kembali kapsul mereka, tetapi berbagai hambatan teknis terus muncul, menghambat kemajuan.
Baca juga : Tiga Perusahaan Berebut Bikin Penjelajah Bulan NASA
Sunita Williams dan Barry Wilmore, yang telah berada di ISS selama beberapa bulan, kini menghadapi ketidakpastian mengenai kapan mereka bisa pulang.
Ketidakpastian ini tidak hanya mempengaruhi mereka secara pribadi, tetapi juga berdampak pada operasi dan perencanaan misi di ISS.
NASA sebelumnya berharap bahwa Starliner akan dapat melaksanakan misi awak pertamanya pada awal tahun 2023.
Baca juga : Inilah Sosok Christina Koch, Perempuan Pertama yang Akan Menapaki Bulan
Namun, dengan penundaan terbaru, jadwal ini tampaknya tidak mungkin tercapai. Selain itu, NASA harus mempertimbangkan opsi alternatif untuk membawa pulang astronaut mereka jika penundaan terus berlanjut.
Administrator NASA, Bill Nelson, menyatakan kekecewaannya terhadap penundaan ini, tetapi juga menegaskan bahwa keselamatan astronaut adalah prioritas utama.
"Kami mengerti bahwa penundaan ini mengecewakan, tetapi keselamatan astronaut kami adalah yang terpenting. Kami akan bekerja sama dengan Boeing untuk memastikan bahwa semua masalah teknis diselesaikan sebelum melanjutkan misi," ujar Nelson dalam sebuah pernyataan resmi.
Baca juga : Wah, Wisata Luar Angkasa Perdana NASA Alami Penundaan
Sementara itu, Boeing juga berkomitmen untuk menyelesaikan semua masalah teknis yang ada. Dalam sebuah pernyataan, perusahaan menyatakan,
"Kami memahami betapa pentingnya misi ini dan kami berkomitmen untuk memastikan bahwa Starliner dapat beroperasi dengan aman dan sukses."
Nasib dua astronaut NASA yang tertahan di ISS masih tidak jelas akibat penundaan dalam program Boeing CST-100 Starliner.
Meskipun ini adalah situasi yang sulit, baik NASA maupun Boeing berkomitmen untuk menyelesaikan masalah teknis ini demi keselamatan dan keberhasilan misi di masa depan. (Z-10)
Referensi
Astronom berhasil mengungkap pemicu ledakan dahsyat di Matahari melalui misi Solar Orbiter. Ternyata, solar flare dipicu oleh rangkaian gangguan magnetik kecil.
Astronom berhasil abadikan fase 'remaja' sistem planet yang penuh kekacauan menggunakan teleskop ALMA. Temuan ini jelaskan asal-usul Bulan dan Sabuk Kuiper.
Astronom temukan awan gas logam raksasa yang menyelimuti bintang serupa Matahari. Diduga berasal dari tabrakan antarplanet yang dahsyat.
Apakah Bumi punya ekor seperti Merkurius? Jawabannya ya! Ekor Bumi atau 'magnetotail' membentang 2 juta km, terbentuk dari plasma dan angin matahari. Simak penjelasan lengkap NASA dan ESA.
Pengamatan terbaru teleskop James Webb ungkap permukaan bulan-bulan kecil Uranus yang lebih merah, lebih gelap, dan miskin air dibandingkan satelit besarnya, serta menemukan satu bulan baru.
Melalui proyek baru yang diberi nama HOBI-WAN, ESA tengah menguji kemungkinan memanfaatkan senyawa yang terdapat dalam urine sebagai bahan dasar pembuatan protein untuk pangan antariksa.
Para astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional telah menguji dua teknologi baru guna meningkatkan kemampuan medis di luar angkasa dan mengurangi ketergantungan pada dukungan dari Bumi.
Eksperimen luar angkasa yang dilakukan oleh NASA melalui misi Double Asteroid Redirection Test (DART) menghasilkan temuan penting.
Menurut laporan NASA, asteroid tersebut pertama kali terdeteksi pada 8 Maret 2026. Meski terbilang kecil, pergerakannya tetap dipantau karena lintasannya membawa objek itu melintas
Eksperimen tersebut mendorong asteroid Dimorphos, yang merupakan bulan kecil, ke jalur yang lebih pendek dan lebih cepat mengelilingi saudaranya
James Webb Space Telescope (JWST) berhasil menangkap detail menakjubkan nebula PMR 1 yang menyerupai otak dalam tengkorak. Simak kecanggihan teknologinya.
Dalam misi ini, wahana antariksa Cygnus XL milik Northrop Grumman akan diangkut menggunakan roket Falcon 9 dari SpaceX melalui Space Launch Complex 40 di Cape Canaveral, Florida.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved