Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Saat mengamati hujan meteor Perseid, para pengamat di berbagai wilayah Amerika Serikat (AS) dikejutkan oleh penampakan spiral raksasa cahaya putih redup. Meskipun fenomena ini terlihat jelas, para ahli masih belum sepenuhnya yakin mengenai asal usulnya.
Sekitar pukul 22.30 ET pada Selasa, 12 Agustus, bersamaan dengan puncak meteor Perseid, sebuah titik cahaya redup muncul di langit di beberapa wilayah AS dan Kanada. Titik ini dengan cepat membesar menjadi pusaran cahaya raksasa yang melayang di langit selama sekitar 10 menit sebelum menghilang. Fenomena ini terlihat di setidaknya 10 negara bagian, termasuk Maryland, New York, New Jersey, Illinois, Ohio, dan Nebraska.
Fotografer Joshua Thum berhasil mengabadikan pemandangan menakjubkan ini di atas Observatorium Yerkes di Williams Bay, Wisconsin, sementara astrofotografer Dan Bush merekam spiral cahaya yang bergerak di langit malam Albany, Missouri.
Spiral tersebut terbentuk dari bahan bakar roket yang dibuang saat pesawat ruang angkasa bersiap memasuki kembali atmosfer Bumi. Bahan bakar yang dilepaskan membeku menjadi kristal kecil, memantulkan sinar matahari, sehingga membuatnya bersinar di langit malam hingga kristal tersebut menghilang. Saat roket berputar saat pelepasan, bahan bakar awan kristal membentuk pola spiral yang terlihat spektakuler.
Laporan awal menyebut spiral itu disebabkan oleh roket United Launch Alliance Vulcan Cenatur yang diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, pukul 20:56 ET Selasa, membawa dua satelit militer ke orbit menurut Spaceweather.com. Namun, terungkap bahwa roket Ariane 6 milik Badan Antariksa Eropa juga diluncurkan dari Guyana Prancis yang hanya berjarak 19 menit saja sebelumnya, membawa satelit cuaca Eropa. Situasi ini menimbulkan kebingungan mengenai roket mana yang sebenarnya memicu spiral cahaya tersebut.
Para pengamat dan astronom setuju bahwa spiral cahaya yang terlihat kemungkinan besar berasal dari peluncuran roket, dengan roket Ariane 6 sebagai kandidat terkuat dilihat dari lintasannya. Namun, karena adanya peluncuran lain yang hampir bersamaan, para ahli masih belum dapat memastikan secara pasti roket mana yang memicu spiral tersebut. (Live Science/E-3)
Tahun 2026 menghadirkan supermoon, gerhana matahari dan bulan, hujan meteor, serta parade planet yang sayang dilewatkan.
Pada 12-13 Agustus 2025, langit Indonesia akan dihiasi oleh hujan meteor Perseid yang bisa disaksikan di berbagai wilayah, termasuk belahan selatan Bumi.
Hujan meteor Perseid akan mencapai puncaknya pada 12-13 Agustus 2025 dengan peluang melihat hingga ratusan bintang jatuh.
Hujan meteor Perseid akan menghiasi langit di belahan Bumi Utara mulai 17 Juli hingga 23 Agustus 2025.
Matahari meletuskan ledakan X-Class dan CME raksasa melaju ke Bumi. Badai geomagnetik kuat berpotensi terjadi dalam 24 jam ke depan.
Kilatan cahaya singkat yang muncul di sisi gelap Bulan pada Desember 2025 bukan hanya peristiwa astronomi biasa.
Hambatan terbesar dalam mewujudkan perjalanan antarbintang ternyata bukan terletak pada kapal, mesin, ataupun bahan bakar.
Meski tampak hitam pekat, ruang angkasa jarang benar-benar gelap. Para astronom menjelaskan lokasi-lokasi tergelap di tata surya dan alam semesta.
Peneliti ETH Zurich berhasil mencetak jaringan otot manusia menggunakan teknologi 3D printing di kondisi tanpa gravitasi.
Tiongkok untuk pertama kalinya menghubungi NASA guna mencegah potensi tabrakan satelit di orbit.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved