Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Apa yang Terjadi pada Otak Manusia setelah Tinggal di Luar Angkasa? Ini Temuan Terbarunya

Abi Rama
13/1/2026 13:01
Apa yang Terjadi pada Otak Manusia setelah Tinggal di Luar Angkasa? Ini Temuan Terbarunya
Otak Manusia setelah Tinggal di Luar Angkasa(Freepik)

SEBUAH penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal ilmiah dan dilansir oleh laman PsyPost mengungkap bahwa misi luar angkasa tidak hanya berdampak pada otot dan tulang manusia, tetapi juga memicu perubahan signifikan pada otak dan mata astronot. Menariknya, perubahan tersebut tidak terjadi secara seragam, melainkan menunjukkan perbedaan antara astronot laki-laki dan perempuan.

Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan yang dipimpin Rachael D. Seidler dari University of Florida, AS. Mereka menganalisis data dari 37 astronot yang menjalani misi di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Data tersebut mencakup hasil pemindaian otak menggunakan MRI sebelum dan sesudah penerbangan, serta pemeriksaan mata yang tersimpan dalam basis data kesehatan NASA.

Cairan Otak Bergeser ke Arah Kepala

Dalam kondisi gravitasi Bumi, cairan tubuh cenderung tertarik ke bagian bawah tubuh. Namun, di lingkungan mikrogravitasi luar angkasa, cairan tersebut berpindah ke arah kepala. Pergeseran ini memengaruhi tekanan pada otak dan mata, serta menyebabkan perubahan pada struktur internal otak.

Peneliti mengukur perubahan volume materi abu-abu otak dan jumlah “air bebas”, yakni cairan yang berada di antara sel-sel otak. Hasilnya menunjukkan bahwa astronot perempuan mengalami penurunan volume cairan bebas yang lebih besar di bagian atas otak dibandingkan astronot laki-laki setelah kembali ke Bumi. 

Namun, hingga kini, dampak fungsional dari perubahan tersebut masih belum sepenuhnya dipahami. Sementara itu, faktor usia ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap besarnya perubahan otak akibat misi luar angkasa.

Astronot Pria Lebih Rentan Gangguan Mata

Selain otak, mata juga menjadi organ yang terdampak cukup serius. Penelitian ini menyoroti kondisi yang disebut Spaceflight Associated Neuro-ocular Syndrome (SANS), yaitu gangguan mata yang dapat menyebabkan perubahan bentuk bola mata, pembengkakan saraf optik, hingga gangguan penglihatan.

Data menunjukkan bahwa perubahan mata lebih sering dialami oleh astronot laki-laki. Bahkan, meskipun belum cukup kuat secara statistik untuk bersifat konklusif, laki-laki tercatat lebih dari tiga kali lebih mungkin mengalami SANS dibandingkan perempuan.

Gejala paling umum yang ditemukan adalah perataan bagian belakang bola mata (globe flattening). Dalam lebih dari separuh kasus SANS, perataan bola mata menjadi satu-satunya tanda yang terlihat. Karena itu, para peneliti menyarankan agar indikator ini dijadikan fokus utama dalam pemantauan kesehatan mata astronot.

Otak dan Mata Terdampak lewat Mekanisme Berbeda

Menariknya, para peneliti tidak menemukan hubungan yang kuat antara perubahan struktur otak dengan munculnya gangguan mata. Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan pada otak dan mata kemungkinan dipicu oleh mekanisme biologis yang berbeda, meskipun sama-sama dipengaruhi oleh lingkungan mikrogravitasi.

Meski begitu, para peneliti mengakui bahwa studi ini memiliki keterbatasan, terutama dari segi jumlah sampel dan perbedaan metode pengumpulan data. Namun, temuan ini dinilai penting sebagai langkah awal untuk memahami bagaimana perbedaan biologis individu memengaruhi adaptasi tubuh di luar angkasa.

Seiring rencana eksplorasi jangka panjang ke Bulan dan Mars, pemahaman ini menjadi krusial. Pengetahuan tentang perbedaan respons pria dan perempuan dapat membantu pengembangan strategi perlindungan kesehatan yang lebih personal bagi astronot di masa depan. (Psypost/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya