Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
GAGASAN bahwa suatu hari Bumi akan memiliki 25 jam dalam sehari bukanlah mitos. Secara ilmiah, hal itu memungkinkan. Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa rotasi Bumi terus melambat. Namun yang kerap disalahpahami adalah kecepatannya.
Perubahan ini berlangsung amat lambat, nyaris tak terdeteksi dalam kehidupan manusia. Tidak ada jam yang mendadak meleset, tidak ada kalender yang harus direvisi. Semua terjadi secara halus, terukur dalam puluhan hingga ratusan tahun menggunakan instrumen presisi tinggi.
Ini bukan cerita tentang waktu yang “rusak”, melainkan tentang tarikan gravitasi, pergeseran air, dan pergerakan es yang secara perlahan mengubah ritme planet kita, dalam skala waktu yang jauh melampaui usia manusia.
Kita menganggap satu hari berdurasi 24 jam karena itulah sistem yang mengatur hidup modern. Namun secara astronomis, definisi ini tidak sesederhana itu.
Jika rotasi Bumi diukur terhadap bintang-bintang jauh, bukan Matahari, hasilnya adalah hari sideris, yang sedikit lebih pendek. Perbedaan ini muncul karena selain berputar, Bumi juga bergerak mengelilingi Matahari. Agar Matahari kembali ke posisi yang sama di langit, Bumi harus berputar sedikit lebih lama.
Bahkan hari surya sendiri tidak sepenuhnya stabil. Panjangnya dapat meregang atau menyusut dalam hitungan sangat kecil. Dalam jangka panjang, trennya jelas: hari-hari perlahan menjadi lebih panjang.
Bulan adalah aktor utama dalam proses ini. Gravitasi Bulan menarik lautan Bumi, menciptakan tonjolan pasang surut. Karena gesekan antara air laut dan dasar samudra, tonjolan ini tidak sejajar sempurna dengan Bulan.
Menurut NASA, gesekan tersebut menyedot sedikit energi rotasi Bumi. Akibatnya, putaran planet melambat, sementara Bulan secara bertahap menjauh dari Bumi. Energi tidak hilang, hanya berpindah.
Ibarat kursi putar yang kakinya menyentuh lantai, putaran tetap ada, tetapi kecepatannya perlahan berkurang.
Ya. Penelitian yang didanai NASA, berdasarkan data lebih dari 120 tahun, menunjukkan bahwa mencairnya es, menyusutnya gletser, berkurangnya air tanah, dan naiknya permukaan laut ikut mengubah distribusi massa Bumi.
Ketika es mencair atau air berpindah dari daratan ke samudra, keseimbangan planet berubah. Hal ini menyebabkan gerak kutub (polar motion), pergeseran kecil sumbu rotasi, serta memperpanjang durasi hari, meski hanya dalam jumlah yang sangat kecil.
Sejak sekitar tahun 2000, laju perubahan ini meningkat. Para peneliti mengaitkannya dengan percepatan hilangnya es di Greenland dan Antartika akibat emisi gas rumah kaca.
Dulu, ilmuwan melacak rotasi Bumi dengan mengamati pergerakan bintang. Kini, metode yang digunakan jauh lebih presisi: analisis sinyal radio dari kuasar jauh hingga pemantulan laser ke satelit untuk mengukur posisinya secara akurat.
Dengan bantuan pembelajaran mesin, para peneliti memisahkan berbagai penyebab gerak kutub selama 12 dekade terakhir. Mayoritas fluktuasi berkaitan dengan es, air tanah, gletser, dan laut, sementara sebagian kecil berasal dari proses internal Bumi.
Beberapa pola berulang setiap sekitar 25 tahun, sementara yang lain menunjukkan tren jangka panjang.
Tidak sepenuhnya. Siklus alami iklim telah lama memengaruhi rotasi Bumi. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, aktivitas manusia mempercepat hilangnya massa es dan air tanah, sehingga menambah efek yang sudah ada.
Para ilmuwan menegaskan bahwa alam dan aktivitas manusia kini bekerja bersamaan, menggeser keseimbangan planet secara perlahan namun nyata.
Di sinilah sensasi berita sering kehilangan konteks. Tidak ada tanggal yang bisa ditandai di kalender. Berdasarkan pemahaman sistem Bumi-Bulan saat ini, mencapai satu hari berdurasi 25 jam kemungkinan membutuhkan waktu sekitar 200 juta tahun.
Jarak waktunya begitu jauh sehingga tidak berdampak praktis bagi manusia modern. Gagasannya benar, tetapi skalanya nyaris tak terbayangkan.
Untuk saat ini, perubahan panjang hari hanya terjadi dalam hitungan milidetik, sunyi, perlahan, dan hampir tak terasa. (Times of India/Z-10)
Sejak jutaan tahun lalu, rotasi Bumi terus mengalami perlambatan. Perlambatan ini terjadi akibat tarikan gravitasi Bulan yang menciptakan gaya pasang surut, berfungsi seperti rem alami.
Simak penjelasan lengkap matahari terbit di sebelah mana menurut fakta sains rotasi bumi serta pandangan Islam mengenai fenomena terbit dari barat.
Meskipun pergeseran 80 cm tidak akan menyebabkan perubahan dramatis dalam kehidupan sehari-hari (seperti perubahan cuaca instan), penemuan ini adalah peringatan keras.
Selasa, 5 Agustus 2025, dunia mencatat salah satu hari terpendek sepanjang sejarah rotasi Bumi.
5 Agustus hari terpendek 2025 karena rotasi Bumi lebih cepat. Simak penyebab, fakta, dan dampaknya pada sistem waktu global!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved