Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Benarkah Bumi Akan Mengalami Hari 25 Jam? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Muhammad Ghifari A
30/12/2025 13:30
Benarkah Bumi Akan Mengalami Hari 25 Jam? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Rotasi bumi memungkinkan adanya waktu di bumi 25 jam.(Dok. Ampproject)

GAGASAN bahwa suatu hari Bumi akan memiliki 25 jam dalam sehari bukanlah mitos. Secara ilmiah, hal itu memungkinkan. Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa rotasi Bumi terus melambat. Namun yang kerap disalahpahami adalah kecepatannya.

Perubahan ini berlangsung amat lambat, nyaris tak terdeteksi dalam kehidupan manusia. Tidak ada jam yang mendadak meleset, tidak ada kalender yang harus direvisi. Semua terjadi secara halus, terukur dalam puluhan hingga ratusan tahun menggunakan instrumen presisi tinggi.

Ini bukan cerita tentang waktu yang “rusak”, melainkan tentang tarikan gravitasi, pergeseran air, dan pergerakan es yang secara perlahan mengubah ritme planet kita, dalam skala waktu yang jauh melampaui usia manusia.

Kita menganggap satu hari berdurasi 24 jam karena itulah sistem yang mengatur hidup modern. Namun secara astronomis, definisi ini tidak sesederhana itu.

Jika rotasi Bumi diukur terhadap bintang-bintang jauh, bukan Matahari, hasilnya adalah hari sideris, yang sedikit lebih pendek. Perbedaan ini muncul karena selain berputar, Bumi juga bergerak mengelilingi Matahari. Agar Matahari kembali ke posisi yang sama di langit, Bumi harus berputar sedikit lebih lama.

Bahkan hari surya sendiri tidak sepenuhnya stabil. Panjangnya dapat meregang atau menyusut dalam hitungan sangat kecil. Dalam jangka panjang, trennya jelas: hari-hari perlahan menjadi lebih panjang.

Bulan adalah aktor utama dalam proses ini. Gravitasi Bulan menarik lautan Bumi, menciptakan tonjolan pasang surut. Karena gesekan antara air laut dan dasar samudra, tonjolan ini tidak sejajar sempurna dengan Bulan.

Menurut NASA, gesekan tersebut menyedot sedikit energi rotasi Bumi. Akibatnya, putaran planet melambat, sementara Bulan secara bertahap menjauh dari Bumi. Energi tidak hilang, hanya berpindah.

Ibarat kursi putar yang kakinya menyentuh lantai, putaran tetap ada, tetapi kecepatannya perlahan berkurang.

Apakah Perubahan Iklim Ikut Memengaruhi Rotasi Bumi?

Ya. Penelitian yang didanai NASA, berdasarkan data lebih dari 120 tahun, menunjukkan bahwa mencairnya es, menyusutnya gletser, berkurangnya air tanah, dan naiknya permukaan laut ikut mengubah distribusi massa Bumi.

Ketika es mencair atau air berpindah dari daratan ke samudra, keseimbangan planet berubah. Hal ini menyebabkan gerak kutub (polar motion), pergeseran kecil sumbu rotasi, serta memperpanjang durasi hari, meski hanya dalam jumlah yang sangat kecil.

Sejak sekitar tahun 2000, laju perubahan ini meningkat. Para peneliti mengaitkannya dengan percepatan hilangnya es di Greenland dan Antartika akibat emisi gas rumah kaca.

Bagaimana Perubahan Ini Diukur?

Dulu, ilmuwan melacak rotasi Bumi dengan mengamati pergerakan bintang. Kini, metode yang digunakan jauh lebih presisi: analisis sinyal radio dari kuasar jauh hingga pemantulan laser ke satelit untuk mengukur posisinya secara akurat.

Dengan bantuan pembelajaran mesin, para peneliti memisahkan berbagai penyebab gerak kutub selama 12 dekade terakhir. Mayoritas fluktuasi berkaitan dengan es, air tanah, gletser, dan laut, sementara sebagian kecil berasal dari proses internal Bumi.

Beberapa pola berulang setiap sekitar 25 tahun, sementara yang lain menunjukkan tren jangka panjang.

Apakah Manusia Sepenuhnya Bertanggung Jawab?

Tidak sepenuhnya. Siklus alami iklim telah lama memengaruhi rotasi Bumi. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, aktivitas manusia mempercepat hilangnya massa es dan air tanah, sehingga menambah efek yang sudah ada.

Para ilmuwan menegaskan bahwa alam dan aktivitas manusia kini bekerja bersamaan, menggeser keseimbangan planet secara perlahan namun nyata.

Kapan Hari 25 Jam Terjadi?

Di sinilah sensasi berita sering kehilangan konteks. Tidak ada tanggal yang bisa ditandai di kalender. Berdasarkan pemahaman sistem Bumi-Bulan saat ini, mencapai satu hari berdurasi 25 jam kemungkinan membutuhkan waktu sekitar 200 juta tahun.

Jarak waktunya begitu jauh sehingga tidak berdampak praktis bagi manusia modern. Gagasannya benar, tetapi skalanya nyaris tak terbayangkan.

Untuk saat ini, perubahan panjang hari hanya terjadi dalam hitungan milidetik, sunyi, perlahan, dan hampir tak terasa. (Times of India/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya