Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTANYAAN mendasar mengenai matahari terbit di sebelah mana sering kali diajukan, baik dalam konteks pembelajaran geografi dasar maupun dalam diskusi teologis yang lebih mendalam. Secara faktual dan ilmiah yang berlaku saat ini, matahari selalu terbit dari ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat. Fenomena ini terjadi akibat rotasi Bumi pada porosnya yang bergerak dari arah barat ke timur. Namun, pembahasan ini menjadi sangat menarik ketika dikaitkan dengan eskatologi Islam, di mana terdapat nubuat bahwa suatu saat nanti matahari akan terbit dari arah sebaliknya.
Artikel ini akan mengupas tuntas fenomena tersebut dengan menggunakan pendekatan Skyscraper Technique, menggabungkan fakta sains astronomi terkini dengan dalil-dalil agama yang valid, guna memberikan pemahaman yang komprehensif bagi pembaca.
Secara astronomis, apa yang kita lihat sebagai gerak semu harian matahari adalah akibat dari perputaran Bumi. Bumi berotasi pada sumbunya dengan kemiringan sekitar 23,5 derajat. Periode rotasi ini memakan waktu sekitar 23 jam, 56 menit, dan 4 detik. Karena Bumi berputar melawan arah jarum jam (jika dilihat dari kutub utara), maka bagi pengamat di permukaan Bumi, benda-benda langit termasuk matahari, bulan, dan bintang-bintang tampak bergerak dari timur ke barat.
Oleh karena itu, jawaban ilmiah standar untuk pertanyaan "matahari terbit di sebelah mana" adalah sebelah Timur. Hal ini berlaku universal di seluruh permukaan planet ini, meskipun waktu terbitnya berbeda-beda tergantung pada garis bujur dan musim.
Dalam ajaran Islam, keteraturan alam semesta ini dipercaya akan mengalami perubahan drastis menjelang hari akhir atau Kiamat. Salah satu tanda besar (Kiamat Kubra) yang paling masyhur adalah fenomena matahari yang tidak lagi terbit dari timur, melainkan dari tempat tenggelamnya (barat).
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang artinya: "Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari sebelah barat. Jika ia telah terbit, lalu manusia menyaksikannya, maka semua orang akan beriman, namun pada hari itu tidak lagi berguna keimanan seseorang yang belum beriman sebelum itu..."
Peristiwa ini berkaitan erat dengan tertutupnya pintu tobat. Allah SWT telah memberikan isyarat mengenai datangnya tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar dalam Al-Qur'an.
Meskipun Al-Qur'an tidak secara eksplisit menyebutkan frasa "matahari terbit dari barat" dalam teks ayatnya, para mufassir sepakat bahwa ayat 158 dari Surat Al-An'am merujuk pada peristiwa tersebut. Berikut adalah bunyi ayat yang menjelaskan bahwa ketika tanda-tanda tertentu datang, iman seseorang tidak lagi bermanfaat jika ia belum beriman sebelumnya:
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ
Artinya: "Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat (tanda-tanda) Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: 'Tunggulah olehmu sesungguhnya Kamipun menunggu (pula)'."
Dalam tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa frasa "datangnya beberapa ayat Tuhanmu" dalam Surat Al-An'am ayat 158 tersebut ditafsirkan oleh Rasulullah SAW sebagai terbitnya matahari dari barat.
Menariknya, sains modern mulai menemukan teori-teori yang memungkinkan terjadinya perubahan arah rotasi atau perubahan kutub magnet bumi yang bisa diasosiasikan dengan fenomena ini, meskipun masih dalam ranah hipotesis atau kejadian jangka sangat panjang. Beberapa teori tersebut meliputi:
Menjawab pertanyaan matahari terbit di sebelah mana memerlukan pemahaman dua dimensi. Dalam kondisi normal dan hukum alam yang berlaku saat ini (Sunnatullah), matahari terbit di sebelah Timur. Namun, sebagai umat beragama, kita juga meyakini nubuat bahwa kelak matahari akan terbit dari sebelah Barat sebagai tanda berakhirnya kehidupan dunia.
Fenomena ini mengajarkan kita untuk tidak hanya memahami alam semesta dari kacamata sains semata, tetapi juga mempersiapkan diri secara spiritual sebelum pintu kesempatan (tobat) tertutup rapat. (Z-10)
Sejak jutaan tahun lalu, rotasi Bumi terus mengalami perlambatan. Perlambatan ini terjadi akibat tarikan gravitasi Bulan yang menciptakan gaya pasang surut, berfungsi seperti rem alami.
Gagasan bahwa suatu hari Bumi akan memiliki 25 jam dalam sehari bukanlah mitos. Secara ilmiah, hal itu memungkinkan.
Meskipun pergeseran 80 cm tidak akan menyebabkan perubahan dramatis dalam kehidupan sehari-hari (seperti perubahan cuaca instan), penemuan ini adalah peringatan keras.
Selasa, 5 Agustus 2025, dunia mencatat salah satu hari terpendek sepanjang sejarah rotasi Bumi.
5 Agustus hari terpendek 2025 karena rotasi Bumi lebih cepat. Simak penyebab, fakta, dan dampaknya pada sistem waktu global!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved