Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
GERHANA Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Bulan, satelit alami Bumi, perlahan namun pasti terus menjauh. Proses kosmik yang sudah berlangsung miliaran tahun ini kini mulai mengarah pada satu konsekuensi besar, suatu hari nanti, gerhana Matahari total akan lenyap dari Bumi.
Menurut data reflektor laser yang dipasang dalam misi Apollo, jarak Bulan dari Bumi bertambah rata-rata 3,8 sentimeter setiap tahun. Penyebabnya adalah tarikan gravitasi dan interaksi pasang surut antara keduanya.
Gravitasi Bulan menciptakan gelombang pasang di lautan Bumi. Sementara rotasi Bumi yang lebih cepat secara perlahan mentransfer energi ke Bulan, mendorongnya semakin jauh ke orbit luar.
Saat ini, Bulan berada pada jarak rata-rata sekitar 384.400 kilometer. Jarak “pas” inilah yang memungkinkan Bulan tampak sama besar dengan Matahari di langit, sehingga dapat menutupi cakram Matahari sepenuhnya dan menciptakan gerhana total.
Namun jarak itu tidak akan bertahan.
Seiring Bulan makin menjauh, ukuran tampaknya di langit akan mengecil. Pada titik tertentu, Bulan tidak lagi cukup besar untuk menutup Matahari sepenuhnya.
Para astronom memperkirakan bahwa dalam 600 hingga 700 juta tahun ke depan, gerhana Matahari total tidak akan lagi terjadi. Bumi hanya akan mengalami gerhana cincin, ketika Matahari tampak seperti lingkaran cahaya terang mengelilingi siluet Bulan.
Fenomena itu sebenarnya sudah bisa diamati sekarang, ketika Bulan berada di titik terjauh orbitnya, yang disebut apogee.
Meski terdengar dramatis, perubahan ini berlangsung sangat lambat dan tidak berdampak langsung bagi kehidupan manusia hari ini. Namun bagi ilmu pengetahuan, hilangnya gerhana total adalah kehilangan besar.
Gerhana total adalah momen langka ketika ilmuwan bisa mempelajari korona Matahari, lapisan atmosfer terluar yang biasanya tersembunyi oleh silau fotosfer. Banyak penemuan penting tentang struktur dan suhu korona berasal dari pengamatan selama gerhana total.
Lebih jauh lagi, dinamika menjauhnya Bulan juga memengaruhi Bumi: rotasi planet ini melambat, sehingga panjang hari perlahan bertambah.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tata surya bukan sistem yang statis. Langit yang kita kenal hari ini terus berubah.
Gerhana Matahari total yang kita nikmati sekarang hanyalah “jendela singkat” dalam skala kosmik, sebuah kebetulan astronomi yang tidak akan berlangsung selamanya. (NASA/Z-10)
Sayangnya, Gerhana Matahari Cincin sempurna kali ini tidak melewati wilayah Indonesia dan hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika.
Geminid dikenal menghasilkan meteor yang bergerak lebih lambat dan terkadang berwarna-warni. Fenomena ini dapat dinikmati dengan baik oleh pengamat di wilayah Asia Tenggara
Fenomena-fenomena ini dapat disaksikan di berbagai belahan dunia, termasuk sebagian wilayah Asia dan Indonesia untuk beberapa peristiwa.
Langit berwarna oranye pekat terlihat di sejumlah wilayah Jawa Timur dan sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Hujan meteor Geminid akan mencapai puncaknya pada malam 13-14 Desember 2025 (Sabtu-Minggu). Fenomena astronomi tahunan ini bisa disaksikan dari berbagai belahan duni
Peneliti ungkap reaksi unik hewan di padang rumput saat Gerhana Matahari Total April 2024 melalui rekaman suara. Apakah alam benar-benar menjadi sunyi?
FENOMENA langit Gerhana Matahari Cincin (GMC) dijadwalkan akan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026. Peristiwa yang sering dijuluki sebagai "Cincin Api" atau Ring of Fire.
Pahami perbedaan gerhana matahari total, cincin, dan sebagian. Pelajari proses terjadinya, penyebab ilmiah, dan cara aman mengamatinya secara mendalam.
Fenomena astronomi langka akan kembali terjadi: Gerhana Matahari Total diprediksi melintasi sejumlah wilayah Eropa hingga kawasan Arktik pada 12 Agustus 2026.
Fenomena astronomi langka akan kembali menghiasi langit dunia. Gerhana Matahari Total terlama pada abad ke-21 dipastikan terjadi pada 2 Agustus 2027.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved