Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Gerhana Matahari Cincin 17 Februari: Bisakah Disaksikan di Indonesia?

Asha Bening Rembulan
11/2/2026 21:14
Gerhana Matahari Cincin 17 Februari: Bisakah Disaksikan di Indonesia?
Gerhana Matahari Cincin 17 Februari.(Dok. EarthSky)

PADA 17 Februari bertepatan dengan kemunculan Bulan baru. Momen ini juga diramaikan perayaan Tahun Baru Imlek dan bersiapnya sebagian umat menyambut Ramadan. Namun, ada fenomena langit lain yang menarik: gerhana Matahari cincin.

Gerhana ini akan tampak sebagai gerhana sebagian di sejumlah wilayah, termasuk Amerika Selatan, Afrika bagian selatan, serta wilayah perairan Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia, dan tentu saja sebagian besar Antartika. Secara keseluruhan, gerhana berlangsung sekitar 271 menit, dengan fase maksimum “cincin api” selama 2 menit 20 detik.

Jalur dan Waktu Puncak Gerhana

Jalur gerhana Matahari cincin hanya melintasi kawasan terpencil Antartika.

  • Mulai: 16.56 WIB
  • Puncak: 19.12 WIB (menutupi hingga 96% piringan Matahari)
  • Berakhir: 21.27 WIB (berakhir sebagai gerhana parsial)

Sayangnya, gerhana Matahari cincin ini tidak dapat disaksikan dari Indonesia. Meski begitu, publik masih bisa menantikan fenomena lain, yakni gerhana Bulan total pada 3 Maret 2026.

Proses Terjadinya Gerhana Matahari Cincin

Gerhana Matahari cincin terjadi ketika Bulan berada di titik terjauh dari Bumi, yang disebut apogee, sehingga ukuran Bulan tampak sedikit lebih kecil. Saat Bulan melintas tepat di depan Matahari dalam kondisi ini, bayangan umbra tidak mencapai permukaan Bumi. Akibatnya, Bulan tidak menutupi Matahari sepenuhnya dan menyisakan lingkaran cahaya di tepinya, menciptakan efek “cincin api.”

Gerhana Matahari cincin berbeda dari gerhana Matahari total karena tidak memiliki fase totalitas (ketika Matahari tertutup penuh). Itulah sebabnya, melihatnya dengan mata telanjang tetap sangat berbahaya.

Peringatan Keselamatan

Gerhana Matahari cincin tidak aman dilihat tanpa pelindung mata khusus dengan filter Matahari. Bahkan saat gerhana, paparan radiasi ultraviolet dan inframerah tetap berisiko, tidak ada “dosis aman” untuk mata. Paparan sekecil apa pun dapat menyebabkan kerusakan penglihatan.

Penting: Jangan mengamati gerhana melalui kamera, teleskop, teropong, atau perangkat optik apa pun, meskipun memakai kacamata gerhana, karena risikonya meningkat tajam. (BarthSky, NASA, Time and Date/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya