Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
TAHUN 2026 menjadi salah satu periode paling menarik bagi pengamat langit, baik pemula maupun penggemar astronomi. Sepanjang tahun, langit malam akan dihiasi berbagai fenomena langka dan fotogenik, mulai dari supermoon, parade planet, hujan meteor Perseid tanpa gangguan cahaya bulan, hingga gerhana matahari total.
Fenomena-fenomena ini dapat disaksikan di berbagai belahan dunia, termasuk sebagian wilayah Asia dan Indonesia untuk beberapa peristiwa. Mengutip laman National Geographic, Berikut rangkuman deretan peristiwa astronomi utama sepanjang 2026 yang sayang untuk dilewatkan.
Tahun 2026 dibuka dengan supermoon pada tanggal 3 Januari. Bulan purnama tampak lebih besar dan terang karena berada di titik terdekatnya dengan Bumi atau perigee. Fenomena ini semakin menarik karena muncul berdekatan dengan Jupiter, planet terbesar di tata surya.
Tak lama berselang, pada 10 Januari, Jupiter mencapai titik oposisi, yaitu posisi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Jupiter. Kondisi ini membuat Jupiter tampak paling terang dan besar, serta dapat terlihat sepanjang malam di rasi Gemini. Penampakan Jupiter di titik ini baru akan terulang kembali pada 2027.
Pada pekan terakhir Februari, langit sore dihiasi kesejajaran enam planet atau yang dikenal sebagai planet parade. Venus, Merkurius, dan Saturnus tampak berdekatan di ufuk barat sesaat setelah matahari terbenam dan dapat dilihat tanpa alat bantu.
Sementara itu, Neptunus berada di sekitar area yang sama, namun membutuhkan teleskop untuk mengamatinya. Fenomena ini menjadi salah satu momen terbaik untuk melihat beberapa planet sekaligus dalam satu pandangan, terutama bagi pengamat langit pemula.
Pada dini hari, tanggal 3 Maret, terjadi gerhana bulan total yang membuat bulan tampak berwarna merah-oranye, dikenal sebagai blood moon. Warna ini muncul akibat cahaya Matahari yang dibiaskan atmosfer Bumi sebelum mencapai permukaan bulan.
Gerhana ini dapat diamati di sebagian besar Amerika, Samudra Pasifik, Asia, dan Oseania. Beberapa wilayah bahkan dapat menyaksikan gerhana secara utuh dari awal hingga akhir. Selain gerhana total ini, masih ada gerhana bulan sebagian pada 27–28 Agustus, meski tanpa efek bulan merah sepenuhnya.
Ekuinoks musim semi pada 20 Maret tidak hanya menandai durasi siang dan malam yang sama, tetapi juga sering dikaitkan dengan meningkatnya aktivitas aurora. Hal ini diduga berkaitan dengan posisi kemiringan Bumi terhadap Matahari.
Kondisi ini diperkuat oleh siklus aktivitas Matahari yang sedang tinggi sejak 2024-2025 dan masih berlanjut hingga 2026. Kombinasi tersebut meningkatkan peluang munculnya aurora yang lebih terang dan meluas, terutama di wilayah lintang tinggi.
Pada malam 8 dan 9 Juni, Venus dan Jupiter tampak sangat berdekatan di langit barat, hanya terpisah sekitar satu derajat. Pemandangan ini terlihat jelas dengan mata telanjang dan diprediksi menjadi salah satu konjungsi planet paling mencolok pada tahun 2026.
Beberapa hari kemudian, tepatnya 17 Juni, kedua planet tersebut sejajar dengan Merkurius dan bulan sabit, menciptakan konfigurasi langit yang sangat fotogenik.
Pada 7 Agustus, bulan sabit akan melintas di depan gugus bintang Pleiades. Fenomena yang disebut okultasi ini membuat bintang-bintang Pleiades seolah “menghilang” satu per satu di balik bulan, lalu muncul kembali menjelang fajar.
Peristiwa serupa kembali terjadi pada 27 Oktober, kali ini dapat diamati sesaat setelah matahari terbenam. Okultasi menjadi momen penting bagi astronom karena membantu pengukuran posisi dan pergerakan benda langit secara presisi.
Puncak fenomena astronomi 2026 terjadi pada 12 Agustus, saat gerhana matahari total melintasi Samudra Arktik, Greenland timur, Islandia barat, sebagian kecil Portugal, dan Spanyol utara. Di jalur totalitas, siang hari berubah menjadi senja selama satu hingga dua menit.
Meski durasinya singkat dibandingkan gerhana 2024 di Amerika Utara, peristiwa ini sangat istimewa karena menjadi gerhana matahari total pertama yang melintasi daratan utama Eropa sejak 1999. Penggunaan kacamata atau filter matahari wajib dilakukan, kecuali saat fase totalitas.
Malam 12-13 Agustus juga menjadi puncak hujan meteor Perseid. Tahun ini, kondisi pengamatan sangat ideal karena bertepatan dengan fase bulan baru. Dari lokasi gelap, pengamat berpeluang menyaksikan hingga sekitar 90 meteor per jam.
Perseid aktif sejak pertengahan Juli hingga awal September, dengan waktu terbaik pengamatan dari tengah malam hingga menjelang fajar. Meteor sangat terang atau fireball juga berpotensi muncul selama periode ini.
Supermoon kedua muncul pada 25 November, disusul supermoon terdekat dan terbesar tahun ini pada 23 Desember. Bulan purnama akhir tahun dikenal sebagai cold moon dan tampak sangat dramatis saat terbit di awal malam.
Menjelang akhir Desember, deretan planet, seperti Mars, Jupiter, Uranus, Saturnus, dan Neptunus akan tampak bersamaan di langit malam. Pada 25 dan 26 Desember, Mars, Jupiter, dan bulan membentuk garis diagonal di ufuk timur.
Sumber: NatGeo.
Geminid dikenal menghasilkan meteor yang bergerak lebih lambat dan terkadang berwarna-warni. Fenomena ini dapat dinikmati dengan baik oleh pengamat di wilayah Asia Tenggara
Langit berwarna oranye pekat terlihat di sejumlah wilayah Jawa Timur dan sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Hujan meteor Geminid akan mencapai puncaknya pada malam 13-14 Desember 2025 (Sabtu-Minggu). Fenomena astronomi tahunan ini bisa disaksikan dari berbagai belahan duni
Informasi ini membantu ilmuwan memahami masa depan aktivitas tektonik, kestabilan medan magnet, dan bagaimana Bumi terus berubah dari waktu ke waktu.
Meteor dapat terlihat menyala sepanjang langit, tetapi jumlahnya terlihat paling banyak saat konstelasi Geminid sudah tinggi di langit sekitar tengah malam hingga 02.00-03.00 WIB.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved