Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Dilarang Bicara, Roy Suryo Cs Walk Out dari Audiensi Komisi Reformasi Polri

Siti Yona Hukmana
19/11/2025 12:32
Dilarang Bicara, Roy Suryo Cs Walk Out dari Audiensi Komisi Reformasi Polri
Pakar Telematika Roy Suryo bersama Rismon Sianipar.(Medcom/Siti Yona Hukmana)

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang juga Pakar Telematika Roy Suryo Cs keluar alias walk out dari audiensi Komisi Percepatan Reformasi Polri di Gedung STIK-PTIK, Jakarta Selatan. Mereka keluar karena tidak boleh berbicara oleh Ketua Komisi Jimly Asshiddiqie.

Pakar hukum tata negara Refli Harun mengatakan sejatinya ada 18 orang yang tertera dalam undangan audiensi oleh Komisi Percepatan Reformasi Polri. Namun, mulanya nama Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar, dan Dokter Tifauziah Tyassuma tidak ada.

Kemudian, Refli Harun mengajukan nama ketiga tokoh itu kepada Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri Jimly Asshiddiqie beberapa waktu lalu. Profesor Jimly memperbolehkan. 

Namun, pada Selasa malam, 18 November, Jimly melarang mengajak ketiga tokoh itu karena berstatus tersangka kasus dugaan pencemaran nama baik dan fitnah atas perkara dugaan kepemilikan ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) di Polda Metro Jaya.

Meski demikian, Refli Harun tetap mengajak Roy Suryo, ahli digital forensik Rismon Hasiholan Sianipar, dan Dokter Tifa untuk menghadiri audiensi di STIK-PTIK, Jakarta Selatan. Refli menyebut mantan Kapolri Jenderal (Purn) Idham Azis selaku anggota tim Komisi Percepatan Reformasi Polri keberatan, dengan alasan tersangka tidak boleh ikut.

"Tapi ada opsinya keluar, ada juga opsi duduk di belakang tapi tidak ngomong. Tadi berdasarkan solidaritas kita, kalau RRT (Roy, Rismon, Tifa) keluar, maka kita keluar. Ini menunjukan solider teradap kasus ini," kata Refli Harun di STIK-PTIK, Jakarta Selatan, hari ini.

Refli mengatakan memang pertemuan ini tidak khusus membahas soal ijazah palsu, ada juga undangan lainnya dari purnawirawan TNI. Meski demikian, isu ijazah Jokowi banyak diperbincangkan akhir ini dan perlu dibahas bersama Komisi Reformasi Polri

Terlebih, ia menduga ada kriminalisasi dalam penetapan tersangka rekannya Roy Suryo, Rismon, dan Dokter Tifa.

"Kok di tengah adanya gelombang untuk adanya reformasi masih ada kasus-kasus seperti ini. Saya kan sering kali mengatakan, negara yang mentersangkakan atau mempidanakan orang berpendapat apalagi dengan penelitian dan lain sebagainya, itu negara yang demokrasinya sontoloyo," tekan Refli.

Sementara itu, Roy Suryo mengatakan kehadirannya dengan Rismon dan Dokter Tifa bukan untuk mengecilkan tim Komisi Percepatan Reformasi Polri. Ia mengaku datang atas nama pribadi. Namun, Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri Jimly Asshiddiqie disebut memberikan opsi tetap duduk di dalam tapi tidak boleh berbicara atau keluar.

"Nah, karena pilihan itu maka kami sepakat. Tadinya saya juga bilang, “Mau di dalam aja gimana?” Tapi karena teman-teman bilang, “Keluar aja.” Oke. Maka kami sepakat untuk walk out ya. Jadi kami sekarang serahkan kepada masyarakat apa penilaian masyarakat pada tim yang harusnya menerima kami selaku semua yang ada," kata Roy Suryo.

Di sisi lain, Roy Suryo mengaku tidak lega memutuskan untuk keluar. Sebab, di dalam audiensi ada Wakil Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Otto Hasibuan selaku anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri. Selain anggota, Otto juga berhubungan langsung dengan pelapor kasus ijazah palsu Jokowi. Yakni putranya Yakup Hasibuan merupakan pengacara Jokowi.

"Jadi saya kira itu aja. Jadi kami keluar itu karena WO ya kami walk out, kami memutuskan bahwa kami keluar. Kami diberi kesempatan untuk duduk di dalam. Tapi ya kami menyatakan kami bersikap kami keluar. Sekian, terima kasih," pungkas Roy.

Adapun, Komisi Percepatan Reformasi Polri kembali menggelar audiensi hari ini di Gedung STIK-PTIK, Jakarta Selatan dengan mengundang purnawirawan TNI dan masyarakat sipil. Ini merupakan audiensi kedua, setelah sebelumnya audiensi menyerap aspirasi dari Gerakan Nurani Bangsa (GNB) untuk membuat Polri lebih baik. (Yon/P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik