Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

ICW Desak Pemerintah Buka Kajian Awal Whoosh Secara Transparan

Devi Harahap
14/11/2025 14:29
ICW Desak Pemerintah Buka Kajian Awal Whoosh Secara Transparan
Kereta Cepat Whoosh .(MI/Usman Iskandar)

INDONESIA Corruption Watch (ICW) mendesak pemerintah segera menyelesaikan persoalan pembengkakan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh kepada China yang kini mencapai Rp116 triliun. 

Peneliti ICW, Almas Sjafrina menilai transparansi dan evaluasi menyeluruh diperlukan agar persoalan utang Whoosh tidak semakin membebani keuangan negara di masa mendatang.

“Yang membuat bingung kok sekarang baru ribut gimana cara bayarnya, ini harusnya sudah dipikirkan sebelum programnya, proyeknya jalan,” ujar Almas dalam keterangannya, Jumat (14/11).

ICW menilai, sejak awal pemerintah belum matang dalam perencanaan proyek strategis nasional, sehingga masalah utang baru disadari setelah pembangunan berjalan.

“Sebetulnya, ini menunjukkan bagaimana pemerintah kita itu belum matang di level perencanaan, persiapan udah jalan duluan,” tukasnya.

Selain itu, Almas menjelaskan bahwa lemahnya perencanaan turut menyebabkan kesalahan proyeksi pendapatan dari Whoosh yang sebelumnya diharapkan dapat membantu pembayaran utang.

“Makanya, ada penghitungan yang meleset, berapa sih proyeksi pendapatan dari Whoosh yang harapannya itu bisa membantu untuk membayar ke China dan sebagainya,” jelasnya.

Menurut Almas, proyek sebesar Whoosh seharusnya disusun dengan kajian komprehensif, mulai dari kebutuhan transportasi, target penumpang, hingga proyeksi ekonomi jangka panjang.

“(Kajian) soal kebutuhannya, siapa target penumpangnya. Padahal, kalau perencanaan beres, 50 persen pekerjaan itu sudah selesai,” tegasnya.

Di samping itu, ICW meminta pemerintah membuka hasil kajian awal proyek kereta cepat kepada publik, mengingat pendanaan proyek ini mengandalkan pinjaman luar negeri dalam jumlah besar.

“Soal Jakarta-Bandung ini kan ada opsi transportasi publik ya. Ada kereta, travel, dan segala macam. Mobil pribadi cuma berapa jam, jadi kan harus melewati hitung-hitungan yang rigid,” kata Almas.

Ia mengakui bahwa Whoosh memberikan manfaat positif dalam mempercepat mobilitas dan memperkuat konektivitas antardaerah. Namun ia menegaskan bahwa proyek berbasis utang harus direncanakan dengan penuh kehati-hatian.

“Orientasi atau pertimbangan untuk mengeluarkan kebijakan yang ada dampak jangka panjangnya, apalagi utang, itu harus rigid bener tuh persiapan dan kajiannya,” pungkasnya. (Dev/P-2) 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eksa
Berita Lainnya