Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Reklamasi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
16/4/2016 06:01
Reklamasi
(ANTARA FOTO/Agus Suparto)

DIALOG program Economic Challenges, Selasa lalu, memunculkan fakta menarik berkaitan reklamasi pantai utara Jakarta. Karena pembicaranya para ilmuwan, mereka punya jarak dengan persoalan dan tidak punya kepentingan. Fakta pertama yang menarik ialah pencemaran di pantai utara Jakarta sudah sedemikian parahnya. Oleh karena itu, diperlukan pembenahan agar pantai utara Jakarta tidak menjadi comberan raksasa. Namun, yang dibutuhkan sebenarnya bukanlah reklamasi, melainkan rehabilitasi. Fakta kedua, reklamasi jadi pilihan dan bahkan sudah dilakukan oleh beberapa pengembang. Seharusnya analisis mengenai dampak lingkungan tidak dilakukan per pulau reklamasi, tetapi satu yang menyeluruh. Yang melakukan amdal bukan pengembang, melainkan pemerintah. Dengan 17 pulau reklamasi yang akan dibangun, setidaknya ada 29 model yang harus dikaji. Hal itu diperlukan agar kita mengenali perubahan pola arus laut yang akan terjadi akibat reklamasi.

Dengan itu kita bisa menjaga agar biota lautnya tidak berubah total. Fakta ketiga, reklamasi di banyak negara dilakukan oleh negara. Di Singapura hanya reklamasi di bawah 50 hektare yang bisa dilakukan swasta. Pengalaman di Hong Kong, ketika reklamasi diberikan langsung kepada swasta selalu memunculkan praktik kolusi. Fakta keempat, negara seharusnya mempunyai visi jelas tentang reklamasi yang hendak dilakukan. Dengan itulah kemudian aturan kebijakannya dipersiapkan. Bahkan kebijakan zonasi harus terlebih dulu ditetapkan agar reklamasi bermanfaat. Jangan sebaliknya, kebijakan baru dibuat setelah reklamasi dilakukan. Sekarang reklamasi Jakarta berpegangan pada Keputusan Presiden 1995. Padahal, kita tahu keppres itu dikeluarkan lebih didasarkan kepentingan pengembang. Akibat kebijakan itu tidak hanya hutan bakau di Kapuk rusak, tetapi Tol Sedyatmo berulang kali harus ditinggikan karena kebanjiran. Berbagai peraturan yang ke luar kemudian dimaksudkan untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. Aneh jika kemudian kebijakan masa lalu yang kurang tepat terus dipertahankan. Padahal, dampak lingkungannya sudah kita rasakan bersama.

Fakta kelima, visi Nawa Cita Presiden Joko Widodo, tidak ingin pembangunan terus bertumpu di Jawa dan Jakarta. Perekonomian negara ini tidak akan berkembang pesat apabila 80% perputaran uang hanya terjadi di Jakarta. Untuk itulah Jakarta seharusnya difungsikan sebagai ibu kota yang sesungguhnya. Jakarta seharusnya diarahkan seperti Washington DC sebagai kota pemerintahan yang aman dan nyaman. Tidak harus semua kegiatan ekonomi ditum pukan di ibu kota negara. Menurunnya daya dukung Jakarta karena kita memaksakan semua orang untuk tinggal di Ibu Kota dengan berbagai daya tarik yang sengaja kita ciptakan.

Perubahan itu membutuhkan kemauan politik. Kita tidak akan pernah kecukupan lahan apabila Jakarta terus dipacu sebagai pusat kegiatan ekonomi. Pembangunan Indonesia yang merata tidak pernah terwujud apabila konsentrasi ekonomi dipusatkan di Jakarta. Pertanyaannya sekarang, apa bentuk pembangunan yang kita inginkan dan peran apa sebenarnya yang kita harapkan dari Jakarta? Semua pihak harus duduk bersama. Kita merumuskan kembali langkah ke depan yang hendak kita lakukan. Penundaan reklamasi Jakarta pasti menyebabkan dampak ekonomi. Namun, itulah harga yang harus dibayar ketika kita membuat rencana pembangunan yang tidak matang. Ini harus menjadi pembelajaran bagi para pemimpin ke depan. Kita tidak hanya butuh cepat, tetapi juga perhitungan yang matang agar tidak merugikan banyak orang. Lebih baik kita mundur selangkah demi kebaikan daripada melanjutkan dengan risiko yang terlalu mahal.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.