Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Rio Haryanto

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
19/3/2016 05:30
Rio Haryanto
(ANTARA/M AGUNG RAJASA)

KEMARIN kita menyaksikan seorang putra Indonesia tampil di ajang balap mobil Formula 1. Rio Haryanto memulai kiprahnya dengan mencoba lintasan balapan di Albert Park, Melbourne, Australia, kemarin. Ia menjadi salah satu di antara 22 orang di planet ini yang bersaing pada ajang 'menembus batas'.

Pembalap Formula 1 merupakan profesi yang sangat berbahaya. Pekerjaan yang satu ini menuntut kondisi fisik yang superprima. Sedikit saja salah membuat perhitungan, akibatnya fatal. Bayangkan saja, mobil paling lambat sekalipun akan mencapai kecepatan 100 km/jam dalam 1,9 detik. Ketika akselerasi dilakukan, tekanan gravitasi akan mencapai 3G. Artinya, kepala sang pembalap akan mendapat tekanan tiga kali dari berat badannya.

Paling berat lagi ketika mobil yang sedang bergerak dengan kecepatan 300 km/jam harus berbelok ke kiri dan ke kanan. Tekanan kepada wajahnya akan mencapai 5G atau lima kali berat badannya. Seorang pembalap benar-benar dituntut untuk memiliki leher yang kuat. Belum lagi denyut jantung yang bisa mencapai 200 kali per menit. Sepanjang balapan sedikitnya 3 liter air terkuras dari badan pebalap. Apalagi suhu di dalam mobil mencapai 50 derajat celsius sepanjang balapan.

Kehadiran Rio di ajang Formula 1 membukakan mata dunia bahwa kualitas putra Indonesia tidak kalah dari bangsa-bangsa lain. Di tengah era kompetisi yang begitu ketat, Rio menyampaikan kepada dunia bahwa level bangsa Indonesia sudah sama dengan bangsa lain. Inilah yang seharusnya kita kapitalisasikan sebagai bangsa. Kehadiran Rio bukan sekadar dijadikan ajang tontonan, melainkan juga pemacu generasi muda lain untuk tidak mau kalah dari bangsa lain.

Kita harus sadar, Indonesia bukan lagi kekuatan ekonomi yang biasa-biasa. Apabila periode 2000-an lalu produk domestik bruto kita masih sekitar US$200 miliar, sekarang ukuran perekonomian Indonesia sudah lebih dari US$900 miliar. Kita menjadi salah satu dari 20 negara dengan PDB terbesar di dunia. Karena itu, kita harus berpikiran besar.

Perusahaan Indonesia harus berani melakukan branding sebagai perusahaan kelas dunia. Pertamina, misalnya, tidak boleh kalah dari Petronas. Kalau Petronas bisa mensponsori tim Mercedes, Pertamina seharusnya tidak kesulitan mensponsori tim Manor.

Nilai ekonomi yang didapat Indonesia dari kehadiran Rio Haryanto sangatlah besar. Sepanjang minggu ini pemberitaan mengenai pembalap asal Solo itu terus muncul di media internasional. Dalam jumpa pers Kamis (17/3) lalu, Rio didudukkan bersama para juara dunia seperti Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel.

Kita bisa belajar dari pengalaman Garuda Indonesia melakukan branding. Beberapa tahun lalu Garuda ditawari mensponsori klub-klub Inggris. Kebetulan Garuda hendak membuka kembali penerbangan ke London. Pilihan kemudian dijatuhkan kepada Liverpool. Alasannya, klub itu paling banyak memiliki fan di luar negeri, termasuk di Indonesia. Memang prestasi the Reds sedang menurun, tetapi nama besar mereka masih baik. Keputusan Garuda tidaklah keliru karena Liverpool bisa ikut mengibarkan bendera perusahaan. Tahun lalu Garuda dinobatkan sebagai penerbangan terbaik kedelapan di dunia.

Pembangunan citra Indonesia di mata internasional juga dilakukan pengusaha Erick Thohir. Dengan mengambil alih kepemilikan Internazionale Milan, nama Indonesia menjadi perhatian masyarakat dunia. Padahal, prestasi sepak bola Indonesia sedang terpuruk dan dijatuhi sanksi oleh FIFA.

Tugas kita selanjutnya, bagaimana mengapitalisasi semua itu. Kita harus cerdik agar manfaat ekonominya semakin terasa.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.