Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Rehabilitasi

13/12/2025 05:00
Rehabilitasi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

HAMPIR setiap kali langit Nusantara menggelap dan sungai-sungai meluap, kita seperti menonton ulang drama lama yang naskahnya tak pernah direvisi. Banjir datang, pemerintah daerah tergopoh-gopoh menetapkan status darurat, lalu anggaran rehabilitasi digelontorkan. Begitu-begitu terus, berulang-ulang.

Setelah itu? Kita kembali pada kebiasaan semula: membangun di bantaran sungai, menebangi pohon dan menggunduli bukit, serta membiarkan drainase menjadi fosil perkotaan. Apa yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat ialah parade bagaimana pembiaran itu direpetisi demi kelangsungan ekonomi sembari melupakan ikhtiar ekologis.

Kini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah menyiapkan anggaran rehabilitasi dampak banjir dan tanah longsor Sumatra dan Aceh sebesar Rp60 triliun. Jumlah anggaran yang selalu terdengar fantastis. Sejumlah orang pun mulai bertanya, apakah uang itu benar-benar menjadi alat pulih atau sekadar plester untuk luka yang sama setiap tahun?

Kita seperti sedang menjustifikasi sebuah parafrase yang pernah ditulis oleh Hegel: 'Satu-satunya hal yang diajarkan sejarah ialah bahwa manusia tidak belajar dari sejarah'.

Masalah banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra bukan semata curah hujan ekstrem. Ia merupakan akumulasi salah kelola ruang, lemahnya pengawasan, serta proyek-proyek yang lebih mengejar seremoni dan hasil ekonomi ketimbang daya tahan lingkungan. Di sinilah anggaran rehabilitasi sering terjebak dalam lingkaran klise, yakni digerojokkan tanpa diperjelas efektivitasnya.

Rehabilitasi pascabencana jelas tidak boleh sebatas perbaikan fisik. Ia harus menjadi momentum memperbaiki tata ruang, menegakkan aturan, dan menyiapkan sistem mitigasi yang bekerja bahkan ketika rezim berganti. Membangun tanggul tanpa membenahi izin alih fungsi lahan hanyalah meletakkan karpet merah bagi banjir berikutnya.

Karena itu, anggaran rehabilitasi banjir Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat harus menjawab tiga pertanyaan mendasar. Pertanyaan tersebut, pertama, mengapa wilayah itu selalu banjir? Jika penyebabnya struktural, anggaran harus diprioritaskan untuk perubahan struktural pula.

Kedua, siapa yang bertanggung jawab memperbaiki? Rehabilitasi bukan proyek yang boleh kabur akuntabilitasnya di antara instansi. Ia mesti transparan dan akuntabel. Anggaran bencana sama sekali tak boleh secuil pun dimaknai sebagai 'proyek'. Akuntabilitas akan menutup celah bagi para pemburu rente.

Ketiga, anggaran rehabilitasi mesti menjawab pertanyaan ihwal apa saja indikator keberhasilannya? Tanpa ukuran yang jelas, misalnya penurunan daerah rawan, perbaikan daya serap tanah, dan berfungsinya kanal, angka triliunan rupiah itu hanya akan hilang dalam laporan.

Masyarakat Sumatra dan Aceh tidak butuh anggaran yang besar semata. Mereka butuh anggaran yang tepat guna, tepat sasaran, dan tepat waktu. Mereka menuntut keberpihakan yang tidak sekadar ditulis dalam dokumen perencanaan, tetapi juga terasa ketika hujan deras mengguyur dan kampung mereka tetap kering.

Pengalaman Brasil dalam gerakan 'penghutanan kembali' setelah rusaknya Hutan Amazon bisa dijadikan cermin. Sejak dua tahun lalu (2023), pemerintah Brasil melalui program Restaura Amazonia mengalokasikan sebesar BRL1 miliar (setara sekitar Rp3,07 triliun) di awal inisiatif. Sumber dana berasal dari Amazon Fund dan Climate Fund untuk pemulihan hutan, termasuk restorasi ekologis. Itu merupakan bagian dari dana besar yang menargetkan pemulihan jutaan hektare hutan hingga 2030.

Di samping itu, kontribusi program restorasi publik seperti panggilan proyek Restore Amazon menyertakan BRL150 juta (sekitar Rp500 miliar) yang dialokasikan pada 2025 untuk restorasi dengan spesifik tata guna tanah atau inisiatif produktif. Data dari BNDES (bank pembangunan Brasil) menunjukkan bahwa bank itu telah memobilisasi sekitar BRI 3,4 miliar (sekitar Rp10,5 triliun) sejak 2023 untuk konservasi, restorasi, dan pengelolaan hutan.

Penyediaan anggaran itu juga dibarengi dengan langkah-langkah konkret. Langkah-langkah itu di antaranya penegakan hukum lingkungan yang ketat lewat Sistem Informasi Lingkungan (Sisnama) dan UU Kehutanan Federal (Forest Code) yang mengatur batas minimum kawasan hutan yang wajib dipertahankan di tanah privat. Selain itu, larangan tegas pembukaan lahan dengan cara membakar serta kewajiban izin untuk menebang pohon.

Sejak itu, jumlah penangkapan dan denda untuk penebang liar meningkat sehingga deforestasi turun drastis di Amazon. Pengawasan hutan menggunakan satelit real-time di bawah lembaga antariksa Brasil (INPE) juga digalakkan. Sistem tersebut memantau deforestasi setiap hari, mengirim peringatan ke polisi lingkungan, serta membuat aktivitas ilegal sulit disembunyikan.

Operasi lapangan terhadap pembalakan dan pertambangan ilegal tak pernah sepi. Penyitaan alat berat, penutupan tambang liar, pembongkaran kamp penebang hutan, hingga embargo lahan yang ditanami secara ilegal terus dilakukan.

Anggaran rehabilitasi juga untuk pemberdayaan masyarakat adat dan komunitas tradisional (benteng efektif menjaga hutan), merestorasi ekosistem secara besar-besaran melalui Initiative Mata Atlantica, perlindungan kawasan konservasi yang luas, perubahan kebijakan pemerintahan tertentu yang sangat pro lingkungan, hingga menghubungkan perlindungan hutan dengan ekonomi.

Hasilnya, dalam beberapa tahun terakhir, Brasil berhasil menurunkan laju kehilangan hutan secara signifikan melalui kombinasi penegakan hukum, kebijakan nasional, teknologi, dan keterlibatan masyarakat adat tersebut.

Pada akhirnya, rehabilitasi bukan soal berapa uang dikeluarkan, melainkan berapa banyak bencana yang berhasil dicegah setelahnya. Bila anggaran itu kembali dikelola tanpa disiplin, tanpa transparansi, dan tanpa kesungguhan moral, kita hanya memperpanjang daftar rutinitas pahit yang sama, yakni banjir datang, anggaran keluar, persoalan tinggal.

Aceh, Sumatra, dan wilayah lainnya berhak atas perubahan yang lebih dari itu. Mereka berhak atas negara yang hadir dengan akal sehat, bukan sekadar anggaran. Ada kritik penting dari George Bernard Shaw yang patut kita renungkan: "Kita belajar dari sejarah bahwa kita tidak pernah belajar apa pun dari sejarah."

 

 



Berita Lainnya
  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?