Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah Al Qulyubi dikisahkan seorang ulama sufi Abdullah bin Mubarak ihwal ibadah haji. Suatu ketika, setelah selesai menjalankan rukun Islam kelima itu, ia beristirahat dan tertidur. Ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit dan mendengar percakapan keduanya.
"Berapa orang yang berhaji tahun ini?" tanya salah satu malaikat. "Enam ratus ribu jemaah," jawab malaikat yang ditanya. "Berapa banyak dari mereka yang diterima ibadah hajinya?" "Tidak satu pun."
Perbincangan itu membuat Abdullah tercekat. Ia bingung setengah mati kenapa ratusan ribu orang yang rela datang jauh-jauh dari berbagai belahan bumi, menempuh beragam kesulitan dan keletihan untuk menjalankan perintah Allah, hasilnya sia-sia belaka.
Dengan tubuh gemetar, Abdullah terus mendengarkan percakapan kedua malaikat. "Namun, ada seseorang, yang meskipun tidak datang, ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya diampuni." "Kenapa bisa begitu?" "Itu kehendak Allah." "Siapa orang itu?" "Ali bin Al Muwaffaq, tukang sol sepatu di Kota Dimasyq (Damaskus)."
Ibadah haji selesai sudah, tapi Abdullah tak pulang ke rumah. Ia langsung menuju Damaskus, Suriah. Ia penasaran nian siapa gerangan orang yang tak berangkat haji, tapi malah menjadi haji mabrur. Singkat cerita, bertemulah ia dengan Ali bin Al Muwaffaq, tukang sol sepatu yang berpakaian lusuh. Abdullah bertanya, "Saya hendak tahu, adakah sesuatu yang telah Anda perbuat sehingga Anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, padahal Anda tidak berangkat haji?"
"Wah, saya sendiri tidak tahu, Tuan," jawab Ali. Lalu, Ali diminta mengisahkan kehidupannya. Ia bercerita bahwa sejak puluhan tahun lalu setiap hari menyisihkan uang hasil kerja sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit dari penghasilannya yang memang sedikit. ''Akhirnya pada tahun ini saya memiliki 350 dirham, cukup untuk berhaji. Saya sudah siap berhaji.''
Namun, takdir berkata lain. Ali batal berhaji. Ceritanya, suatu waktu istrinya yang tengah hamil mencium bau masakan yang sangat nikmat dan mengidam untuk mencicipi makanan itu. ''Cobalah kau cari, siapakah yang masak sehingga baunya begitu nikmat. Mintalah sedikit untukku,'' pinta sang istri kepada Ali.
Setelah mencari ke sana kemari, Ali mendapati bau masakan itu berasal dari sebuah gubuk reot yang nyaris ambruk. Di dalamnya ada seorang janda dengan enam anak sedang memasak. Ali pun mengutarakan keinginannya untuk membawa pulang barang sedikit masakan itu. Namun, sang janda menolak meski Ali siap membayar berapa pun harganya.
Bukannya pelit, bukan pula medit. Sang janda ogah berbagi karena daging yang ia masak halal untuk keluarganya, tapi haram untuk Ali meski sama-sama muslim. Daging itu berasal dari keledai yang mati, diambil sebagian untuk dimasak dan dimakan. Dengan menangis sesenggukan, sang janda terpaksa melakukan karena anak-anaknya tak tahan lagi menahan lapar. Sudah beberapa hari mereka tak makan.
Abdullah ikut menangis, lantas bergegas pulang. Tak lama kemudian, atas kesepakatan dengan istrinya, ia kembali ke gubuk sang janda dengan membawa makanan. Tak lupa, uang 350 dirham yang dikumpulkan bertahun-tahun untuk bisa berhaji ia berikan. "Pakailah uang ini. Gunakanlah untuk usaha agar engkau tidak kelaparan lagi."
Ali sungguh mulia. Ia rela tidak jadi berhaji, batal menjalankan ibadah ritual yang ia nanti-nantikan demi mengutamakan ibadah sosial. Ia tak sampai hati untuk tetap berhaji sementara ada yang setengah mati berjuang agar tetap hidup.
Kisah itu baru saja tersaji di depan mata kita. Di Aceh Selatan tepatnya. Kita tahu, wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat luluh lantak dihantam banjir bandang akibat keserakahan para penjahat lingkungan. Sekitar seribu orang kehilangan nyawa dan ratusan luka-luka. Jangan tanya soal kerusakan. Sungguh mengerikan.
Di situlah ibadah sosial sangat dibutuhkan. Namun, bagi seseorang bernama Mirwan MS tidak demikian. Mirwan bukan Ali yang cuma tukang sol sepatu. Ia elite, kaya, orang nomor satu di Kabupaten Aceh Selatan yang 11 kecamatan di antaranya diterjang banjir dahsyat. Banyak sekali rakyat yang menderita di sana. Mayat-mayat bergelimpangan, yang selamat pun belum tentu akan tetap hidup. Berhari-hari mereka tak makan, kelaparan, dan putus asa menunggu bantuan.
Namun, bagi Mirwan, semua itu tak menyentuh kalbu. Pada Selasa (2/12), ia memilih berangkat umrah bersama keluarga, lima hari setelah menerbitkan surat ketidaksanggupan dalam penanganan darurat banjir dan longsor. Di Mekah sana, ia pasti tidur di kasur empuk di kamar hotel sejuk ber-AC, sementara rakyatnya melewati hari-hari teramat panjang di tengah kegelapan, serbuan nyamuk, dan bau busuk.
Di Tanah Suci sana, Mirwan dan keluarga pasti menyantap makanan yang enak-enak, sementara rakyatnya di Aceh Selatan untuk makan seadanya pun susah. Di Masjidil Haram, Pak Bupati asyik berfoto dengan sang istri dengan raut gembira, sementara rekaman tragedi di Aceh Selatan mengoyak air mata. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
Sebagai ibadah ritual, umrah ialah haji kecil. Hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Hampir wajib, bukan wajib. Ia baik, tapi ibadah sosial juga baik, bahkan lebih baik dan lebih utama untuk ditunaikan ketika situasi memanggil. Itulah teladan Ali yang rela tak jadi berhaji demi menolong yang papa. Itulah yang seharusnya dilakukan di tengah bencana Sumatra. Oleh seluruh umat, apalagi pejabat.
Diterimakah ibadah umrah Pak Bupati? Dapat pahalakah dia? Wallahu a'lam bish-shawab. Hanya Allah yang tahu. Yang pasti sebagai pemimpin, sebagai kepala daerah, dosanya tak kecil. Plueng nibak tanggung jawab. Lari dari tanggung jawab. Desersi kalau di dunia serdadu.
Mirwan memang sudah minta maaf, tapi itu jauh dari cukup. Kemendagri sudah pula memberhentikannya sementara selama tiga bulan, tetapi sanksi itu dinilai terlampau enteng. Ini soal moral.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik
SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.
SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.
SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.
IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?
Ia sekaligus penanda rapuhnya kesadaran demokrasi dalam praktik bernegara kita.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved