Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Hukum Kertas Bencana Nyata

08/12/2025 05:00
Hukum Kertas Bencana Nyata
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SUDAH tidak terhitung jumlah regulasi yang mengatur permasalahan hutan dan lingkungan di negeri ini. Jumlahnya lebih dari 2.000, mulai undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri, hingga peraturan daerah.

Apakah undang-undang dan peraturan yang berkaitan dengan lingkungan, terutama untuk kepentingan pencegahan banjir dan tanah longsor, itu benar-benar efektif?

Jujur dikatakan bahwa semua regulasi yang sangat mulia tetap menjadi saksi bisu atas banyak pelanggaran terhadap hukum. Pelanggaran itu sudah berlangsung lama, sangat lama. Kita seakan-akan baru bangun dari tidur panjang dan langsung berteriak mengapa terjadi deforestasi?

Kesadaran itu muncul setelah melihat gelondong, atau kayu batangan, berukuran besar hanyut terbawa oleh aliran banjir bandang yang melanda sejumlah provinsi di Sumatra pada akhir November 2025. Diduga, gelondong itu akibat pembalakan liar.

Gelondong itu menggelinding di rapat kerja Komisi IV DPR dengan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada 4 Desember 2025. Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Soeharto mengangkatnya.

Sebelum berbicara, Titiek Soeharto memutar potongan video yang memperlihatkan truk membawa batang pohon dalam jumlah besar. Disebutkan bahwa pengangkutan itu hanya dua hari setelah kejadian bencana banjir Sumatra.

“Saudara Menteri, terus terang saya sedih, miris, dan saya marah. Bayangkan kayu sebesar itu, diameter 1,5 meter itu, berapa ratus tahun perlu tumbuh untuk pohon yang sebesar itu. Ini, manusia mana di Indonesia ini yang seenaknya aja bisa motong-motong kayu seperti itu? Apa salah itu kayu dia bikin? Salah itu pohon itu apa? Dia bikin begitu banyak kebaikan buat manusia," kata Titiek.

Perhatian Titiek Soeharto pada kayu besar itu mengingatkan Santo Fransiskus dari Assisi yang menyebut bumi sebagai rumah kita bersama bagaikan seorang saudari yang berbagi hidup dengan kita.

Saudari kita itu kini menjerit karena segala kerusakan yang kita timpakan kepadanya. Oleh karena itu, Paus Fransiskus dalam ensikliknya yang berjudul Laudato Si mengajak setiap orang untuk menjaga Saudari Bumi, rumah kita bersama.

Esensi rapat kerja Komisi IV DPR dengan Menteri Kehutanan ialah menjaga Saudari Bumi yang sedang menjerit. Ada delapan poin kesimpulan/keputusan rapat.

Di antaranya ialah Komisi IV DPR mendorong Kementerian Kehutanan untuk melakukan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di daerah-daerah lahan kritis guna memulihkan fungsi ekologis untuk meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

Komisi IV DPR juga mendesak Kementerian Kehutanan untuk segera menindak perusahaan pemegang perizinan berusaha atau persetujuan penggunaan kawasan hutan dan tambang ilegal (PETI) yang terbukti berkontribusi menyebabkan banjir di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Setelah rapat di Gedung DPR, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni langsung menemui Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Kemudian pada Sabtu (6/12) Kemenhut mengumumkan penyegelan empat dari 12 subjek hukum terindikasi penyebab terjadinya banjir dan longsor di Sumatra.

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup pada 5 Desember 2025 langsung menghentikan sementara operasional PT Agincourt Resources, PT Perkebunan Nusantara III, dan PT North Sumatera Hydro Energy selaku pengembang PLTA Batang Toru. Ketiga perusahaan itu beroperasi di hulu DAS Batang Toru, Sumatra Utara.

Kalau ada kemauan, kementerian bisa menindak. Elok nian bila penegakan hukum tidak menunggu terjadinya banjir yang menelan banyak korban jiwa. Menegakkan hukum ialah tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah yang memiliki kewenangan untuk menentukan siapa yang menggunakan hutan.

Pembiaran atas pelanggaran hukum itu sangat terasa dampaknya oleh kaum miskin paling rentan. Kita bisa melantunkan selarik doa untuk bumi dalam ensiklik Laudato Si, “Sentuhlah hati mereka yang hanya mencari keuntungan dengan mengorbankan bumi dan kaum miskin papa.”

Syair doa itu sejatinya putusan yang lebih keras daripada regulasi. Hukum tanpa keadilan ekologis hanyalah lembaran kertas, sedangkan banjir, longsor, dan kehilangan nyawa menjadi nota tagihan atas kelalaian negara.



Berita Lainnya
  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?

  • Buku yang Menakutkan

    27/12/2025 05:00

    Ia sekaligus penanda rapuhnya kesadaran demokrasi dalam praktik bernegara kita.