Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MAS Kaesang Pangarep punya pandangan ihwal penentu kemenangan dalam persaingan politik. Dia bilang, percuma elektabilitas seseorang tinggi, tetapi tak punya isi tas. Tasnya kosong, alias bokek. Apa maksudnya?
Pernyataan anak ragil Jokowi yang menjabat Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu disampaikan saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Wilayah PSI se-Sulawesi Tengah, Rabu (19/11). Dia awalnya memberikan semangat kepada seluruh kader untuk menghadapi Pemilu 2029 mendatang.
''Teman-teman, saya ingin Sulawesi Tengah ini menjadi salah satu penyumbang suara terbesar nanti di pemilu. Jadi, saya minta tolong kerja kerasnya. Jangan lupa ini juga, turun ke masyarakat.'' Itu pernyataan yang biasa, sangat biasa. Tidak ada yang aneh. Semua ketum partai biasa melakukan itu.
Baru pada kalimat berikutnya, ucapan Kaesang kiranya tidak biasa. Katanya, ''Percuma juga punya elektabilitas tinggi, tetapi enggak punya isi tas. Lo, iya dong, masak enggak punya? Kalau saya, kan, enggak bawa tas. Yang bawa bendum (bendahara umum) semua.''
Belum cukup, dia melanjutkan, ''Kalau ada apa-apa, terkhusus Sulawesi Tengah, masalah isi tas, kita ke ayahanda kita.'' Yang dia maksud ayahanda ialah Ahmad Ali. Eks pimpinan Partai NasDem yang juga tokoh Sulteng itu belum lama menjadi Ketua Harian PSI.
Isi tas? Kalimat itu berkonotasi buruk dalam politik kita. Ia bukan barang baru. Di telinga masyarakat, istilah isi tas sudah cukup akrab. Ada hipotesis, ia merupakan salah satu kunci, bahkan yang utama, dalam rivalitas politik. Isi tas merujuk uang. Kalau ada uang, politikus disayang. Tak ada uang, politikus ditendang. Begitu kira-kira. Publik sudah paham, para pengamat juga demikian.
Namun, ketika ihwal isi tas dibeberkan oleh seorang ketum parpol, tentu beda cerita. Sayangnya, Kaesang tak menjelaskan isi tas yang dimaksud. Salah satu ciri politikus ialah cenderung melempar ucapan bersayap. Politikus biasa menggunakan bahasa konotatif, bermakna ganda, sehingga membuka ruang buat berbagai penafsiran. Kaesang kiranya makin dalam memainkan peran sebagai politikus.
Karena tidak jelas apa yang dia katakan, bolehlah publik punya tafsir masing-masing. Ada yang menafsirkan Kaesang lebih mementingkan isi tas ketimbang elektabilitas. Elektabilitas penting, tapi uang jauh lebih penting. Dengan kata lain, elite PSI menempatkan modal keuangan sebagai penentu kemenangan. Salahkah? Jelas, jika dengan uang lantas menggunakan segala cara yang merusak prinsip-prinsip demokrasi.
Ada penafsiran lain. Dengan menyebut percuma elektabilitas jika isi tas kosong, berarti Kaesang menormalisasi politik uang. Dia menganggap money politics sebagai sesuatu yang biasa. Politik transaksional sesuatu yang wajar. Karena biasa dan wajar, tak masalah PSI melakukannya demi merebut kemenangan.
Bisa jadi pula Kaesang hendak mengatakan kepada kader-kadernya untuk tenang karena PSI punya uang. Atau, itu semacam penyampai pesan kepada jajarannya untuk memastikan isi tas mereka harus penuh dulu sebelum terjun ke gelanggang pemilu. Dia mengingatkan, politik butuh modal, biayanya mahal. Tak cukup popularitas dan elektabilitas. Kapasitas dan kapabilitas apalagi.
Betulkah begitu? Namanya juga tafsir, bisa benar, bisa keliru. Hanya Mas Kaesang dan mungkin orang-orang dekatnya yang tahu. Yang pasti, sebagai politikus, soal isi tas terucap tanpa disengaja. Pasti ada niat tertentu, entah baik entah buruk.
Dulu, pada 2023 lalu, politikus Prabowo Subianto juga pernah bicara masalah isi tas. Dia menceritakan pengalamannya ketika berkompetisi dalam konvensi capres dan cawapres yang dihelat salah satu partai. Saat berkeliling ke daerah-daerah, dia mendapati kenyataan yang membuatnya prihatin. Dalam sebuah dialog, kata dia, seseorang blak-blakan mengatakan bahwa masyarakat ingin yang konkret-konkret saja. Apa itu? Bukan kredibilitas, integritas, dan akseptabilitas, melainkan isi tas.
Isi tas versi Kaesang dan Prabowo kiranya beda. Versi Kaesang multitafsir, model Prabowo tidak. Dia ingin mengungkapkan fakta bahwa isi tas, politik uang, ialah persoalan nyata dalam perpolitikan kita. Dia hendak memaparkan bahwa ada masyarakat yang menggantungkan pilihan politik mereka kepada politikus yang tasnya berisi. Yang mau merogoh tasnya sebagai imbalan. Soal apakah Prabowo yang kini menjabat presiden tipe politikus seperti itu, kita kembalikan saja pada integritasnya.
Mustahil disangkal, cengkeraman politik uang semakin kejam. Mau bukti? Hasil survei Indikator Politik Indonesia pada Februari 2024 setidaknya bisa jadi gambaran. Disebutkan, pada Pemilu 2024 ada 35% responden yang menentukan pilihan karena uang. Naik cukup signifikan ketimbang Pemilu 2019 yang 'cuma' 28%. Sigi yang dilakukan seusai pencoblosan itu memperlihatkan pemilih oportunis menurun, tapi pemilih transaksional, pemilih wani piro, meningkat. Penolak politik uang terkikis dari 9,8% pada 2019 menjadi hanya 8% lima tahun kemudian. Miris, kan?
Bung Karno pernah bilang, politik uang ialah racun bagi demokrasi. Mahatma Gandi pernah berucap, politik uang ialah kejahatan terhadap masyarakat. Apakah keterusterangan Kaesang soal isi tas ialah permakluman terhadap politik uang sehingga perlu dilakukan untuk berkompetisi buat menghabisi partai mana pun yang menghalangi? Tak peduli kosong gagasan, yang penting isi tas penuh? Kalau pemimpin parpol yang katanya partai masa depan punya prinsip sungsang seperti itu, celaka nian bangsa ini.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik
SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.
SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.
SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.
IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?
Ia sekaligus penanda rapuhnya kesadaran demokrasi dalam praktik bernegara kita.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved