Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Isi Tas Kaesang

27/11/2025 05:00
Isi Tas Kaesang
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MAS Kaesang Pangarep punya pandangan ihwal penentu kemenangan dalam persaingan politik. Dia bilang, percuma elektabilitas seseorang tinggi, tetapi tak punya isi tas. Tasnya kosong, alias bokek. Apa maksudnya?

Pernyataan anak ragil Jokowi yang menjabat Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu disampaikan saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Wilayah PSI se-Sulawesi Tengah, Rabu (19/11). Dia awalnya memberikan semangat kepada seluruh kader untuk menghadapi Pemilu 2029 mendatang.

''Teman-teman, saya ingin Sulawesi Tengah ini menjadi salah satu penyumbang suara terbesar nanti di pemilu. Jadi, saya minta tolong kerja kerasnya. Jangan lupa ini juga, turun ke masyarakat.'' Itu pernyataan yang biasa, sangat biasa. Tidak ada yang aneh. Semua ketum partai biasa melakukan itu.

Baru pada kalimat berikutnya, ucapan Kaesang kiranya tidak biasa. Katanya, ''Percuma juga punya elektabilitas tinggi, tetapi enggak punya isi tas. Lo, iya dong, masak enggak punya? Kalau saya, kan, enggak bawa tas. Yang bawa bendum (bendahara umum) semua.''

Belum cukup, dia melanjutkan, ''Kalau ada apa-apa, terkhusus Sulawesi Tengah, masalah isi tas, kita ke ayahanda kita.'' Yang dia maksud ayahanda ialah Ahmad Ali. Eks pimpinan Partai NasDem yang juga tokoh Sulteng itu belum lama menjadi Ketua Harian PSI.

Isi tas? Kalimat itu berkonotasi buruk dalam politik kita. Ia bukan barang baru. Di telinga masyarakat, istilah isi tas sudah cukup akrab. Ada hipotesis, ia merupakan salah satu kunci, bahkan yang utama, dalam rivalitas politik. Isi tas merujuk uang. Kalau ada uang, politikus disayang. Tak ada uang, politikus ditendang. Begitu kira-kira. Publik sudah paham, para pengamat juga demikian.

Namun, ketika ihwal isi tas dibeberkan oleh seorang ketum parpol, tentu beda cerita. Sayangnya, Kaesang tak menjelaskan isi tas yang dimaksud. Salah satu ciri politikus ialah cenderung melempar ucapan bersayap. Politikus biasa menggunakan bahasa konotatif, bermakna ganda, sehingga membuka ruang buat berbagai penafsiran. Kaesang kiranya makin dalam memainkan peran sebagai politikus.

Karena tidak jelas apa yang dia katakan, bolehlah publik punya tafsir masing-masing. Ada yang menafsirkan Kaesang lebih mementingkan isi tas ketimbang elektabilitas. Elektabilitas penting, tapi uang jauh lebih penting. Dengan kata lain, elite PSI menempatkan modal keuangan sebagai penentu kemenangan. Salahkah? Jelas, jika dengan uang lantas menggunakan segala cara yang merusak prinsip-prinsip demokrasi.

Ada penafsiran lain. Dengan menyebut percuma elektabilitas jika isi tas kosong, berarti Kaesang menormalisasi politik uang. Dia menganggap money politics sebagai sesuatu yang biasa. Politik transaksional sesuatu yang wajar. Karena biasa dan wajar, tak masalah PSI melakukannya demi merebut kemenangan.

Bisa jadi pula Kaesang hendak mengatakan kepada kader-kadernya untuk tenang karena PSI punya uang. Atau, itu semacam penyampai pesan kepada jajarannya untuk memastikan isi tas mereka harus penuh dulu sebelum terjun ke gelanggang pemilu. Dia mengingatkan, politik butuh modal, biayanya mahal. Tak cukup popularitas dan elektabilitas. Kapasitas dan kapabilitas apalagi.

Betulkah begitu? Namanya juga tafsir, bisa benar, bisa keliru. Hanya Mas Kaesang dan mungkin orang-orang dekatnya yang tahu. Yang pasti, sebagai politikus, soal isi tas terucap tanpa disengaja. Pasti ada niat tertentu, entah baik entah buruk.

Dulu, pada 2023 lalu, politikus Prabowo Subianto juga pernah bicara masalah isi tas. Dia menceritakan pengalamannya ketika berkompetisi dalam konvensi capres dan cawapres yang dihelat salah satu partai. Saat berkeliling ke daerah-daerah, dia mendapati kenyataan yang membuatnya prihatin. Dalam sebuah dialog, kata dia, seseorang blak-blakan mengatakan bahwa masyarakat ingin yang konkret-konkret saja. Apa itu? Bukan kredibilitas, integritas, dan akseptabilitas, melainkan isi tas.

Isi tas versi Kaesang dan Prabowo kiranya beda. Versi Kaesang multitafsir, model Prabowo tidak. Dia ingin mengungkapkan fakta bahwa isi tas, politik uang, ialah persoalan nyata dalam perpolitikan kita. Dia hendak memaparkan bahwa ada masyarakat yang menggantungkan pilihan politik mereka kepada politikus yang tasnya berisi. Yang mau merogoh tasnya sebagai imbalan. Soal apakah Prabowo yang kini menjabat presiden tipe politikus seperti itu, kita kembalikan saja pada integritasnya.

Mustahil disangkal, cengkeraman politik uang semakin kejam. Mau bukti? Hasil survei Indikator Politik Indonesia pada Februari 2024 setidaknya bisa jadi gambaran. Disebutkan, pada Pemilu 2024 ada 35% responden yang menentukan pilihan karena uang. Naik cukup signifikan ketimbang Pemilu 2019 yang 'cuma' 28%. Sigi yang dilakukan seusai pencoblosan itu memperlihatkan pemilih oportunis menurun, tapi pemilih transaksional, pemilih wani piro, meningkat. Penolak politik uang terkikis dari 9,8% pada 2019 menjadi hanya 8% lima tahun kemudian. Miris, kan?

Bung Karno pernah bilang, politik uang ialah racun bagi demokrasi. Mahatma Gandi pernah berucap, politik uang ialah kejahatan terhadap masyarakat. Apakah keterusterangan Kaesang soal isi tas ialah permakluman terhadap politik uang sehingga perlu dilakukan untuk berkompetisi buat menghabisi partai mana pun yang menghalangi? Tak peduli kosong gagasan, yang penting isi tas penuh? Kalau pemimpin parpol yang katanya partai masa depan punya prinsip sungsang seperti itu, celaka nian bangsa ini.

 



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."