Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
MAS Kaesang Pangarep punya pandangan ihwal penentu kemenangan dalam persaingan politik. Dia bilang, percuma elektabilitas seseorang tinggi, tetapi tak punya isi tas. Tasnya kosong, alias bokek. Apa maksudnya?
Pernyataan anak ragil Jokowi yang menjabat Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu disampaikan saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Wilayah PSI se-Sulawesi Tengah, Rabu (19/11). Dia awalnya memberikan semangat kepada seluruh kader untuk menghadapi Pemilu 2029 mendatang.
''Teman-teman, saya ingin Sulawesi Tengah ini menjadi salah satu penyumbang suara terbesar nanti di pemilu. Jadi, saya minta tolong kerja kerasnya. Jangan lupa ini juga, turun ke masyarakat.'' Itu pernyataan yang biasa, sangat biasa. Tidak ada yang aneh. Semua ketum partai biasa melakukan itu.
Baru pada kalimat berikutnya, ucapan Kaesang kiranya tidak biasa. Katanya, ''Percuma juga punya elektabilitas tinggi, tetapi enggak punya isi tas. Lo, iya dong, masak enggak punya? Kalau saya, kan, enggak bawa tas. Yang bawa bendum (bendahara umum) semua.''
Belum cukup, dia melanjutkan, ''Kalau ada apa-apa, terkhusus Sulawesi Tengah, masalah isi tas, kita ke ayahanda kita.'' Yang dia maksud ayahanda ialah Ahmad Ali. Eks pimpinan Partai NasDem yang juga tokoh Sulteng itu belum lama menjadi Ketua Harian PSI.
Isi tas? Kalimat itu berkonotasi buruk dalam politik kita. Ia bukan barang baru. Di telinga masyarakat, istilah isi tas sudah cukup akrab. Ada hipotesis, ia merupakan salah satu kunci, bahkan yang utama, dalam rivalitas politik. Isi tas merujuk uang. Kalau ada uang, politikus disayang. Tak ada uang, politikus ditendang. Begitu kira-kira. Publik sudah paham, para pengamat juga demikian.
Namun, ketika ihwal isi tas dibeberkan oleh seorang ketum parpol, tentu beda cerita. Sayangnya, Kaesang tak menjelaskan isi tas yang dimaksud. Salah satu ciri politikus ialah cenderung melempar ucapan bersayap. Politikus biasa menggunakan bahasa konotatif, bermakna ganda, sehingga membuka ruang buat berbagai penafsiran. Kaesang kiranya makin dalam memainkan peran sebagai politikus.
Karena tidak jelas apa yang dia katakan, bolehlah publik punya tafsir masing-masing. Ada yang menafsirkan Kaesang lebih mementingkan isi tas ketimbang elektabilitas. Elektabilitas penting, tapi uang jauh lebih penting. Dengan kata lain, elite PSI menempatkan modal keuangan sebagai penentu kemenangan. Salahkah? Jelas, jika dengan uang lantas menggunakan segala cara yang merusak prinsip-prinsip demokrasi.
Ada penafsiran lain. Dengan menyebut percuma elektabilitas jika isi tas kosong, berarti Kaesang menormalisasi politik uang. Dia menganggap money politics sebagai sesuatu yang biasa. Politik transaksional sesuatu yang wajar. Karena biasa dan wajar, tak masalah PSI melakukannya demi merebut kemenangan.
Bisa jadi pula Kaesang hendak mengatakan kepada kader-kadernya untuk tenang karena PSI punya uang. Atau, itu semacam penyampai pesan kepada jajarannya untuk memastikan isi tas mereka harus penuh dulu sebelum terjun ke gelanggang pemilu. Dia mengingatkan, politik butuh modal, biayanya mahal. Tak cukup popularitas dan elektabilitas. Kapasitas dan kapabilitas apalagi.
Betulkah begitu? Namanya juga tafsir, bisa benar, bisa keliru. Hanya Mas Kaesang dan mungkin orang-orang dekatnya yang tahu. Yang pasti, sebagai politikus, soal isi tas terucap tanpa disengaja. Pasti ada niat tertentu, entah baik entah buruk.
Dulu, pada 2023 lalu, politikus Prabowo Subianto juga pernah bicara masalah isi tas. Dia menceritakan pengalamannya ketika berkompetisi dalam konvensi capres dan cawapres yang dihelat salah satu partai. Saat berkeliling ke daerah-daerah, dia mendapati kenyataan yang membuatnya prihatin. Dalam sebuah dialog, kata dia, seseorang blak-blakan mengatakan bahwa masyarakat ingin yang konkret-konkret saja. Apa itu? Bukan kredibilitas, integritas, dan akseptabilitas, melainkan isi tas.
Isi tas versi Kaesang dan Prabowo kiranya beda. Versi Kaesang multitafsir, model Prabowo tidak. Dia ingin mengungkapkan fakta bahwa isi tas, politik uang, ialah persoalan nyata dalam perpolitikan kita. Dia hendak memaparkan bahwa ada masyarakat yang menggantungkan pilihan politik mereka kepada politikus yang tasnya berisi. Yang mau merogoh tasnya sebagai imbalan. Soal apakah Prabowo yang kini menjabat presiden tipe politikus seperti itu, kita kembalikan saja pada integritasnya.
Mustahil disangkal, cengkeraman politik uang semakin kejam. Mau bukti? Hasil survei Indikator Politik Indonesia pada Februari 2024 setidaknya bisa jadi gambaran. Disebutkan, pada Pemilu 2024 ada 35% responden yang menentukan pilihan karena uang. Naik cukup signifikan ketimbang Pemilu 2019 yang 'cuma' 28%. Sigi yang dilakukan seusai pencoblosan itu memperlihatkan pemilih oportunis menurun, tapi pemilih transaksional, pemilih wani piro, meningkat. Penolak politik uang terkikis dari 9,8% pada 2019 menjadi hanya 8% lima tahun kemudian. Miris, kan?
Bung Karno pernah bilang, politik uang ialah racun bagi demokrasi. Mahatma Gandi pernah berucap, politik uang ialah kejahatan terhadap masyarakat. Apakah keterusterangan Kaesang soal isi tas ialah permakluman terhadap politik uang sehingga perlu dilakukan untuk berkompetisi buat menghabisi partai mana pun yang menghalangi? Tak peduli kosong gagasan, yang penting isi tas penuh? Kalau pemimpin parpol yang katanya partai masa depan punya prinsip sungsang seperti itu, celaka nian bangsa ini.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved