Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Punahnya Etika

13/11/2025 05:00
Punahnya Etika
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KALAU Nicholo Machiavelli masih hidup, barangkali dia akan bingung menyaksikan perpolitikan negeri ini, Indonesia. Jika Henry John Temple masih eksis, dia mungkin sibuk garuk-garuk kepala karena kehabisan akal untuk mencerna.

Machiavelli ialah politikus, diplomat, sekaligus filsuf Italia kelahiran 3 Mei 1469 dan meninggal pada 21 Juni 1527 yang dikenal dengan teori-teori besarnya. Salah satunya ialah bahwa tujuan utama dalam politik adalah kekuasaan dan hubungan dengan pihak lain bersifat pragmatis serta dapat berubah sesuai dengan kepentingan. Tidak ada kawan atau lawan abadi dalam politik. Yang ada cuma politik. Begitu kira-kira.

Herry John Themple atau Lord Palmerston adalah pemikir politik dan pernah dua kali menjabat perdana menteri Inggris abad ke-19. Dari dialah aforisme atau prinsip umum dalam dunia politik bahwa dalam politik tidak ada lawan atau kawan yang kekal diyakini juga bersumber.

Lord Palmerston pernah bilang, "We have no eternal allies, and we have no perpetual enemies. Our interests are eternal and perpetual, and those interests it is our duty to follow." Kami tidak memiliki sekutu abadi dan kami tidak memiliki musuh abadi. Kepentingan kami bersifat abadi dan berkelanjutan, dan kepentingan itulah yang merupakan tugas kami untuk ikuti.

Sejak ratusan tahun silam, prinsip itu berlaku. Ia universal, terjadi di mana-mana, termasuk di Indonesia. Bahkan belakangan, pakem tidak ada kawan atau lawan abadi dalam politik terasa kebangetan. Banyak alegori politik yang membuat rakyat, termasuk saya, kehabisan kata-kata. Kekurangan akal untuk bisa menerima. Logika sungsang unjuk kuasa. Machiavelli dan Palmerston boleh jadi kebingungan teorinya dipraktikkan secara ugal-ugalan.

Hanya kepentingan yang abadi. The one and only. Begitu mudah kawan menjadi lawan, musuh menjadi teman. Teramat banyak contohnya. Belakangan, saga politik seperti itu dipertontonkan lagi, lagi dan lagi. Pelakunya para pendatang baru. Pemain-pemain lama, sih, tetap saja seperti itu, tapi aktor-aktor anyar terasa gila-gilaan.

Marilah kita ambil dua contoh. Pertama ialah PSI, Partai Solidaritas Indonesia, yang didirikan anak-anak muda, tapi kini mengandalkan orang-orang tua. Yang awalnya mengedepankan idealisme, tapu larut dalam pragmatisme.

Cukup banyak sepak terjang PSI yang mencerminkan prinsip politik sekadar kepentingan. Dulu mereka mati-matian menegasikan Prabowo Subianto. Sampai-sampai memberikan Kebohongan Award pada awal 2019. Prabowo adalah rival Jokowi saat itu. Namun, sekali lagi, dalam politik ceritanya mudah berubah. Cepat atau lambat. Prabowo yang tadinya direndahkan dengan sederet catatan hitam tiba-tiba mereka banjiri dengan puja-puji untuk memimpin negeri. Prabowo akhirnya jadi presiden dan PSI ikut menikmati kue kekuasaan. Tak sia-sia.

Terkini, sikap PSI seperti itu terepitisi. Kali ini terkait dengan penetapan Pak Harto sebagai pahlawan nasional. Mendukung atau menolak seseorang menjadi pahlawan ialah hal yang lumrah. Bebas dengan segala argumennya. Yang tak lumrah ialah tadinya mati-matian menentang keras, lalu mendukung penuh. Dulu PSI kontra luar biasa dengan Pak Harto. Pada Mei 2018, mereka membeberkan sisi buruk Presiden Ke-2 RI itu melalui unggahan di akun X.

PSI membandingkan keluarga Pak Harto dengan keluarga Jokowi. Mereka menulis, 'Anak-anak Jokowi, mah, gak manfaatin jabatan bapaknya. Beda sama anak penguasa rezim Orba'. PSI juga menyoal berbagai yayasan yang dibentuk Soeharto.

Kalau mereka berubah sikap 180 derajat, itu tak lepas dari kekuasaan. Betul banget bahwa tidak ada lawan atau kawan abadi dalam politik. Namun, rasanya kok keterlaluan betul penerapan prinsip itu di sini.

Ada satu lagi yang belakangan jadi sorotan. Namanya Projo, organisasi relawan pendukung Jokowi. Belum lama ini mereka menghelat kongres. Salah satu hasilnya, Projo menanggalkan logo berupa siluet Jokowi. Mereka memilih fokus bergabung dengan barisan kekuasaan di bawah komando Prabowo. Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi bahkan terang-terangan bergabung ke Gerindra, bukan PSI yang merupakan partai representasi Jokowi dan dipimpin anak ragil Jokowi, Kaesang Pangarep. Projo dianggap kacang lupa kulitnya.

Begitulah, kekuasaan kiranya gampang membuat plinplan orang yang tak kuat iman. Esuk dele sore tempe bosok. Dulu menghujat, kini bersahabat. Projo juga dianggap demikian. Deretan jejak digital perihal sikap mereka tentang Prabowo kembali diungkap. Dulu, pada 2014, Budi Arie menyebut Pak Prabowo berbahaya bagi demokrasi. Dulu, pada 2019, Wakil Ketua Umum Projo Freddy Damanik meminta Prabowo didiskualifikasi dari pilpres. Prabowo dia anggap menyebarkan kabar bohong perihal kebohongan Ratna Sarumpaet.

Dulu, pada 2019, Projo menolak keras bergabungnya Prabowo dalam kabinet Jokowi iilid II sebagai menteri pertahanan. Mereka bahkan membubarkan diri, tapi tak jadi setelah Budi Arie akhirnya mendapatkan jatah wakil menteri desa.

Begitulah, Projo yang dulu benci setengah mati berbalik cinta mati pada Prabowo. Tak salah pengamat bilang, mereka konsisten untuk inkonsistensi. Atas dasar apa? Adagium bahwa tidak ada lawan dan kawan abadi yang ada hanya kepentingan dalam politik, lagi dan lagi, kiranya terbukti di sini. Lebih vulgar, makin jauh dari jangkauan nalar. Bolehkah? Jangan tanya soal etika dan moral. Konon, keduanya sudah punah di perpolitikan kita.



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."