Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Pahlawan No Debat

11/11/2025 05:00
Pahlawan No Debat
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SETIAP bangsa memerlukan hadirnya sosok pahlawan. Sosok yang menjadi anutan dalam perilaku kehidupan serta rela berkorban untuk bangsa dan negara.

Sosok itu selalu menjadi rujukan dalam setiap fase kehidupan bangsanya yang terus bergulir dari generasi ke generasi. Demikian pula ketika terjadi silang pendapat dalam suatu bangsa, apa yang terjadi pada bangsa hari ini, dan mau ke mana bangsa ini, rujukannya kepada nilai-nilai perjuangan sang pahlawan untuk bangsa.

Perjuangan seorang pahlawan ialah panggilan nurani. Pijakannya ialah nilai-nilai kebenaran yang diyakininya. Ia mampu mewariskan kebaikan bagi bangsanya.

Pengorbannya untuk bangsanya melampaui kepentingan dirinya, keluarganya, dan kelompoknya. Sang pahlawan hadir seperti diutus Tuhan untuk berjuang. Karena itu, tidak ada ketakutan pada dirinya, seperti takut miskin atau takut mati.

Ia pun tidak pernah memikirkan apakah suatu saat kelak bangsanya akan menuliskannya sebagai pahlawan atau tidak, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan atau tidak.

Namun, ia meyakini nilai-nilai perjuangannya yang melampaui zaman akan tertanam dalam bangsanya. Sebuah bangsa memang memerlukan tuntunan nilai dan etos dari para pendahulu sehingga sebuah bangsa tidak kehilangan jati diri, nilai-nilai, dan spirit perjuangan.

Alhasil, bangsa tersebut tidak akan bubar, dikendalikan atau dicaplok bangsa lain. Celakanya, apabila suatu bangsa masih berdebat apakah seorang tokoh layak diberi gelar pahlawan atau tidak, sebenarnya bangsa itu berada di persimpangan jalan.

Bangsa itu kebingungan memetik teladan dan hikmah kehidupan dari seorang pahlawan. Nilai-nilai kepahlawan tidak berasal dari angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi atau kemajuan secara fisik, tetapi sejauh mana bangsa tersebut memiliki semangat perjuangan, tidak mementingkan kepentingan diri, keluarga, konco, atau kelompok.

Bangsa yang berada di persimpangan jalan mengalami kebingungan nilai-nilai yang diperjuangkan secara kolektif. Akibatnya, di antara sesama anak bangsa tidak kunjung reda perdebatan tentang sebuah nilai. Krisis kepercayaan pun meruyak tidak saja bersifat vertikal, antara rakyat dengan penguasa, tetapi juga bersifat horisontal, antarsesama rakyat.

Aksi tipu-menipu terjadi karena mereka tidak peduli apakah yang dilakukan itu baik atau buruk. Mereka selalu menempatkan segala sesuatu secara prosedural atau administratif, bukan pada sikap etis, akal sehat, nurani, dan kebajikan untuk bangsa.

Manusia memang bukan malaikat. Ada kebaikan dan kesalahannya. Meskipun berkiprah dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan, di sisi lain, tokoh yang dinilai sebagai pahlawan itu ternyata menampilkan politik dasamuka dalam kepemimpinannya.

Ia bisa menampilkan citra human dengan kekhasan senyumnya, tetapi bisa memainkan politik 'tangan besi' dengan menggerakkan birokrasi dan militer untuk melanggengkan kekuasaannya.

Politik tangan besi melahirkan kekuasaan yang tidak bisa dikontrol. Tiga cabang kekuasaan (trias politika) sekadar ornamen politik. Dengan kekuasaan terpusat di tangannya praktik lancung pun mewabah. Pesta pora kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) tak tersentuh oleh hukum selama hampir tiga dekade.

Politik tangan besi sang rezim tak hanya menyebabkan KKN yang masif, sistematis, dan terstruktur, tetapi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat juga tak bisa dicegah. Kekuasaan berada di atas hukum.

Demikian pula kebebasan pers diberangus, sejumlah media diberedel. Kebebasan berserikat dan berkumpul juga dibatasi, bahkan bisa berujung penjara. Atas nama kamtibmas dilakukan unlawfull killing, seperti penembakan misterius (petrus).

Sang rezim tumbang karena people power. Amarah rakyat membakar panggung kekuasaan. Selanjutnya, rezim berganti hingga beberapa kali pascareformasi, tetapi mental yang diwariskan rezim tersebut, yakni KKN, tak pernah terkubur. Bahkan, praktik rasuah terus berkobar meskipun dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi, yang belakangan malah dilemahkan.

Sosok kepahlawanan bisa lahir dari mana saja. Indonesia ialah negara yang lahir dari semangat kepahlawanan. Semangat rela berkorban untuk orang banyak meskipun nyawa menjadi taruhannya.

Rela berkorban untuk bangsa dan negara tanpa perlu merasa paling berkorban, apalagi menuntut gelar pahlawan nasional.

Anggota hansip Atim Suhara alias AS, 42, yang tewas tertembak saat berusaha menggagalkan pencurian motor di Jalan Pelajar, Cakung, Jakarta Timur, ialah sosok pahlawan di lingkungannya.

Dia bersama rekannya berani menghadapi pelaku curanmor meskipun nyawa menjadi taruhannya. Aksi pria dari keluarga sederhana itu menginspirasi banyak orang untuk tidak takut menghadapi kejahatan demi keamanan masyarakat.

Kini, silang pendapat bergemuruh di masyarakat soal gelar pahlawan nasional untuk Presiden Ke-2 RI Soeharto. Ibarat anjing menggonggong kafilah berlalu, Presiden Prabowo Subianto berkukuh memberikan gelar tersebut kepada mantan mertuanya itu.

Prabowo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada 10 tokoh bangsa, di antarnya Soeharto, di Istana Negara, Jakarta, kemarin. Penganugerahan ini bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional 2025.

Polemik akan berakhir? Belum tentu. Seiring dengan menguatnya literasi, daya kritis, dan kesadaran sebagai bangsa besar, anak bangsa akan menilai mana tokoh yang layak dinilai sebagai pahlawan atau pengkhianat.

Pasal 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan menyebutkan asas pemberian gelar itu berdasarkan kebangsaan, kemanusiaan, kerakyatan, keadilan, keteladanan, kehati-hatian, keobjektifan, keterbukaan, kesetaraan, dan timbal balik.

Dengan belajar dari sejarah, perjuangan ingatan melawan lupa, dan menatap arah Republik ke depan, anak bangsa akan memperkaya tindakan kepahlawanan untuk negeri mereka dengan berbagai cara.

Mereka juga akan berani melawan pengkhianat bangsa. Perlawanan terhadap orang-orang yang mengkhianati konstitusi, memperalat hukum dan demokrasi untuk tujuan jangka pendek.

Kelak, mereka akan mengikuti jejak founding father Bung Hatta yang menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Ia ingin selalu bersama rakyat sampai akhir hayat. Tabik!



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."