Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Akhir Suluk Ki Anom

25/10/2025 05:00
Akhir Suluk Ki Anom
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'Sangsaya dalu araras

abyor kang lintang kumedhap

tistis sonya tengah wengi

lumrang gandane puspita

karenghyan ing pudyanira

sang dwijawara mbrengengeng

lir swarane madubranta

manungsung sarining kembang'.

(Malam semakin indah. Memancar cahaya bintang bekerlipan. Dingin dan sunyi senyap tengah malam. Semerbak bau harum bunga. Berbarengan dengan suara doa. Terdengar gemeremang doa dilantunkan para pendeta agung. Seperti suara dengung lebah menjemput sari bunga.)

 

KI Anom Suroto selalu mendendangkan suluk (penanda bagian cerita wayang kulit) bernama Pathet Sanga Wantah itu dengan suara menyentuh. Ia memang legenda, seorang maestro. Ia dalang wayang kulit dengan kemampuan suara tak tertandingi. Saat suluk, salah satu tembang pemisah babak cerita, pecinta wayang kulit menyebut suaranya kung: panjang, meliuk-liuk, menyentuh, kadang menyayat. Pokoknya, nadanya sedap betul. Orang bisa 'meleleh' saat mendengar Ki Anom bersuluk.

Selain suara, Ki Anom dikenal dengan humornya dalam melakonkan wayang, yang dalam istilah komedian Indro Warkop disebut humor level 'kompor gas'. Bukan hanya punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang 'dibuat' lucu. Atau, sosok Limbuk dan Cangik, asisten para raja. Di tangan Ki Anom, sosok Bima yang serius pun bisa 'dihumorkan'. Apalagi dengan Dursasana dan Sengkuni.

Di tangan Ki Anom, keculasan Sengkuni, misalnya, mampu dihidupkan dengan kekuatan penuh. Tak jarang para penyimak wayang kulit yang menyaksikan pertunjukan Ki Anom secara langsung, berteriak, 'huuuuuu...' karena geram terhadap Sengkuni. Atau, di bagian lain, penonton bertempik sorak saat Dursasana secara kritis mengingatkan Sengkuni agar segera bertobat, berhenti mengadu domba, tidak lagi korupsi.

Pendek kata, Ki Anom ialah transformasi wayang kulit setelah sang maestro yang juga gurunya, Ki Narto Sabdo, berpulang duluan. Ki Narto Sabdo sangat kuat dalam dialog tokoh-tokoh wayang, punya kemampuan filosofis dan paramasastra tingkat tinggi, serta ahli menciptakan tembang (misalnya Perahu Layar dan Swara Suling). Namun, Ki Narto Sabdo tetap setia pada pakem. Itu berbeda jika dibandingkan dengan Ki Anom Suroto yang berani melakukan sejumlah 'penyesuaian'.

Ki Anom juga memasukkan unsur kritik dalam tradisi pakeliran. Dalam monolog pengantar goro-goro, ia masukkan kritik tentang polah pejabat yang bukan melayani rakyat, melainkan berburu rente untuk kepentingan pribadi. Di 'sesi' monolog itu pula, ia kerap menukil pendapat pujangga Ronggowarsito tentang Zaman Edan.

Karena itulah, pertunjukan wayang kulit menjadi kian hidup. Para penikmat wayang Ki Anom Suroto sudah paham, begitu usai suluk Pathet Sanga Wantah dilantunkan, penonton sudah siap menyambut monolog pengantar goro-goro itu. Penonton selalu bertepuk tangan saat Ki Anom menyampaikan monolog kritis itu, sebagai tanda setuju.

Lalu, kapan monolog kritis itu dimasukkan Ki Anom? Sepanjang pengetahuan saya, tidak sejak mula pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, itu 'mendaraskan' suara kritis dalam monolog. Mungkin baru pada 1994-an ia melakukan itu, saat Ki Anom di puncak kejayaan.

Saya mulai 'mengenal' Ki Anom Suroto lewat kaset produksi 1978. Bapak saya membeli seri kaset Ki Anom Suroto dengan lakon Parikesit Jumeneng Nata itu. Ada delapan kaset dalam cerita itu, dengan total durasi hampir 8 jam. Cerita Parikesit Jumeneng Nata mengisahkan pengangkatan Parikesit sebagai Raja Hastinapura setelah Perang Baratayuda selesai dan Pandawa mundur. Parikesit, cucu Arjuna dari putra Abimanyu, diangkat menjadi raja baru karena ia satu-satunya keturunan Pandawa yang tersisa.

Lakon itu mengajarkan regenerasi kepemimpinan, tanggung jawab, dan pentingnya membangun kembali kerajaan yang porak-poranda akibat perang. Di sampul kaset itu, ada foto Ki Anom tampak punggung dengan rambut masih gondrong. Belum ada monolog kritis di awal-awal rekaman maupun pentas wayang kulit dari Ki Anom.

Dari persinggungan awal itu, saya sudah melihat kemampuan Ki Anom dalam suluk, catur, dan humor. Catur terkait dengan kemampuan deskripsi, narasi, dan dialog dalam wayang. Dari tiga hal itulah, Ki Anom diakui kehebatannya. Sampai sekarang, Ki Anom masih menjadi kiblat bagi dalang-dalang muda, selain tentunya sang maestro Ki Narto Sabdo. Ia juga jadi kiblat gaya mendalang putranya, Ki Bayu Aji.

Membandingkan Ki Anom Suroto dengan Ki Narto Sabdo sama seperti membandingkan Lionel Messi dengan Cristiano Ronaldo: sama-sama hebat dan bertahan lama sebagai legenda. Dalam wawancara dengan media pada 1984, Ki Anom mengaku frekuensi pentasnya bisa mencapai 28 kali dalam sebulan, melampaui semua dalang di era itu. Padahal, waktu itu usianya masih 36 tahun. Ia merasa, terlalu sering pentas bisa membuat orang jenuh. Karena itu, Ki Anom pun mulai membatasi maksimal 15 kali pentas dalam sebulan. Itu pun dalam bulan-bulan baik menurut kalender Jawa.

Pada Kamis, 23 Oktober 2025, pemilik nama panjang Kanjeng Raden Tumenggung Haryo Lebdo Nagoro atau Ki Anom Suroto itu mengakhiri suluknya untuk selama-lamanya. Ia berpulang di usia 77 tahun (lahir 11 Agustus 1948), meninggalkan jejak amat tebal dan sangat penting dalam dunia pewayangan. Kini, putranya, Ki Bayu Aji, menjadi penerus Ki Anom dengan kemampuan yang nyaris serupa, tapi memiliki keterampilan sabetan melampaui ayahandanya.

Seperti kisah Parikesit Jumeneng Nata, Ki Anom Suroto sudah menyiapkan regenerasi dalang secara paripurna kepada Ki Bayu Aji, termasuk regenerasi suluk yang nges dan menyayat hati. Itu seperti dalam suluk dukacita berikut ini.

'Surem-surem diwangkara kingkin,

lir mangaswa kang layon,

dennya ilang memanise,

wadanira layu,

kumel kucem rahnya meratani,

marang saliranipun,

melas dening ludira kawangwang

nggana bang sumirat'.

(Suram cahaya surya bersedih. Seperti menghidu lelayu yang hilang kemanisannya. Kumal pucat wajahnya layu, darah merata membiru di sekujur tubuh itu. Angkasa berduka, lihatlah langit semburat merah). Sugeng tindak, selamat jalan Ki Anom Suroto.

 



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.