Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Ijazah Bikin Susah

16/10/2025 05:00
Ijazah Bikin Susah
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PERKARA keaslian ijazah Jokowi Widodo belum juga menemukan titik terang. Sudah teramat lama masalah itu bikin gaduh seantero negeri, tetapi hingga kini seolah tak ada niat dari para pihak untuk mengakhiri. Benar belaka anggapan bahwa ijazah Jokowi sebenarnya perkara receh, tapi bikin ruwet bangsa.

Ijazah Jokowi hanyalah selembar kertas. Namun, jangan tanya dampaknya. Ia membuat sesama anak bangsa terbelah. Perseteruan antarsebagian masyarakat meruncing. Di media sosial, mereka saling ejek, saling serang, saling menegasikan.

Para loyalis Jokowi yang tentu saja hakulyakin bahwa ijazah idolanya itu asli membela habis-habisan sang pujaan. Para oposan Jokowi yang yakin bahwa ijazah Presiden Ke-7 RI itu palsu seakan tak pernah kehabisan amunisi untuk melakukan penetrasi.

Jangan tanya siapa yang benar. Tiap pihak merasa tak salah. Yang menuduh ijazah Jokowi palsu bertahan pada basis-basis tuduhannya. Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifa ialah trio paling gigih yang menyoal ijazah itu. Mereka disingkat RRT. Sampai saat ini, ketiganya percaya bahwa ada masalah dalam ijazah sarjana kehutanan Jokowi dari UGM. Buku Jokowi's White Paper pun mereka terbitkan.

Di lain sisi, kubu Pak Jokowi tak kalah gigih mempertahankan diri. Banyak relawan yang pasang badan. Mereka rutin tampil di layar televisi untuk menghadapi Roy Suryo dkk. Diskusi mereka tak jarang berlangsung di luar etika dan peradaban. Acara televisi yang menyuguhkan perdebatan mereka belakangan menjadi tontonan yang memalukan.

Sungguh, persoalan ijazah Jokowi sudah membuat susah bangsa ini. Makin banyak tokoh yang urun bicara. Mereka resah karena hiruk pikuk kasus itu belum ada tanda-tanda segera usai. Bukan melandai, justru semakin menjadi.

Terkini, Komaruddin Hidayat unjuk suara. Ketua Dewan Pers itu tak bisa menutupi kejengkelan atas berlarutnya perkara ijazah Jokowi. Kata dia, persoalan itu adalah hal sepele yang dibiarkan bertele-tele sehingga menjadi drama nasional.

Eks Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu bilang, karena perkaranya sepele, solusinya pun mudah. Sang pemilik cukup menunjukkan ijazah yang dipersoalkan, kemudian diteliti, diuji di laboratorium. Tunjukkan dengan bangga dan sukarela, begitu kata Prof Komar.

Hal senada pernah pula disampaikan Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Tanpa menyebut langsung ijazah Jokowi, dia berujar, ''Ya, kok, susah amat, ya. Kan, kalau ada ijazah, betul gitu, kasih aja. Ini ijazah saya, gitu lo.''

Yang mudah dibuat sulit. Yang sederhana dibikin rumit. Itulah kiranya yang terjadi dalam perkara ijazah Pak Jokowi.

Prof Komar pun bertanya-tanya kenapa menunjukkan ijazah tidak atau belum dilakukan. Dia menduga ada agenda di baliknya. Dia rasa, hanya di negeri ini, di Indonesia ini, ijazah seorang presiden dipermasalahkan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Komaruddin betul. Jika merunut ke belakang, isu perihal ijazah Pak Jokowi sudah beredar sejak kampanye Pilpres 2014. Sempat mereda, narasi mengenai ijazah Jokowi mulai SD hingga S-1 mencuat lagi pada 2019. Lalu, pada Oktober 2022, ada gugatan atas dugaan ijazah palsu itu ke PN Jakarta Pusat oleh Bambang Tri Mulyono.

Dinamika berlanjut. Bambang Tri kemudian malah dijadikan pesakitan, divonis bersalah dan menjalani hukuman. Namun, ijazah Jokowi tetap menjadi misteri. Dalam sidang, ia tak dihadirkan sebagai barang bukti.

Tak berhenti di situ. Pada 2024, muncul lagi gugatan ijazah Pak Jokowi ke Bareskrim Polri. Namun, polisi menghentikan perkara karena tak ditemukan unsur pidana. Disebutkan ijazah Jokowi identik dengan ijazah alumni kehutanan UGM 1985 lainnya.

Di tempat lain, Polda Metro Jaya, kasus ijazah menjerat RRT. Ketiganya dilaporkan atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik. Perkara itu sudah menapak tahap penyidikan pada Juli 2025, tapi hingga kini belum ditetapkan siapa tersangkanya.

Begitulah, perkara ijazah Pak Jokowi begitu ruwet. Klarifikasi dari pihak UGM bahwa Jokowi benar lulusan Fakultas Kehutanan pada 1985 tak lantas menyudahi silang sengketa. Konyol memang jika UGM mengada-ada. Naif nian jika mereka mempertaruhkan nama besar mereka.

Namun, sejumlah keanehan kiranya tak bisa dikesampingkan begitu saja. Basis ilmiah yang diklaim oleh Roy, Rismon, Tifa bahkan membuat banyak orang yang tadinya percaya bahwa ijazah Pak Jokowi asli menjadi sangsi.

Betul kata Prof Komar. Alangkah baiknya Pak Jokowi menunjukkan ijazahnya dengan sukarela dan bangga. Sayang, solusi paling ampuh untuk mengakhiri gaduh bangsa itu tak masuk hitungannya. Dia tetap bersikukuh memperlihatkannya di pengadilan nanti. Entah kapan, karena sampai sekarang saja belum jelas siapa yang akan diadili.

Benar pula kiranya jika penegak hukum secepatnya menuntaskan perkara. Kepada jajaran Polda Metro Jaya, segera tetapkan tersangka jika memang ada cukup bukti sehingga perkara itu bisa dibuat terang benderang di pengadilan. Sebaliknya, jika tiada bukti, hentikan saja penyidikan, kemudian hidupkan lagi penyelidikan di Bareskrim Polri.

Karena Pak Jokowi tak juga berkenan menunjukkan ijazah, hanya hukum yang bisa memungkasi kegaduhan itu. Sudah terlalu lama bangsa ini dibuat susah oleh selembar ijazah. Belum lagi ijazah Wapres Gibran yang menyusul dipersoalkan. Masih banyak urusan lain yang lebih membutuhkan energi kita.

 



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."