Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Tragedi Al Khoziny

14/10/2025 05:00
Tragedi Al Khoziny
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Duta)

FILSUF Karl Marx pernah membuat metafora yang sangat kontroversial bahwa agama ialah candu bagi masyarakat.

Metafora tentang agama yang ditulis dalam bahasa Jerman Die Religion ist das Opium des Volkes pada 1843 itu membuat silang pendapat yang berkepanjangan, bahkan hingga kini.

Menurut Marx, agama hanyalah alat penguasa untuk membungkam kaum proletar agar mereka tidak peduli dengan penderitaan yang mereka alami.

Mereka, lanjut Marx, tutup mata dengan ketidakadilan dan praktik-praktik kekuasaan lainnya yang menindas.

Musababnya, agama telah memberikan 'bius' dan menciptakan ilusi yang menyenangkan dengan janji-janji surga bagi kaum tertindas.

Sebenarnya bukan hanya penguasa yang memberikan 'opium' bagi umat, ada juga pihak-pihak di struktural ataupun kultural yang juga 'membius' umat untuk memperkaya diri dan memperkuat bargaining position sehingga umat teperdaya dan tumpul daya kritisnya.

Sejatinya, agama memang bukan candu yang membuat umat 'mabuk agama'. Dalam Islam, misalnya, dituntut keseimbangan dunia dan akhirat. Keseimbangan di kedua alam itu akan terjadi manakala berbasis kebaikan. Kebaikan di dunia akan menjadi bekal untuk kehidupan akhirat kelak, alam baqa, kehidupan kekal tanpa akhir.

Dengan demikian, umat diwajibkan berusaha untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, menggunakan akalnya, daya pikir, meningkatkan keilmuan, sehingga tercapai derajat yang tinggi sebagai manusia di atas makhluk hidup lainnya.

Sikap hidup seorang yang beragama bukan bersandarkan kepasrahan total (fatalis) kepada Sang Khalik sehingga tidak berbuat apa-apa untuk menjadi lebih baik, menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dan semesta alam.

Cendekiawan Nurcholish Madjid atau akrab disapa Cak Nur dalam bukunya, Pintu-Pintu Menuju Tuhan (2004:25), mengatakan percaya kepada takdir dengan mengikuti petunjuk Al-Qur'an justru menjadi bekal bagi keberhasilan hidup.

Sesungguhnya, kata Cak Nur, percaya kepada takdir jangan mengakibatkan fatalisme. Sebaliknya, kepercayaan kepada takdir, lanjutnya, akan menjadikan pribadi dengan jiwa seimbang, tahu diri, dan tidak gentar menghadapi kesulitan di masa depan. "Karena kita percaya 'campur tangan' Tuhan," ujarnya.

Belakangan perdebatan tentang takdir mengemuka di media sosial seiring dengan munculnya musibah ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (29/9) sore.

Peristiwa memilukan terjadi ketika ratusan santri ponpes salah satu tertua di Jatim itu, usia seabad lebih, sedang melaksanakan salat Asar berjemaah di gedung yang masih dalam tahap pembangunan tersebut.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyebutkan korban tewas mencapai 67 orang, termasuk delapan bagian tubuh (body part).

Total korban terevakuasi mencapai 171 orang, terdiri 104 korban selamat. Dari jumlah korban meninggal, baru 34 yang teridentifikasi.

Duka mendalam kita rasakan, khususnya, wali santri, atas jatuhnya korban jiwa. Anak-anak tercinta sedang jihad fi sabilillah (berjihad di jalan Allah), mencari ilmu, tetapi berakhir petaka.

Musibah di ponpes yang didirikan KH Raden Khozin Khoiruddin itu, menurut Basarnas, ialah musibah dengan korban terbesar secara nasional pada tahun ini.

Menurut Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi Bencana Badan SAR Nasional Emi Freezer, bangunan Ponpes Al Khoziny mengalami kegagalan konstruksi. Bangunan itu tidak memenuhi standar teknis.

Di tengah duka dan keprihatinan yang mendalam, pernyataan pimpinan Ponpes Al Khoziny sangat mengejutkan. Menurutnya, musibah yang menimpa para santrinya ialah takdir dan meminta kepada para wali santri bersabar.

Memang kita harus percaya dengan takdir karena termasuk rukun iman. Namun, semata-mata menyerahkan kepada takdir tanpa berusaha menciptakan bangunan yang berkualitas, memenuhi standar keselamatan, ialah tindakan yang tidak tepat.

Publik menanti sikap kooperatif pimpinan ponpes dan kontraktor yang amburadul membangun ponpes kepada penyidik Polda Jatim karena hal itu merupakan bentuk pertanggungjawaban.

Kita memaklumi Polda Jatim sangat berhati-hati menangani kasus yang menjadi atensi publik itu. Namun, penegakan hukum harus dilaksanakan sebagai pembelajaran agar kasus serupa tak terulang lagi di kemudian hari. Law enforcement demi kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatn bagi masyarakat.

Membangun gedung baik pribadi atau publik, seperti pesantren, harus tunduk pada ketentuan yang berlaku, yakni Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.

Di sisi lain, pemerintah, wabil khusus Kementerian Agama, belum optimal mendukung eksistensi pesantren, termasuk Al Khoziny yang notabene sebagai ponpes bersejarah.

Pemerintah sebatas kebakaran jenggot dengan rencana audit bangunan pesantren pascamusibah Ponpes Al Khoziny. Menteri Pekerja Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkap ponpes yang memiliki izin persetujuan bangunan gedung (PBG) hanya 51 dari sekitar 42 ribu yang tersebar di Indonesia.

Yang tak kalah pentingnya ialah pemerintah bersama organisasi keagamaan membuat standar tata kelola pesantren. Tujuannya agar pesantren menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi santri.

Dengan demikian, tak ada lagi kasus kekerasan fisik, mental, dan seksual yang belakangan ini semakin marak dan menyeramkan.

Tugas pesantren semakin berat ke depan. Setidaknya, ada tiga tantangan, pertama, mencetak ulama yang mumpuni dan berintegritas.

Kedua, modernitas, kemampuan beradaptasi dengan kemajuan zaman, dan, ketiga, krisis kebangsaan, seiring dengan merebaknya paham transnasional yang merongrong NKRI.

Semestinya pesantren lebih terlindungi dengan hadirnya Undang-Undang Noor 18 Tahun 2018 tentang Pesantren. Ponpes Al Khoziny telah berkontribusi bagi bangsa ini jauh sebelum Republik Indonesia berdiri melalui perjuangan masyayikh. Mari kita jaga Al Khoziny. Tabik!



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."