Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KESEPAKATAN damai antara Hamas dan Israel terasa seperti curahan air deras yang mengakhiri kemarau panjang di Gaza. Nyaris tak tersisa air mata di tanah yang bergolak itu. Bau anyir darah bersabung dengan mesiu hampir meratakan harapan orang-orang Gaza, serata gedung-gedung yang rebah rata dengan tanah.
Saya membaca sajak Zeina Azzam, penyair Palestina-Amerika, berjudul Write My Name, atau Tulis Namaku, yang menggambarkan kegetiran tak terperi penduduk Gaza. Puisi itu viral dan menyentuh hati banyak orang di seluruh dunia. Puisi itu diterjemahkan dalam bahasa Jepang, Turki, Arab, Prancis, Belanda, dan Spanyol.
Seorang pendeta dari sebuah gereja di Afrika Selatan meminta izin untuk membacanya selama kebaktian Minggu. Sebuah jurnal di Australia meminta menerbitkannya. Seorang guru di Kanada utara bertanya, "Apakah saya dapat menuliskannya di kaus agar dapat saya pakai dan saya tunjukkan kepada murid-murid dan guru-guru di sekolah saya?" Di Amerika Serikat, puisi Zeina dibacakan dalam protes, webinar, kebaktian gereja, kantor senator, dan lain-lain.
Puisi Zeina Azzam yang awalnya diterbitkan Vox Populi itu sangat dalam menggambarkan lekatnya rasa pedih warga Gaza:
'Tulis namaku di kakiku, Mama
Gunakan spidol permanen hitam
dengan tinta yang tidak luntur jika terkena air, yang tidak meleleh
jika terkena panas
Tuliskan namaku di kakiku, Mama
Buatlah garis-garis yang tebal dan jelas
Tambahkan sentuhan istimewamu sehingga aku dapat merasa nyaman melihat tulisan tangan ibuku saat aku tidur
Tuliskan namaku di kakiku, Mama
dan di kaki saudara-saudaraku perempuan dan laki-laki
Dengan cara ini kita akan saling memiliki
Dengan cara ini kita akan dikenal sebagai anak-anakmu
Tuliskan namaku di kakiku, Mama
dan tolong tuliskan namamu dan nama Baba di kakimu juga
Agar kita dikenang
sebagai keluarga.
Tuliskan namaku di kakiku, Mama
Jangan tambahkan angka seperti kapan aku lahir atau alamat rumah kita
Aku tidak ingin dunia mencantumkanku sebagai angka
Aku punya nama dan aku bukan angka
Tuliskan namaku di kakiku, Mama
Ketika bom menghantam rumah kita
Ketika dinding menghancurkan tengkorak dan tulang kita,
kaki kita akan menceritakan kisah kita, bagaimana tidak ada tempat bagi kita untuk berlari'
Zeina sangat lugas memotret Gaza. Ia menggoreskan penanya untuk menulis sajak itu hanya dua bulan sejak Israel memulai 'proyek' peluluhlantakan Gaza pada 7 Oktober 2023. Kini, dua tahun empat hari sejak serangan itu, apa yang dituliskan Zeina menjadi kenyataan.
Dalam dua tahun 'pembersihan' Gaza itu, operasi militer Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah menewaskan sedikitnya 66 ribu orang, sekitar 80% di antaranya warga sipil, dan melukai sekitar 169 ribu orang, menurut estimasi konservatif dari Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas. Lembaga internasional memperkirakan jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan 90% rumah di Gaza telah hancur atau rusak, membuat 1,9 juta dari 2,1 juta penduduknya kehilangan tempat tinggal. Karena blokade total yang diberlakukan Israel, sebagian besar wilayah Gaza mengalami kelaparan parah yang telah menewaskan sedikitnya 450 orang, termasuk 150 anak.
Setelah serangan 7 Oktober 2023, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menetapkan dua tujuan utama perang di Gaza: membebaskan semua sandera dan menghancurkan Hamas. Dua tahun berlalu, kedua tujuan itu tidak tercapai. Dari 251 sandera yang dibawa ke Gaza, 148 telah dikembalikan hidup-hidup, delapan diselamatkan IDF, dan 140 dibebaskan Hamas melalui pertukaran tahanan. Jenazah beberapa sandera yang tewas juga telah dikembalikan. Israel pun frustrasi. Penduduk Gaza juga tak punya harapan.
Dua tahun perang di Gaza membuat masyarakat Israel juga lelah dan frustrasi. Survei yang dirilis Israel Democracy Institute yang terbaru menunjukkan 66% warga Israel percaya sudah saatnya perang diakhiri. Selain itu, 64% responden mengatakan Netanyahu harus bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut dan mengundurkan diri.
Pendapat publik terbelah tentang apakah situasi keamanan Israel kini lebih baik, tetapi sebagian besar mengakui posisi Israel di kancah internasional merosot tajam. Tekanan terhadap Israel juga datang dari Amerika Serikat, sekutu dan penyokong utama Israel.
Dengan demikian, sajak Zeina, yang menggambarkan bagaimana warga Gaza hendak 'dibersihkan', menembus dunia, melampaui kecepatan rudal-rudal yang menghancurkan. Kekuatan puisi itu melampaui peluru. Ia membuat warga dunia bergerak, termasuk warga dari negara yang selama ini secara tradisional menyokong Israel dan mengecap Gaza sebagai 'rumah teroris'.
Dunia serentak meneriakkan setop genosida Israel di Gaza. Panggung-panggung musik dan sepak bola mulai dihiasi bendera Palestina yang dikibarkan dengan menyala-nyala, dengan empati yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Itu semua bentuk 'kekalahan telak' Israel di mata dunia. 'Negeri Bintang Daud' itu terkucil, tersudut, lalu akhirnya menyerah di meja perundingan.
Kini, dunia menunggu apakah Israel konsisten dengan kesepakatan di atas meja, atau seperti yang sudah-sudah: mengangkanginya. Dunia tak ingin puisi Zeina hidup lagi, saat ia menulis: 'Tuliskan namaku di kakiku, Mama/Ketika bom menghantam rumah kita/Ketika dinding menghancurkan tengkorak dan tulang kita/Kaki kita akan menceritakan kisah kita, bagaimana tidak ada tempat bagi kita untuk berlari'.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik
SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.
SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.
SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.
IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved