Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
PEKAN lalu, harian Financial Times menaikkan analisis berjudul How South-East Asia Lost Its Way. Penulisnya Ruchir Sharma, bos Rockefeller International sekaligus kolumnis tetap di media ekonomi internasional terkemuka itu. Yang membuat saya tertarik ialah pandangan dia soal perekonomian negara-negara di Asia Tenggara.
Menurut Sharma, negara Asia Tenggara yang paling tangguh secara ekonomi ialah Vietnam. Ia memaparkan sejumlah argumentasi mengapa Vietnam ia sebut negara paling tangguh se-Asia Tenggara dalam hal ekonomi, terutama dalam menyiasati perang dagang global.
Baginya, kenyataan daya tahan ekonomi Vietnam itu tidak mengherankan. 'Respons terbaik membuahkan hasil terbaik. Vietnam ialah satu-satunya pasar saham Asia Tenggara yang memberikan imbal hasil yang kuat, saat Indonesia mengalami penurunan paling tajam', tulis Sharma.
Di antara respons terbaik itu, misalnya, untuk melawan dumping Tiongkok dan hambatan tarif Amerika Serikat, pemerintah Vietnam mendorong reformasi domestik untuk meningkatkan investasi sektor swasta. Pemerintah Vietnam juga merampingkan perusahaan-perusahaan negara.
Selain Vietnam, negara Asia Tenggara yang tangguh di tengah ketidakpastian ekonomi global, menurut Sharma, ialah Malaysia. 'Negeri Jiran' itu mengambil setidaknya beberapa langkah untuk memaksimalkan keunggulan mereka, terutama di sisi pusat data.
Apa yang dianalisis Sharma terkait dengan resiliensi Malaysia itu nyata adanya. Fakta menunjukkan, dalam satu tahun terakhir Johor di Malaysia sukses memantapkan diri sebagai sentra pusat data dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara, dengan pasokan agregat hampir dua kali lipat dalam 12 bulan terakhir. Kemampuan Johor kini menjadi 5,8 gigawatt (Gw) hingga kuartal kedua 2025.
Menurut Laporan Pusat Data Asia-Pasifik Knight Frank terbaru, dengan disokong dukungan pemerintah yang kuat dan peluncuran Pedoman Perencanaan Pusat Data Nasional Malaysia, Johor menjadi penopang ekspansi Asia-Pasifik yang memecahkan rekor, yang ditandai dengan hampir 13 Gw pengumuman proyek baru pada paruh pertama tahun ini. Angka itu melonjak 160% secara tahunan.
Malaysia pun sukses menjadikan Johor sebagai pusat infrastruktur digital yang penting di kawasan ini. Itu bisa dilihat dari meningkatnya adopsi komputasi awan (cloud) dan permintaan berbasis kecerdasan buatan, yang menunjukkan fondasi pasar yang kuat. Malaysia pun diprediksi akan sanggup menjadikan diri mereka sebagai basis strategis untuk investasi digital jangka panjang, sekaligus mencerminkan posisi strategis Malaysia dalam ekonomi digital.
Pada semester I 2025 saja, pasar mencatat 260 megawatt (Mw) aktivitas leasing dengan permintaan yang sebagian besar didorong media sosial (61%) dan beban kerja AI. Tingkat kekosongannya hanya 1,1%, atau salah satu yang terendah di Asia-Pasifik. Hal itu menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan kapasitas listrik dan perencanaan yang matang untuk memenuhi lonjakan permintaan. Itulah yang membuat Malaysia dinilai 'tangguh' secara ekonomi.
Lalu, bagaimana dengan kemampuan negara-negara lain di Asia Tenggara yang secara perekonomian selama ini dianggap relatif mapan? Sharma punya kritik pedas pada Thailand dan Indonesia ihwal daya tahan ekonomi ini. Namun, bagi Sharma, 'dosis' antara Thailand dan Indonesia agak berbeda.
Thailand, tulis Sharma, yang terjerumus dalam gejolak politik, tidak berbuat banyak untuk mempertahankan apa yang sebelumnya merupakan basis manufaktur yang stabil. Stabilitas politik yang terus goyah membuat Thailand seperti 'tidak punya cukup ruang' untuk mengatasi keadaan ekonomi. Akhirnya, mereka seperti 'diam', tidak bergerak.
Indonesia, dalam pandangan penulis asal AS itu, justru 'tergelincir ke dalam kondisi penyangkalan'. Persisnya, Sharma menulis Indonesia lebih berada dalam kondisi 'slipped into a state of denial'. Ia berbicara tentang peningkatan tingkat pertumbuhan Indonesia menjadi 8%, tingkat yang jarang dipertahankan ekonomi mana pun di luar keajaiban ekspor Asia, dan tidak oleh negara mana pun sejak 2000-an.
'Alih-alih berinvestasi untuk menciptakan lapangan kerja pabrik yang baik, Indonesia justru mendorong program-program kesejahteraan, termasuk dukungan bagi koperasi perdesaan yang mandiri, yang akan semakin mendorong deindustrialisasi. Indonesia hanyalah yang terburuk dari yang terburuk di pasar regional terlemah di dunia', tulis Sharma.
Apa yang ditulis Sharma dan dimuat di Financial Times pada 21 September lalu itu kiranya jadi cambuk untuk membuktikan diri. Sepedas apa pun analisis itu, langkah terbaik ialah menunjukkan kepadanya bahwa argumentasi sang analis itu terbukti rapuh, goyah, tak paham kondisi kita. Jurus paling ampuh ialah membuktikan analisis itu meleset jauh, sejauh-jauhnya. Seeing is believing; dengan melihat, orang akan percaya.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved