Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Ilusi PBB

23/9/2025 05:00
Ilusi PBB
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PERANG ialah tradisi purba manusia. Perang dimulai sejak zaman prasejarah atau praaksara, periode sejarah manusia sebelum mengenal dan menggunakan tulisan.

Perang prasejarah dimulai dari konflik skala kecil antarkelompok. Lalu berkembang secara terorganisasi setelah munculnya pertanian dan permukiman tetap. Mereka berebut sumber daya dengan bermodalkan peralatan berburu, seperti tombak dan panah.

Setelah menguasai sumber daya, konflik manusia pun meningkat pada perluasaan wilayah kekuasaan. Manusia tak ubahnya hewan. Yang kuat memangsa yang lemah.

Padahal, manusia dan hewan ialah dua mahluk yang berbeda. Manusia dianugerahi akal oleh Sang Pencipta, sedangkan hewan hanya memiliki insting.

Selain akal, manusia memiliki rasa malu sebagai self-control untuk menyeleksi tindakan, mana yang pantas, mana yang tidak.

Sebaliknya hewan tidak memiliki rasa malu. Mahluk Tuhan itu bebas melakukan apa saja, agresi atau melakukan hubungan seks bebas.

Seiring dengan meningkatnya peradaban manusia, perang bukannya meredup, malah semakin meningkat dengan peralatan canggih dan mematikan. Bahkan, manusia membuat senjata pemusnah massal, senjata yang dirancang untuk menyebabkan kerusakan dan kematian skala besar pada populasi dan lingkungan, seperti senjata nuklir, kimia, dan biologis.

Dunia semakin muram. Geopolitik di berbagai kawasan terus memanas, mendidih, sehingga perang dianggap sebagai sebuah jawaban ketika konflik tak bisa lagi diselesaikan dengan kepala dingin dan akal sehat.

Perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan. Ukraina tidak sendirian melawan negara superpower itu. Di belakangnya ada NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara, aliansi politik dan militer yang dibentuk pada 1949.

Selanjutnya, konflik Israel-Palestina yang abadi, bahkan belakangan berujung genosida yang dilakukan Israel di kawasan Gaza Palestina. Setidaknya, per Agustus 2025, jumlah korban jiwa di Jalur Gaza mencapai 62.004 orang, sebagian besar ialah perempuan dan anak-anak, sejak awal agresi Israel pada Oktober 2023. Sedikitnya 156.230 orang lainnya juga mengalami luka-luka.

Dunia murka dengan pembantaian yang dilakukan Israel di Gaza. Tragedi kemanusiaan menguar. Dengan dalih menyerang pasukan Hamas, rudal-rudal Israel dengan bebas menyerang rumah sakit dan rumah ibadah.

Tak hanya itu, Israel pun tidak memedulikan kedaulatan negara lain dengan menyerang Iran dan Qatar. Negeri para mullah itu membalas serangan Israel dengan menghujani rudal-rudal canggih dan mematikan ke target-target strategis di negeri Zionis.

Namun, Qatar memilih tak membalas. Negeri yang dipimpin Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani itu menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Darurat para pemimpin negara-negara Arab dan Islam diadakan di Doha, Senin (15/9).

Hasilnya, mereka mendesak dilakukan peninjauan kembali hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Israel, mengambil semua langkah hukum, serta upaya untuk menangguhkan keanggotaan mereka di PBB.

Sayangnya, hasil KTT Darurat di Doha itu baru sebatas omon-omon. Belum ada tanda-tanda untuk merealisasikan hasil KTT yang ditunggu banyak negara untuk menghukum kepongahan Israel yang didukung Amerika Serikat.

Di tengah ketidakberdayaan dunia menghentikan kekejian Israel, dunia mempertanyakan eksistensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB/United Nations) yang bertugas menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

Organisasi internasional yang didirikan pada 24 Oktober 1945 itu bertujuan mendorong kerja sama internasional guna tercapainya ketertiban, kedamaian, dan keamanan dunia.

Sebelum terbentuknya PBB, muncul Liga Bangsa-Bangsa (LBB/League of Nations) setelah Perang Dunia I (1914-1918) pada 10 Januari 1920 untuk mencegah terjadinya konflik serupa di kemudian hari. Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson menjadi tokoh kunci yang memprakarsai berdirinya LBB.

Namun, LBB gagal mencegah pecahnya Perang Dunia II. Kendati demikian, sejumlah sengketa perbatasan antarnegara bisa diselesaikan LBB, seperti sengketa Finlandia dan Swedia menyangkut Kepulauan Aland pada 1921.

Selanjutnya, tiga tokoh memprakarsai pembentukan PBB, yakni Presiden Ke-32 Amerika Serikat Franklin D Roosevelt, Perdana Menteri Inggris yang menjabat pada 1940-1945, Winston Churchill, dan pemimpin tertinggi Uni Soviet Joseph Stalin. Mereka bersepakat menjaga kedamaian dunia dan mencegah berkobarnya kembali perang dunia.

Kini, dunia bukan semakin damai, bahkan terancam Perang Dunia III. Kedahsyatan teknologi persenjataan terlihat dalam perang Iran-Israel. Perang yang dimulai serangan udara dan operasi intelijen Israel ke Iran pada 13 Juni 2025. Serangan yang bersandi Operasi Rising Lion menargetkan puluhan objek strategis dengan tujuan menghentikan perkembangan nuklir Iran. Bersyukurlah perang Iran-Israel berhenti.

Sebenarnya sah-sah saja setiap negara memperkuat alat utama sistem senjatanya (alutsista) untuk mempertahankan kedaulatan negara. Hanya saja, ketika kemampuan persenjataan sudah melanggar kedaulatan negara lain, hal itu tidak bisa dibiarkan.

Sayangnya PBB yang memiliki otoritas untuk menjaga perdamaian dunia tidak mampu bekerja maksimal karena dominasi negara-negara yang tergabung dalam Dewan Keamanan PBB.

Mereka memiliki hak veto untuk membatalkan resolusi DK PBB, seperti AS lagi-lagi memveto rancangan resolusi DK PBB yang menyerukan gencatan senjata, pembebasan seluruh sandera yang masih ditahan di Jalur Gaza, dan kelancaran penyaluran bantuan kemanusiaan pada Juni lalu.

Hari ini para pemimpin dunia akan berpidato pada urutan ketiga dalam Sidang Majelis Umum Ke-80 PBB di New York. Dunia terasa gegap gempita. Presiden Prabowo Subianto mendapat urutan ketiga berpidato setelah Presiden Brasil dan Presiden AS.

Walakin, dunia senantiasa dalam ancaman perang apabila sang penjaga perdamaian yang tergabung dalam DK PBB tidak bisa menjaga kedamaian, bahkan membiarkan dunia penuh angkara.

Kedamaian dunia akan menjadi ilusi selama kehadiran PBB menjadi ilusi untuk membuat dunia yang indah, penuh senyum, dan keadaban. Tabik!

 



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."