Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
PERANG ialah tradisi purba manusia. Perang dimulai sejak zaman prasejarah atau praaksara, periode sejarah manusia sebelum mengenal dan menggunakan tulisan.
Perang prasejarah dimulai dari konflik skala kecil antarkelompok. Lalu berkembang secara terorganisasi setelah munculnya pertanian dan permukiman tetap. Mereka berebut sumber daya dengan bermodalkan peralatan berburu, seperti tombak dan panah.
Setelah menguasai sumber daya, konflik manusia pun meningkat pada perluasaan wilayah kekuasaan. Manusia tak ubahnya hewan. Yang kuat memangsa yang lemah.
Padahal, manusia dan hewan ialah dua mahluk yang berbeda. Manusia dianugerahi akal oleh Sang Pencipta, sedangkan hewan hanya memiliki insting.
Selain akal, manusia memiliki rasa malu sebagai self-control untuk menyeleksi tindakan, mana yang pantas, mana yang tidak.
Sebaliknya hewan tidak memiliki rasa malu. Mahluk Tuhan itu bebas melakukan apa saja, agresi atau melakukan hubungan seks bebas.
Seiring dengan meningkatnya peradaban manusia, perang bukannya meredup, malah semakin meningkat dengan peralatan canggih dan mematikan. Bahkan, manusia membuat senjata pemusnah massal, senjata yang dirancang untuk menyebabkan kerusakan dan kematian skala besar pada populasi dan lingkungan, seperti senjata nuklir, kimia, dan biologis.
Dunia semakin muram. Geopolitik di berbagai kawasan terus memanas, mendidih, sehingga perang dianggap sebagai sebuah jawaban ketika konflik tak bisa lagi diselesaikan dengan kepala dingin dan akal sehat.
Perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan. Ukraina tidak sendirian melawan negara superpower itu. Di belakangnya ada NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara, aliansi politik dan militer yang dibentuk pada 1949.
Selanjutnya, konflik Israel-Palestina yang abadi, bahkan belakangan berujung genosida yang dilakukan Israel di kawasan Gaza Palestina. Setidaknya, per Agustus 2025, jumlah korban jiwa di Jalur Gaza mencapai 62.004 orang, sebagian besar ialah perempuan dan anak-anak, sejak awal agresi Israel pada Oktober 2023. Sedikitnya 156.230 orang lainnya juga mengalami luka-luka.
Dunia murka dengan pembantaian yang dilakukan Israel di Gaza. Tragedi kemanusiaan menguar. Dengan dalih menyerang pasukan Hamas, rudal-rudal Israel dengan bebas menyerang rumah sakit dan rumah ibadah.
Tak hanya itu, Israel pun tidak memedulikan kedaulatan negara lain dengan menyerang Iran dan Qatar. Negeri para mullah itu membalas serangan Israel dengan menghujani rudal-rudal canggih dan mematikan ke target-target strategis di negeri Zionis.
Namun, Qatar memilih tak membalas. Negeri yang dipimpin Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani itu menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Darurat para pemimpin negara-negara Arab dan Islam diadakan di Doha, Senin (15/9).
Hasilnya, mereka mendesak dilakukan peninjauan kembali hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Israel, mengambil semua langkah hukum, serta upaya untuk menangguhkan keanggotaan mereka di PBB.
Sayangnya, hasil KTT Darurat di Doha itu baru sebatas omon-omon. Belum ada tanda-tanda untuk merealisasikan hasil KTT yang ditunggu banyak negara untuk menghukum kepongahan Israel yang didukung Amerika Serikat.
Di tengah ketidakberdayaan dunia menghentikan kekejian Israel, dunia mempertanyakan eksistensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB/United Nations) yang bertugas menjaga perdamaian dan keamanan dunia.
Organisasi internasional yang didirikan pada 24 Oktober 1945 itu bertujuan mendorong kerja sama internasional guna tercapainya ketertiban, kedamaian, dan keamanan dunia.
Sebelum terbentuknya PBB, muncul Liga Bangsa-Bangsa (LBB/League of Nations) setelah Perang Dunia I (1914-1918) pada 10 Januari 1920 untuk mencegah terjadinya konflik serupa di kemudian hari. Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson menjadi tokoh kunci yang memprakarsai berdirinya LBB.
Namun, LBB gagal mencegah pecahnya Perang Dunia II. Kendati demikian, sejumlah sengketa perbatasan antarnegara bisa diselesaikan LBB, seperti sengketa Finlandia dan Swedia menyangkut Kepulauan Aland pada 1921.
Selanjutnya, tiga tokoh memprakarsai pembentukan PBB, yakni Presiden Ke-32 Amerika Serikat Franklin D Roosevelt, Perdana Menteri Inggris yang menjabat pada 1940-1945, Winston Churchill, dan pemimpin tertinggi Uni Soviet Joseph Stalin. Mereka bersepakat menjaga kedamaian dunia dan mencegah berkobarnya kembali perang dunia.
Kini, dunia bukan semakin damai, bahkan terancam Perang Dunia III. Kedahsyatan teknologi persenjataan terlihat dalam perang Iran-Israel. Perang yang dimulai serangan udara dan operasi intelijen Israel ke Iran pada 13 Juni 2025. Serangan yang bersandi Operasi Rising Lion menargetkan puluhan objek strategis dengan tujuan menghentikan perkembangan nuklir Iran. Bersyukurlah perang Iran-Israel berhenti.
Sebenarnya sah-sah saja setiap negara memperkuat alat utama sistem senjatanya (alutsista) untuk mempertahankan kedaulatan negara. Hanya saja, ketika kemampuan persenjataan sudah melanggar kedaulatan negara lain, hal itu tidak bisa dibiarkan.
Sayangnya PBB yang memiliki otoritas untuk menjaga perdamaian dunia tidak mampu bekerja maksimal karena dominasi negara-negara yang tergabung dalam Dewan Keamanan PBB.
Mereka memiliki hak veto untuk membatalkan resolusi DK PBB, seperti AS lagi-lagi memveto rancangan resolusi DK PBB yang menyerukan gencatan senjata, pembebasan seluruh sandera yang masih ditahan di Jalur Gaza, dan kelancaran penyaluran bantuan kemanusiaan pada Juni lalu.
Hari ini para pemimpin dunia akan berpidato pada urutan ketiga dalam Sidang Majelis Umum Ke-80 PBB di New York. Dunia terasa gegap gempita. Presiden Prabowo Subianto mendapat urutan ketiga berpidato setelah Presiden Brasil dan Presiden AS.
Walakin, dunia senantiasa dalam ancaman perang apabila sang penjaga perdamaian yang tergabung dalam DK PBB tidak bisa menjaga kedamaian, bahkan membiarkan dunia penuh angkara.
Kedamaian dunia akan menjadi ilusi selama kehadiran PBB menjadi ilusi untuk membuat dunia yang indah, penuh senyum, dan keadaban. Tabik!
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved