Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Revolusi belum Selesai

16/9/2025 05:00
Revolusi belum Selesai
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BERDIRI dengan gagah, berpidato menggelora, berapi-api. Itulah Avishkar Raut, ketua siswa di Everlasting Imperial Institute, Holy Bell English Secondary School, Dhulabari, Jhapa, Nepal.

Tak hanya gaya orasi remaja usia 16 itu yang memukau di podium sekolahnya dalam acara tahunan ke-24 pada Jumat (14/3). Secara substansi pidatonya juga menukik tajam, membumi, menyengat, dan berhasil meledakkan 'bom waktu' seabrek masalah di 'Negeri Himalaya' yang selama ini terpendam.

"Hari ini saya berdiri di sini, berdiri di sini dengan impian membangun Nepal yang baru, dengan api harapan dan semangat yang membara dalam diri saya, " kata Raut dalam pidatonya yang berjudul Jay Nepalatau Hidup Nepal.

Sontak pidatonya disambut aplaus dan dukungan atas apa yang disuarakannya. Ruangan auditorium sekolah bergemuruh. Raut mengajak rekan-rekannya tidak diam, termangu, melihat ketidakberesan di negeri mereka.

"Kalau bukan kalian yang bersuara, siapa lagi? Kalau bukan kalian yang membangun bangsa ini, siapa lagi? Kita ialah api yang akan membakar habis kegelapan. Kita ialah badai yang akan menyapu bersih ketidakadilan dan membawa kemakmuran," tandasnya, dengan suara bergetar.

Pidatonya kemudian viral di jagat media sosial. Raut tak hanya mengobarkan semangat perlawanan kepada rezim di atas podium, tetapi juga memimpin aksi di jalanan.

Unjuk rasa yang dimotori gen Z itu semula dipicu pemblokiran media sosial serta gaya hidup pejabat dan keluarga mereka, tetapi meluas menuntut penguasa mundur karena menjadi biang kehancuran negeri.

Ibu kota Nepal, Kathmandu, yang selama ini tenang, tiba-tiba dilanda gelombang demonstrasi berujung kerusuhan yang sangat masif dan mengerikan. Gedung pemerintah, parlemen, fasilitas publik, dan rumah pejabat luluh lantak dilalap api kemarahan.

Sang PM, KP Sharma Oli, mengundurkan diri. Kini, mantan Ketua Mahkamah Agung Nepal Sushila Karki memimpin Nepal. Namanya muncul atas pilihan gen Z karena memiliki rekam jejak yang mentereng, citra bersih, selama menjadi Ketua MA.

Dia tidak menoleransi praktik rasuah dan terorisme. Kalangan muda memilihnya secara kilat di platform komunikasi digital, Discord.

Pada usianya yang ke-73, Karki menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan tertinggi di pemerintahan sementara. Dia akan menjabat sampai pemilu pada 5 Maret 2026.

Dalam pernyataannya setelah dilantik, dia mengaku tidak ingin terpilih sebagai PM Nepal. Namun, karena gen Z memilihnya, dia akan menjalankan amanah itu sebaik-baiknya . “Apa yang dituntut kelompok ini ialah korupsi diakhiri, tata kelola yang baik, dan kesetaraan ekonomi," ujarnya.

Di sisi lain, Karki secara tegas mengecam segala perusakan, pembakaran, kekerasan, dan penjarahan. Aksi berdarah di Nepal menyebabkan 72 orang tewas dan 191 orang menjalani perawatan di rumah sakit.

Tantangan Karki tidak mudah, berat, sangat berat. Dia harus memulihkan kondisi negeri yang hancur porak-poranda, menegakkan hukum dan ketertiban, membangun gedung pemerintah dan parlemen serta fasilitas negara lainnya yang hancur. The last but not least, dia harus mendinginkan amarah anak muda yang menuntut perubahan negeri yang lebih baik.

Permasalahan di Nepal bersifat multimensi sehingga gen Z menuntut perubahan yang radikal. Menurut Human Development Report 2024 yang dirilis UNDP, seperti dikutip Editorial Media Indonesia, Senin (15/9), sebanyak 20,1% penduduk Nepal mengalami kemiskinan multidimensional dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan standar hidup.

Demikian pula tingkat pengangguran, terutama di kalangan anak muda, juga tinggi di tengah hidup mewah para pejabat mereka.

Perjuangan gen Z di Nepal belum selesai. Mereka bertekad akan terus mengawal pemerintahan sementara hingga terbentuknya pemerintahan defintif hasil pemilu tahun depan.

Perlawanan mereka disebut terinspirasi oleh demonstrasi di Indonesia. Mereka menggunakan simbol-simbol yang sama, seperti bendera One Piece, dan menyuarakan isu-isu yang serupa, yakni korupsi dan ketidakadilan.

Di Tanah Air, meskipun gelombang demonstrasi mulai mereda, kalangan muda yang menyampaikan 17+8 Tuntutan Rakyat masih terus mengawal realisasi dari tuntutan tersebut, baik dalam aksi di jalanan ataupun di media sosial.

Mereka yang berada di garis depan mengawal tuntutan tersebut ialah mahasiswa, public figure, diaspora, influencer, dan kreator konten, seperti Ferry Irwandi.

Sebanyak enam pihak yang dituntut, yakni Presiden Prabowo Subianto, DPR, ketua umum partai politik, Polri, TNI, dan kementerian sektor ekonomi.

Kemarahan kolektif yang berangkat dari keresahan kolektif rakyat menggumpal dan gagal direspons pemerintah dan elite politik. Mereka masih terus bersiasat menyelamatkan kekuasaan mereka dengan berbagai cara atas nama prosedur demokrasi.

Sejarah pergerakan Indonesia dimotori anak muda, seperti Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, dan Reformasi 1998. Sialnya, sejumlah mantan aktivis 1998, alih-alih menjaga cita-cita reformasi, malah mengkhianati reformasi dengan ikut menjadi koruptor dan buzzer ketika berada di ketiak kekuasaan.

Revolusi, kata Bung Karno, belum selesai. Revolusi bukan sekadar membentuk negara nasional dari Sabang sampai Merauke. "Tetapi bertujuan membentuk suatu masyarakat adil dan makmur," ujarnya ketika meresmikan Universitas Pattimura di Ambon pada 23 April 1963. Tabik!



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.