Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Lamine Yamal dan Bonus Demografi

03/5/2025 05:00
Lamine Yamal dan Bonus Demografi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

JAGAT sepak bola digemparkan Lamine Yamal. Remaja itu masih berumur 17 tahun 294 hari. Ia belum genap 18 tahun. Karena itu, Yamal belum bisa diikat dengan kontrak jangka panjang di klub profesional mana pun, termasuk di Barcelona, klub yang mendidiknya. Butuh 71 hari lagi baginya untuk diikat Barca buat lima tahun ke depan.

Namun, statistiknya di lapangan hijau membuatnya menjadi sosok amat ajaib di dunia sepak bola. Bahkan, jika dibandingkan dengan seniornya di Akademi La Masia, Lionel Messi, dan legenda Real Madrid Cristiano Ronaldo, Yamal melampaui mereka. Saat di usia yang sama, 17 tahun, Messi yang dijuluki pesepak bola dari planet lain baru bermain sembilan kali, bikin satu gol, dan tanpa assist (umpan berbuah gol).

Pula dengan bintang asal Portugal Cristiano Ronaldo, yang cuma bermain 19 kali, bikin lima gol, dan empat assist saat masih 17 tahun. Sebaliknya Lamine Yamal, menurut TNT Sports, sudah menorehkan 100 penampilan dan bikin 22 gol serta 33 assist.

Dari segi trofi, Yamal juga jauh melebihi capaian keduanya. Yamal sudah memenangi gelar La Liga 2022/2023, Copa del Rey 2024/2025, dan Piala Super Spanyol. Ia juga mengantar timnas Spanyol juara Piala Eropa tahun lalu. Sementara itu, Messi cuma membawa gelar La Liga dan Piala Dunia U-20, sedangkan Ronaldo memenangi gelar Piala Super Portugal di usia 17 tahun.

Di usia 17 tahun, Yamal sudah membuat 'gelombang' di dunia sepak bola. Yamal yang masih amat belia tidak takut pada bola, dengan visi dan kontrol bola jauh melampaui usianya. Karena itu, Yamal bukan hanya prospek, melainkan pengubah permainan. Semua torehan itu membuktikan usia hanyalah sebuah angka.

Saya lalu membayangkan kita punya sosok 'pengubah' seperti Yamal, di tengah waktu yang sedang berbaik hati dengan negeri ini. Saat ini, di negeri ini, jumlah penduduk usia produktif sedang berada dalam puncaknya. Inilah sebuah fase yang oleh para ahli disebut sebagai bonus demografi. Banyak yang menyambutnya dengan gegap gempita, menyebutnya sebagai peluang langka, sebagai pintu emas menuju Indonesia maju.

Bayangkan jika momentum itu mampu melahirkan banyak pengubah, bukan sekadar prospek. Sejauh ini, bonus demografi masih berada di titik prospek, di garis janji manis angka statistik. Umumnya orang masih berhenti di titik itu, belum siap menjadi 'Yamal-Yamal' sang pengubah permainan.

Itu disebabkan masih banyak yang memandang bonus demografi sebagai given, takdir sejarah, atau berkat otomatis. Masih ada yang memandang hadirnya usia produktif dalam jumlah besar akan langsung mengantarkan kita pada kesejahteraan. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Usia produktif bukan jaminan produktivitas, sebagaimana banyak pemain sepak bola usia 17 tahun yang tidak otomatis secemerlang Lamine Yamal.

Saya sepakat dengan pernyataan Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta yang kini jadi pemikir dan penulis produktif. Kata Anies, banyak di antara generasi muda hari ini justru berada dalam tekanan luar biasa. Tekanan untuk sukses, tekanan untuk menopang ekonomi keluarga, tekanan untuk menghadapi ketidakpastian pekerjaan, sekaligus tekanan bagaimana menata masa depan dalam ruang hidup yang kian mahal.

'Yang terlihat adalah angka. Yang tersembunyi adalah kelelahan kolektif. Dalam suasana itu, generasi ini diharapkan menjadi penopang kemajuan, tapi sering kali dilupakan bahwa mereka juga manusia biasa yang butuh ruang untuk bernapas, bukan sekadar bekerja', tulis Anies dalam Kolom Pakar, Media Indonesia, edisi Senin (28/4).

Karena itu, jangan heran bila di balik kata produktif justru tumbuh fenomena sunyi seperti kelelahan psikis, gangguan mental, dan rasa hampa di tengah hiruk-pikuk digital. Bonus itu bisa menjelma menjadi ilusi bila kita hanya bicara kuantitas, bukan kualitas kehidupan.

Kita juga sedang menyaksikan pergesekan yang makin terasa antara generasi yang lama dan yang muda. Aspirasi generasi muda hari ini tidak sama dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dalam dunia digital, dunia terbuka, dunia yang menuntut transparansi, kecepatan, dan kolaborasi. Namun, ruang pengambilan keputusan masih dikendalikan logika dan kultur lama yang pelan, eksklusif, dan hierarkis. Ketika ide-ide segar terhenti di tembok birokrasi, bukan hanya gagasan yang mati, melainkan juga semangat untuk percaya.

Di Barcelona, Lamine Yamal tumbuh dalam lingkungan yang memberikan ruang terbuka bagi aspirasinya. Xavi Hernandez, pelatih yang memberikan debut kepada Yamal, berani 'berjudi' dengan kepercayaan. Hansi Flick, pengganti Xavi, malah kian memercayainya. Rekan satu tim Yamal yang jauh lebih senior tak segan memberikan ruang bagi si anak remaja ini. Dengan itu semua, jadilah Barca sebagai klub yang kembali bangkit di tengah keterpurukan karena pukulan finansial secara bertubi-tubi.

Bila di negeri ini ada ekosistem seperti itu, bonus demografi akan paralel dengan kesejahteraan, kemajuan, kemenangan. Bila 'Yamal-Yamal' bertumbuhan, lalu bertemu dengan 'tangan Xavi dan Flick', juga kesadaran para senior untuk bermain sebagai tim dan tidak mengedepankan ego, bonus demografi tentu bukan sekadar angka statistik dan mimpi, melainkan kenyataan yang hidup. Ia seperti Yamal sang pengubah permainan, bukan sekadar prospek atau gambaran besar tanpa kenyataan.



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.