Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Evaluasi yang Terlupakan

25/4/2025 05:00
Evaluasi yang Terlupakan
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PER Senin (21/4), Kabinet Merah Putih sudah berumur enam bulan alias satu semester. Kabinet gemuk yang bila ditotal dengan wakil menteri dan utusan khusus presiden berjumlah lebih dari 100 orang itu dilantik pada 21 Oktober 2024, tepat sehari setelah pelantikan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2024-2029.

Suatu kali, Presiden Prabowo pernah menjanjikan akan ada evaluasi kinerja kabinet pemerintahannya setelah enam bulan mereka bertugas. Ia menyampaikan itu saat publik menanyakan evaluasi 100 hari pertama pemerintahan pada awal tahun ini. Ketika itu Prabowo menjawab bahwa di era pemerintahan dia, tidak ada evaluasi 100 hari, yang ada ialah evaluasi berkala setiap enam bulan.

Kini setelah enam bulan berlalu, bagaimana hasil evaluasi satu semester awal ini? Sepertinya terlupakan. Pemerintah lupa atau sengaja mengabaikannya dulu, sedangkan perhatian publik kiranya agak teralihkan oleh event-event yang menguras atensi seperti Ramadan dan Lebaran, dan pada saat yang sama juga mesti menghadapi kondisi kehidupan ekonomi mereka yang kian compang-camping.

Padahal, evaluasi kinerja kabinet sangat diperlukan. Tidak saja untuk memenuhi janji Presiden, tetapi juga untuk akselerasi kerja pemerintah. Apalagi, sejujurnya, nyaris tidak ada yang menonjol dari kinerja para menteri dan wakil menteri periode ini. Menang banyak doang, tapi hasil kerjanya enggak optimal. Yang banyak muncul, ini bahkan sudah terjadi sejak awal, justru kebijakan dan komentar-komentar kontroversial dari sebagian anggota kabinet.

Namun, nyatanya Presiden tampak nyaman-nyaman saja dengan kinerja anak buahnya meski banyak program dan kebijakan pemerintah yang 'ajaib' dan malah menyusahkan masyarakat. Prabowo juga terlihat selow-selow saja meski publik dan banyak kalangan ahli sudah merekomendasikan perombakan kabinet untuk mengganti sejumlah menteri dan wakil menteri yang dinilai jadi titik lemah.

Ia bahkan seperti tak merasa terganggu ketika sejumlah pembantunya di KMP alih-alih mengakselerasi kinerja mereka di tengah situasi Indonesia yang semakin tidak baik-baik saja, malah memilih menyambangi 'mantan bos' mereka di Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Pada momen Lebaran, kemarin, misalnya, para menteri bergiliran sowan ke kediaman mantan Presiden Joko Widodo. Sebagian di antara mereka bahkan masih menganggap Jokowi sebagai bos, bukan sekadar mantan bos.

Sampai-sampai muncul istilah matahari kembar lantaran Pak Mantan itu seolah-olah masih ingin menebar pengaruh sekaligus memegang sebagian kendali atas pemerintahan saat ini. Netizen yang budiman pun, seperti biasa, merespons isu itu dengan komentar-komentar lucu, tapi menohok. 'Mataharinya kembar, kok Indonesia malah makin gelap?' tulis salah satu warganet di platform X. Ah, sudahlah.

Kembali ke soal evaluasi kabinet, Presiden Prabowo sebetulnya pernah sekali melakukan reshuffle menteri, yaitu mengganti Mendikti-Saintek Satryo Soemantri Brodjonegoro dengan Brian Yuliarto. Hal itu sempat membersitkan harapan bahwa penggantian menteri-menteri lain yang kerja dan attitude-nya juga tak kalah amburadul dan tak sesuai dengan ekspektasi publik bakal dilakukan lagi. Namun, faktanya tak terjadi, bahkan evaluasi enam bulanan yang dijanjikan pun tak terealisasi.

Sesungguhnya, evaluasi yang terlupakan itu menjadi hal yang amat disayangkan karena pada enam bulan kedua pemerintahan Prabowo nanti situasinya akan jauh lebih sulit dihadapi. Perang dagang global sudah di depan mata dengan Indonesia berpotensi menjadi 'pelanduk yang bakal mati di tengah-tengah' jika kita tidak punya cara yang tepat dalam merespons dan berstrategi menghadapi itu.

Belum lagi situasi di Tanah Air yang juga sedang menghadapi banyak persoalan berat di berbagai sektor. Ada korupsi yang bikin negara rugi ratusan triliun, ada politik yang kerap ditransaksikan, ada semakin banyak hakim yang memperjualbelikan hukum.

Di sektor ekonomi ada daya beli dan simpanan masyarakat yang terus menyusut, pun masih ada tren gelombang PHK di sejumlah sektor industri yang masih berlanjut. Begitu pula di bidang lain, ada problem besar terkait dengan moral, etik, dan integritas sehingga terjadi banyak kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan dokter, polisi, dan bahkan guru.

Untuk bisa keluar dari labirin itu, jelas dibutuhkan kecakapan penyelenggara negara. Tentu yang menjadi ujung tombaknya ialah presiden dan para pembantunya. Kalau kecakapan mereka saja masih diragukan, bagaimana masyarakat bisa diyakinkan pemerintah ini bakal bisa menyelesaikan permasalahan pelik bangsa?

Betul, bukan cuma pandangan publik yang dijadikan patokan untuk menilai kecakapan seorang menteri atau wakil menteri. Itulah alasannya mengapa pemerintah mesti melakukan evaluasi internal secara objektif terhadap seluruh anggota kabinet dengan indikator-indikator yang jelas dan terukur. Dengan demikian, evaluasinya menjadi fair.

Menteri yang kinerjanya bagus, punya target jelas, dan siap dengan strategi untuk mencapainya, silakan pertahankan. Yang biasa-biasa saja, tak kelihatan bagus atau tidak mencorong karena tidak ada gebrakan yang dilakukan, mungkin bisa diberi kartu kuning. Nah yang kerjanya tak becus, kerap menebar omon-omon doang, tidak memiliki pola komunikasi yang baik terutama kepada publik, yang seperti itu apa iya masih perlu dipertahankan?



Berita Lainnya
  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.