Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Ketimpangan

18/1/2025 05:00
Ketimpangan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ADA dua informasi penting dari Badan Pusat Statistik (BPS), awal pekan ini. Sayangnya, tidak semua pengumuman lembaga statistik resmi milik negara itu kabar baik. Dari dua informasi itu, yang satu kabar baik, satunya lagi kabar buruk.

Saya suka memulainya dari kelaziman saja, yakni kabar baik. Apa itu? Angka kemiskinan terus turun. Bahkan, secara persentase, mencetak sejarah: untuk pertama kalinya sejak BPS mengumumkan statistik kemiskinan pada 1960, angka kemiskinan per September 2024 'tinggal' 8,57%.

Secara jumlah, angka kemiskinan juga turun 1,16 juta orang menjadi 24,06 juta orang bila dibandingkan dengan posisi pada Maret 2024 yang masih 25,22 juta orang. Angka penurunan orang miskin hingga lebih dari 1 juta orang dalam kurun enam bulan itu jelas jumlah yang besar. Bila dirata-rata, tiap bulan lebih dari 193 ribu orang miskin di negeri ini bisa dientaskan.

Saya membayangkan alangkah indahnya jika ada lebih banyak orang bisa memiliki kehidupan yang layak. Kapan itu? Ketika angka-angka kemiskinan yang semula mengimpit perlahan-lahan berkurang.

Namun, statistik kerap berjalan dalam logika yang tidak linier. Misalnya, kendati jumlah orang miskin turun signifikan, tingkat kedalaman kemiskinan masih terus dirasakan. Mereka yang di posisi hampir miskin sejatinya masih terus pontang-panting untuk mempertahankan hidup untuk berada di posisi 'pinggir jurang'. Kualitas hidup masih menjadi pertaruhan.

Saya lalu teringat rumusan penting dari ahli ekonomi Amartya Sen soal tolok ukur kemiskinan yang amat relevan dengan kondisi kita saat ini. Kata peraih Hadiah Nobel Ekonomi 1998 itu, kemiskinan bukan hanya tentang rendahnya pendapatan, melainkan juga ketidakberdayaan secara umum.

Orang yang memiliki banyak uang tapi mengidap sakit yang akut bisa disebut sebagai orang yang tidak sejahtera karena ia memiliki tingkat keberdayaan yang relatif rendah. Ia tidak memiliki kualitas hidup yang baik. Seturut dengan itu, Sen mengusulkan tolok ukur kualitas hidup sebagai ukuran untuk melihat apakah pembangunan di sebuah negara berhasil atau tidak.

Bagi Sen, pembangunan di sebuah negara masih dinilai belum berhasil jika hak-hak dan kebebasan sipil tidak terjamin meskipun PDB-nya tinggi. Sebab, kata Sen, pembangunan ialah pembebasan yang menyangkut bukan hanya kesejahteraan (wellbeing freedom), melainkan juga kebebasan individu (agency freedom).

Ada yang menganalogikan rumusan Sen itu dengan orang yang sedang berpuasa. Ada kesamaan antara orang yang berpuasa dan yang kelaparan karena miskin: sama-sama tidak mengonsumsi makanan dan minuman. Namun, ada perbedaan tajam di antara keduanya. Mereka yang berpuasa sebenarnya memiliki kebebasan untuk makan dan minum, tetapi memilih berpuasa, sedangkan mereka yang kelaparan tidak memiliki kebebasan untuk makan karena memang tidak ada yang bisa dimakan.

Itulah kenapa Sen amat serius menanggapi munculnya ketimpangan ekonomi dan itulah berita buruk dari pengumuman BPS pekan ini. Angka ketimpangan yang ditunjukkan melalui rasio Gini justru meningkat. Pada September 2024 angka rasio Gini menjadi 0,381, dari Maret 2024 yang sebesar 0,379. Semakin tinggi rasio Gini, semakin lebar pula ketimpangan.

Ketimpangan muncul karena pembangunan, kata Sen, tidak berjalan inklusif. Ketika membahas pemulihan ekonomi pascapandemi covid-19, Sen menyeru bahwa pemulihan ekonomi pascapandemi menuntut pembangunan yang semakin inklusif karena ada sejumlah persoal besar menanti. Apa itu? Ketimpangan pendapatan, risiko memburuknya kualitas modal manusia (pendidikan dan kesehatan), dan ketimpangan gender.

Perekonomian memang berangsur membaik, kemiskinan turun, tetapi ada risiko pemulihan yang timpang. Ada yang naik dan ada yang turun. Perusahaan di bidang teknologi digital, kesehatan, atau mereka yang memiliki tabungan akan mudah bangkit. Namun, usaha mikro, pekerja sektor informal, dan mereka yang tidak punya tabungan akan terpuruk.

Pembangunan pascapandemi harus memberikan akses untuk masyarakat luas. Itu hanya bisa terwujud jika ia tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pembangunan institusi, termasuk akses kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender. Itu membutuhkan institusi hukum dan bekerjanya demokrasi agar setiap orang punya ruang untuk mengembangkan kapasitas masing-masing.

Orang menjadi miskin karena mereka tidak bisa melakukan sesuatu, karena ruang kapabilitas mereka kecil, bukan karena mereka tidak memiliki sesuatu. Dengan logika itu, kesejahteraan tercipta bukan karena barang yang kita miliki, melainkan karena aktivitas yang memungkinkan kita memiliki barang tersebut.

Di sini elemen kebebasan menjadi penting. Jika orang dibatasi hak politiknya, terbatas pula aksesnya untuk pendidikan dan kesehatan, ruang kapabilitasnya menjadi kecil. Menjadi terbatas. Ia tidak bisa mengembangkan dirinya.

Negara mesti memutus mata rantai ketimpangan itu dengan memberikan ruang yang lebar bagi kesetaraan dan demokratisasi pembangunan. Bila tidak, kita akan terus-menerus membincangkan ketimpangan dari rezim ke rezim dan tidak tahu sampai kapan itu diatasi.

Seperti penggalan lirik lagu Blowing in the Wind karya Bob Dylan: 'How many deaths will it take till he knows, that too many people have died' (Berapa banyak kematian yang dibutuhkan, sampai dia tahu, itu terlalu banyak).



Berita Lainnya
  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.