Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Mem-branding Gibran

06/12/2024 05:00
Mem-branding Gibran
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BARANGKALI hanya sedikit di antara kita yang asing dengan pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bahasa Inggrisnya apple never falls far from the tree. Artinya sifat, tingkah laku, dan kebiasaan orangtua akan diikuti anak mereka.

Masih ada peribahasa dengan arti serupa. Like father like son. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan jua. Atau, untuk konotasi yang cenderung negatif, guru kencing berdiri murid kencing berlari. Apa yang dilakukan, diajarkan, oleh orangtua, oleh guru, akan ditiru anak mereka, murid mereka.

Pepatah itu makin pas untuk menggambarkan Gibran Rakabuming Raka. Gibran ialah Wakil Presiden Republik Indonesia. Dia masih muda, bahkan termuda sebagai orang nomor dua di negeri ini. Usianya baru 37 tahun. Gibran putra mbarep Presiden Ke-7 RI Joko Widodo. Tak cuma anak biologis, dia kiranya juga anak ideologis Jokowi.

Gibran bisa menjadi wapres yang utama ialah karena dia anak Jokowi yang ketika pilpres masih menjadi presiden. Gibran bisa menjadi wapres lantaran akal-akalan di Mahkamah Konstitusi yang kala itu diketuai Paman Usman. Gibran bisa menjadi wapres juga karena meniru cara dan gaya Jokowi.

Seperti bapaknya, Gibran paham betul pentingnya popularitas dalam politik. Karena itu, dia rajin melakukan banyak hal agar populer, agar dikenal rakyat, agar terus berada di orbit pembicaraan publik. Soal patut tidak patut, perihal elok tidak elok, itu lain soal. Yang penting tenar, yang penting citranya baik.

Banyak yang menilai Jokowi bisa menjadi presiden karena hebat dalam pencitraan. Semua berawal dari mobil 'gaib' Esemka, muasalnya dari gorong-gorong. Begitu istilah yang kerap terucap dari mulut oposan. Jokowi kembali terpilih untuk periode kedua juga tak lepas dari keberhasilan memoles citra. Dia ialah presiden yang paling kerap berkunjung ke daerah, meresmikan proyek-proyek pembangunan. Perihal urgen-tidaknya kunjungan yang dia lakukan, itu soal lain.

Jokowi ialah presiden yang paling suka bagi-bagi bansos, juga menyebar bingkisan atau sekadar kaus. Pada masa Pilpres 2024 saat anaknya ikut berkompetisi, dia 24 kali melakukan kunjungan dan membagikan bansos ke Jawa Tengah. "This is unprecedented and only in Indonesia," begitu kata Todung Mulya Lubis dalam sengketa hasil pilpres di MK.

Apakah bagi-bagi bansos secara langsung merupakan ranah presiden, urusan presiden, itu tak penting. Yang penting nama Jokowi baik di mata rakyat. Hasilnya memang oke, tingkat kepuasan terhadap dirinya sekitar 80%. Tertinggi untuk seorang presiden, tak cuma di Indonesia, bahkan di dunia. Alasannya? Ya itu tadi, salah satunya soal bansos.

Bagaimana dengan Gibran? Plek ketiplek. Dia juga hobi blusukan dan menebar bantuan. Langkahnya itu bahkan sudah dilakukan sejak sebelum dilantik lalu makin intens setelah dia resmi menjadi wapres. Terakhir, dia mengunjungi warga korban banjir di Kebon Pala, Kampung Melayu, Jakarta Timur, pada Kamis (28/11).

Tentu, dia datang tidak dengan tangan hampa. Bantuan dia bawa serta. Yang janggal, bantuan itu dikemas dalam tas biru bertuliskan 'Bantuan Wapres Gibran'. Tampak gambar Istana Wapres di bagian tengah goodie bag itu.

Gibran sepertinya kurang percaya diri. Dia seolah ingin kepastian untuk dikenang sebagai pejabat yang berbudi baik, yang hadir di tengah rakyat yang kena musibah sehingga namanya perlu dicantumkan di tas bantuan. Seandainya tas itu bertuliskan 'Bantuan Wapres' saja sudah dipersoalkan, terlebih ada embel-embel namanya. Untuk hal itu, dia selangkah di depan Jokowi yang dulu membagikan bingkisan dalam tas bertuliskan 'Bantuan Presiden Republik Indonesia'.

Bansos diambil dari APBN, dari dana negara, uang rakyat. Pihak istana boleh berkilah bahwa Gibran berhak memberikan bantuan atas nama jabatannya. Wapres juga dibilang punya dana operasional. Namun, ia tetaplah bersumber dari keuangan negara, duit masyarakat. Lagi-lagi ini soal kepatutan. Pantaskah wapres berulang-ulang menyerahkan langsung bansos, terlebih nama dirinya sengaja dicantumkan di tas bantuan? Patutkah wapres mem-branding dirinya dengan uang negara?

Ada yang menganggap pantas, banyak pula yang bilang tidak. Termasuk saya. Ihwal teknis bansos mestinya urusan mensos, bahkan di beberapa kasus cukup ketua RT, bukan kelasnya wapres. Tugas wapres jauh lebih besar daripada sekadar menyalurkan bantuan. Namanya RI-2, wapres seharusnya melakukan sesuatu yang lebih strategis. Ikut mendatangkan investor, misalnya. Bicara di forum-forum dengan menyampaikan gagasan-gagasan besar, umpamanya.

Tidak ada guru yang setara dengan ibu dan tidak ada yang lebih menular daripada martabat seorang ayah. Jika menukil teori match and mirror, barangkali Gibran ingin terus dilihat, didengar, dan dirasakan seperti ayahnya, Jokowi. Dalam jangka pendek, Gibran hendak menunjukkan bahwa dia bisa bekerja. Untuk jangka panjang, dia bisa jadi ingin menebalkan investasi politik untuk 2029. Masih efektifkah cara itu? Biarlah waktu yang bicara nanti.

Yang pasti, sebagian masyarakat kita masih silau dengan popularitas sebagai pengungkit elektabilitas pemimpin. Masih banyak yang abai dengan intelektualitas dan etikabilitas mereka. Mirip-mirip dengan entertainment yang di dalamnya seseorang dapat menjadi pesohor, dipuja, punya jutaan pengikut, bukan karena prestasi, melainkan lantaran sensasi dan kontroversi. Celaka nian kalau negara terus disamakan dengan dunia hiburan.

 



Berita Lainnya
  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.