Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Sihir Tanah Air

30/11/2024 05:00
Sihir Tanah Air
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DI mana kita menemukan Indonesia? Di politik, ekonomi, seni, olahraga, kebudayaan, atau di sudut mana? Pertanyaan itu menarik diapungkan karena hari-hari ini banyak orang merasa 'kehilangan' Indonesia, khususnya di bidang politik dan lapangan ekonomi.

Di dua lahan itu, Indonesia seperti amat sumir. Sebagian bahkan menyebutnya buram. Malah ada yang mengatakan hilang. Seolah tak berlaku lagi pujian Alfred Russel Wallace, seorang penjelajah dan antropolog asal Inggris, yang pernah meneliti soal Indonesia.

'Pulau Jawa juga tepat sebagai contoh bagi para moralis dan politikus yang mau memecahkan masalah tentang bagaimana manusia bisa diatur dan dikelola dengan cara terbaik dalam segala kebaruan dan keragaman kondisi', tulis Alfred.

Namun, itu dulu, pada awal abad ke-19, saat Alfred Wallace menjelajah Nusantara, khususnya di Pulau Jawa. Kini, di abad ke-21, di dunia politik dan ekonomi, moralitas luruh. Politikus banyak yang mengejar kekuasaan dengan membeli suara. Perekonomian dianggap hanya memakmurkan segelintir orang.

Contoh keteladanan elite yang di masa awal-awal kemerdekaan melimpah kini seperti jarum dalam tumpukan jerami. Negarawan hanya riuh di panggung-panggung dan hidup di alam harapan, tapi sulit ditemukan di alam kenyataan.

Tidak ada lagi pepatah een leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden (jalan memimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin itu menderita). Pepatah kuno Belanda itu dulu diucapkan Kasman Singodimedjo saat dirinya bersama Mohammad Roem dan Soeparno berkunjung ke rumah Haji Agus Salim di Gang Tanah Tinggi, Jakarta, pada 1925.

Yang terjadi kini justru sebaliknya, een leider te worden is eenvoudig. Leiden is genieten. Artinya, jalan memimpin itu mudah. Memimpin itu menikmati. Tidak perlu bersusah payah, apalagi sampai menderita.

Di lapangan politik dan ekonomi, siapa yang 'memimpin' dan punya kekuasaan berarti meraih segalanya. Mereguk kenikmatan. Jalan menjadi pemimpin bisa dilakukan dengan menerabas, membeli, dan mengakali. Itulah mengapa banyak yang merasa kehilangan Indonesia, terutama di bidang politik dan ekonomi.

Namun, kita beruntung punya Saridjah Niung, atau yang lebih dikenal dengan Ibu Sud, punya Wage Rudolf Soepratman, punya tim nasional sepak bola Indonesia. Lagu ciptaan Ibu Sud yang berjudul Tanah Airku dan lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan WR Soepratman membuat jutaan orang menemukan kembali Indonesia, bukan di ranah politik maupun ekonomi, melainkan di lapangan, di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Timnas Indonesia tengah menjadi pembicaraan di berbagai belahan dunia. Di Jepang, Australia, Belanda, Amerika, Inggris, Arab Saudi, Tiongkok, Bahrain, Vietnam, juga Malaysia, timnas berkali-kali diulas, dibahas, dianalisis. Lebih dari 60 negara menyiarkan pertandingan kandang timnas di putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.

Momen sakral saat lantunan Indonesia Raya sebelum laga dimulai dan Tanah Airku saat laga usai (baik saat seri, kalah, maupun menang) membuat merinding dan mata berkaca-kaca. Seluruh semesta menyaksikan bagaimana puluhan ribu pasang mata menyanyi secara serempak, menyihir dunia, mengharukan semesta.

Juga, perilaku sebagai tuan rumah yang ramah membuat Indonesia dikenali lagi. Berbagai media Jepang memuji setinggi langit keramahan suporter Indonesia. Kata media Jepang itu, "Indonesia menunjukkan karakter aslinya sebagai bangsa yang sangat ramah dan murah hati."

Di media sosial milik beberapa akun suporter Arab Saudi, juga berseliweran pujian keramahan itu. Kata asalamualaikum terus-menerus meluncur dari mulut suporter Indonesia. Beberapa di antaranya penonton bertukar jersei, kaus, kebanggaan timnas masing-masing.

Karena itu, di lapangan sepak bola itu, banyak orang menemukan kembali Indonesia. Mereka menemukan dengan kebanggaan, dengan keramahan, dengan cinta. Dalam ketulusan itu semua, citra Indonesia sebagai bangsa yang ramah, heroik, dan cinta Tanah Air kembali diakui dunia.

Para politikus, pelaku ekonomi, dan pembuat kebijakan kiranya perlu merenungkan itu semua. Saya membayangkan saat timnas Indonesia berlaga di Piala Dunia 2026. Di berbagai tempat di Tanah Air, orang-orang serempak menyayikan Indonesia Raya dan Tanah Airku dengan rasa bangga, baik timnya seri, kalah, maupun menang.



Berita Lainnya
  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.