Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SUATU hari di pertengahan 1993, saya datang ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. Tanpa membuat janji, saya nekat datang ke Fisipol UGM untuk menemui sang dekan, Ichlasul Amal. Saya berniat mengundangnya sebagai pembicara untuk sebuah diskusi di Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, tempat saya menjadi ketua panitia diskusi.
Ketika melihat tampangnya yang selalu tersenyum, saya yakin Pak Ichlasul Amal tidak akan tersinggung walau saya nekat menemuinya, tanpa janjian. Apa yang jadi 'prasangka baik' saya terbukti. Saat ketemu di selasar, saya cegat dia. "Pak, bolehkah saya bicara?" tanya saya yang dijawab dengan senyum ramah sembari menggamit pundak saya dan diajak ke ruangannya.
Saat saya memperkenalkan diri bahwa saya bukan mahasiswa UGM, melainkan UNS, ekspresi mukanya tidak berubah. Pak Ichlasul justru menyambut kami dengan hangat. Menyediakan minuman teh 'ginasthel' (legi, panas, kenthel), malah.
Singkat cerita, saya menyampaikan maksud kedatangan saya yang memintanya menjadi narasumber diskusi yang kalau tidak salah temanya Masa depan politik Orde Baru. Bukan perkara mudah membuat diskusi yang menyerempet bahaya. Diskusi 'pinggir jurang' kata para komedian tunggal kini.
Namun, Pak Ichlasul dengan senyumnya yang mengembang menyatakan bersedia. "Insya Allah saya akan datang," katanya yang membuat saya amat lega.
Bagi Pak Ichlasul Amal, kampus ialah mimbar akademik. Tempat bersemainya macam-macam pikiran. Alih-alih dihindari, ia justru mesti dipupuk. Baginya, membicarakan tema politik Orde Baru tidak haram kendati risikonya bisa dibubarkan intelijen. Pada saat itu, intelijen ialah momok bagi mereka yang bernyali ciut.
Karena nyali saya juga agak ciut, saya minta saran bagaimana sebaiknya isi pembicaraan dalam diskusi nanti. Apakah perlu 'disesuaikan' dosisnya? Atau malah digas saja tanpa kompromi? Sembari terkekeh, Pak Ichlasul malah tanya, "Umur kamu berapa?" Yang saya jawab, "Umur saya 22 tahun lewat sekian bulan."
Lalu, Pak Ichlasul bilang, "Umur segitu biasanya lagi garang-garangnya. Kok, kamu malah mikir dosis dan penyesuaian segala? Sudah, mengalir saja nanti. Kampus itu tempat menyemai beragam pikiran."
Diksi 'mengalir' memang kerap disampaikan santri kelahiran Jember, Jawa Timur, pada 1 Agustus 1942, itu. Termasuk saat ditanya cita-citanya ketika kecil. "Saya tidak punya cita-cita spesifik di tengah banyak anak di kampung saya terpincut menjadi pedagang. Saya mengalir saja," kata dia dalam sebuah kesempatan.
Yang saya kagum dari sosok yang bersahaja ini ialah mental bajanya. Ia punya mentalitas petarung dan berani meski dengan mimik muka tersenyum (oleh sejumlah orang, mimik muka banyak senyum kerap dianggap penakut). Namun, di balik keramahan dan senyum yang selalu mengembang ada 'keberanian' yang bahkan tidak dimiliki orang-orang yang suka menggertak dan bermuka garang.
Saat menjadi pembicara dalam diskusi itu, Pak Ichlasul Amal dengan gamblang menjelaskan rezim otoriter di mana-mana akan 'dilumat' sejarah. Pun Orde Baru, katanya, akan selesai ketika tunas-tunas muda yang kritis akan bergerak bersama-sama. Ia menyampaikan narasi yang galak itu tetap dengan nada kalem, cool.
Itulah strategi khas Ichlasul Amal, putra seorang penggerak Masyumi di kampungnya. Satu hal yang amat sulit ditiru dari seorang Ichlasul Amal ialah ia mampu menyampaikan kritik tajam tanpa membuat pihak yang dikritik marah. Selain itu, Ichlasul Amal bukan sosok yang baperan dan mudah tersinggung.
Ia, misalnya, tidak pernah mempersoalkan honorarium saat menjadi pembicara. Bahkan, bila yang menyelenggarakan acara ialah para mahasiswa, Ichlasul Amal kerap mengikhlaskan honor itu. Ia tidak mau menerima, bahkan ia kembalikan kepada panitia.
Seorang mantan wartawan Masa Kini Hamid Basyaib punya kisah bagaimana Pak Ichlasul ini bukan pribadi yang baperan. Suatu hari, Duta Besar Australia di Jakarta, Richard Woolcott, akan menghadiri suatu acara budaya di Yogyakarta dan Hamid ingin mewawancarainya tentang isu politik yang sedang hangat antara Australia dan Indonesia.
"Tapi bagaimana cara terbaik mewawancarainya? Apa saja yang harus saya tanyakan? Pengetahuan saya tentang politik Australia hampir nol, pemahaman tentang sumber-sumber konflik antara Indonesia dan Australia tak kalah besar nolnya," kata Hamid.
Karena itu, di pertengahan 1980-an itu, ia mendatangi rumah Ichlasul Amal, dosen Fisipol UGM, yang belum lama lulus dari Universitas Monash, Melbourne. Itu cara instan untuk mendapatkan bahan-bahan dasar, di tengah kesulitan memperoleh material yang ia butuhkan kala itu.
Pak Ichlasul Amal menerima Hamid dengan senang hati kendati sudah diberi tahu bahwa kedatangannya itu bukan untuk mewawancarainya, melainkan untuk 'kursus kilat gratis' mencari bahan-bahan wawancara buat sang dubes. Ia tidak marah. Ekspresinya tetap dengan sunggingan senyum dan tetap antusias untuk berbagi.
Begitulah Pak Amal, ia punya mentalitas luar biasa untuk sekadar tersinggung atau baper. Ia pemberani dalam keramahan dan senyumnya. Kekaguman saya pada sosoknya saya abadikan dalam nama anak bungsu saya.
Hingga Kamis, 14 November 2024 pekan ini, saya menerima kabar duka. Pak Amal wafat dengan meninggalkan seluruh kebaikannya, keramah-tamahannya, keberaniannya, dan amal-amal saleh lainnya. Insya Allah husnulkhatimah, Pak Amal.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik
SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.
SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved