Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
HEBOH sebentar, lalu surut. Ramai sejenak, sepi kemudian. Barangkali itu ungkapan yang cocok untuk menggambarkan penanganan judi online (judol) alias judi daring di Republik ini. Seperti yang sudah-sudah, pemberantasan judol tak pernah tuntas. Pemain-pemainnya disapu, tapi pucuk pengendalinya tidak terjamah.
Saat ramai, dibentuklah Satgas Pemberantasan Judi Daring. Namun, kini nyatanya satgas malah seperti ikut larut dalam kesepian. Gerak mereka tak terlihat, entah lantaran mereka tidak memublikasikan ke publik atau memang tidak bergerak sama sekali. Yang jelas, di mata publik, progres langkah mereka tidak tampak maju.
Sempat heboh soal sosok inisial T yang disebut Kepala BP2MI Benny Ramdhani sebagai pengendali judi daring dan scamming di Indonesia. Faktanya, itu cuma bikin gaduh pemberitaan dan dunia maya. Mister T masih saja misterius meskipun Benny sudah dipanggil dua kali oleh Bareskrim Polri untuk mengklarifikasi ucapannya itu.
Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?
Dari dua kali pemanggilan itu, Benny tidak bisa menjelaskan identitas sosok T. Ia mengaku hanya melempar informasi soal inisial T tersebut untuk bisa diungkap Polri. Belakangan dia malah minta maaf ke polisi lantaran tidak dapat mengungkap sosok yang dulu ia gembar-gemborkan ke media sebagai pengendali judol. Padahal, masyarakat sudah telanjur menduga-duga, menebak-nebak siapa inisial T yang dimaksud.
Ada dua kemungkinan kenapa Benny bungkam. Ia memang asal cuap, asal menyebut inisial pengendali mumpung waktu itu isu soal judol sedang ramai-ramainya, atau dia mendapat tekanan hebat, entah dari siapa, untuk tidak sekali-kali mengungkap sosok T tersebut. Dua kemungkinan itu sama-sama kontraproduktif dengan niat pemerintah memberangus perjudian daring.
Kalau dia asal ucap, itu jelas menjadi teladan yang buruk bagi masyarakat. Seorang pejabat publik, apalagi ia memimpin sebuah lembaga negara, seharusnya tahu bahwa setiap ucapan yang ia lempar ke publik memiliki konsekuensi. Ia mestinya paham bahwa ucapannya akan menjadi konsumsi publik. Karena itu, apa yang dikatakan haruslah jelas, tidak boleh sepotong-sepotong.
Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo
Apabila dia memang sengaja melempar informasi cuma sepenggal tanpa penjelasan, pun tiada bukti, kiranya tidak salah kalau kemudian masyarakat menduga Benny sebenarnya sedang mencoba mengalihkan perhatian publik dari esensi persoalan utama soal pemberantasan judol. Dengan perspektif itu, mungkin saja sosok T hanyalah tokoh rekaan yang diciptakan untuk menggeser atensi publik.
Dugaan itu dikuatkan dengan fakta yang belakangan terjadi ketika gerak satgas dan polisi malah lebih asyik berkutat menggali isu yang dilontarkan Benny ketimbang mengejar pengendali judol yang sesungguhnya. Di sini dibikin gaduh soal T, di seberang sana mungkin bandar-bandar dan pengendali judol yang inisialnya A sampai Z sedang tertawa menonton kebodohan kita.
Kemungkinan kedua, Benny diam karena ada yang menekan dia supaya bungkam. Seandainya ini yang terjadi, lebih ngeri lagi ceritanya. Itu artinya memang ada orang kuat, superkuat, yang menjadi bandar atau pengendali judol di Indonesia. Jika pemimpin lembaga sekelas Benny saja bisa dia tekan dengan mudah, kiranya perkara sepele pula buat sosok tersebut untuk bisa menghindar dari sentuhan hukum.
Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas
Saya tidak tahu mana yang benar di antara dua kemungkinan itu. Bisa jadi dua-duanya benar, tapi bisa juga dua-duanya salah. Yang pasti upaya menyapu bersih judi daring dari tanah Indonesia butuh tekad, keseriusan, dan keberanian level tinggi, bukan kegaduhan seperti kemarin. Kegaduhan hanya akan mendistraksi fokus penanganan. Riuhnya saja yang didapat, bandarnya tak tertangkap, judinya pun tak mengendap.
Yang kita ingin tahu, satgas judol punya keseriusan tinggi atau rendah? Tekad mereka bulat atau lonjong? Keberanian mereka tebal atau tipis? Rasanya, sih, kalau lihat sepak terjang mereka yang minim gebrakan, pilihan jawaban kedua yang mereka pilih. Rendah, lonjong, tipis. Itu makanya mereka adem ayem saja belakangan ini, kecuali saat merespons isu misteri sosok T.
Di saat kian banyak masyarakat teracuni oleh judol, semakin banyak orang melarat karena judol, semakin kerap kriminalitas terjadi yang dipicu judol, sesungguhnya sangat aneh kalau satgas judol masih nyantai-nyantai saja. Lucu sebetulnya kalau namanya satgas, tapi enggak pernah ngegas, malah sepertinya kebanyakan ngerem.
Okelah, kalau memang tidak bisa (berani) menangkap bandar judol, setidaknya gencarkan edukasi, kuatkan literasi digital publik, terutama buat anak-anak. Itu pendekatan pencegahan judol yang paling efektif jika dilakukan dengan masif.
Kalau itu pun tidak mereka lakukan, apa tidak sebaiknya satgas bubar saja? Toh sama saja, ada ataupun tidak ada mereka, judi online masih saja menggurita.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved