Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Kaya sebelum Tua

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
01/8/2024 05:00
Kaya sebelum Tua
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

JUDUL di atas ialah ungkapan harapan. Meski demikian, sejauh ini yang terjadi justru memperlihatkan tanda-tanda sebaliknya. Baik masyarakat maupun pemerintah sebagai pengelola institusi negara ini kini sedang gundah menghadapi ancaman risiko mengalami fenomena tua sebelum kaya.

Republik ini terus menua dengan populasi yang juga bakal semakin banyak diisi orang-orang tua (aging population). Menurut sensus penduduk 2023, sebanyak 12% penduduk Indonesia ialah kaum lansia. Proyeksinya, pada 2045 jumlah warga lansia itu bisa mencapai 20%. Artinya, satu dari lima penduduk Indonesia ialah kaum lansia yang dalam perhitungan sensus dianggap sudah tidak produktif.

Sejumlah pakar bahkan menyebut pada 2038 Indonesia akan mulai menua secara demografi. Apabila sudah telanjur menua, tidak ada negara yang mampu keluar dari middle income trap. Karena itu, kalau Indonesia tidak ingin tua sebelum kaya, satu-satunya jalan ialah harus keluar dari middle income trap sebelum 2038.

Akan tetapi, Indonesia diprediksi sulit keluar dari jebakan itu karena sektor industri manufaktur yang semestinya menjadi penggerak utama mesin pertumbuhan sudah lama dalam kondisi tidak baik-baik saja. Kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menurun. Beberapa kalangan malah mengeklaim sudah masuk ke fase deindustrialisasi.

Lunglainya manufaktur Indonesia tentu memberatkan upaya mengungkit pertumbuhan ekonomi. Semakin berat mengungkit pertumbuhan, semakin sulit juga kita bisa meloloskan diri dari jebakan pendapatan menengah. Mengapa? Karena negara butuh pertumbuhan tinggi untuk keluar dari kubangan jebakan itu. Jangan mimpi bisa lolos dari jebakan kalau ekonominya masih tumbuh sedang-sedang saja.

Dalam desain awal RPJPN 2025-2045 yang disusun Bappenas, angka pertumbuhan yang dibutuhkan untuk mengeluarkan Indonesia dari middle income trap sebelum 2045 ialah 6%-7%. Itu minimal. Faktanya, sepanjang dua periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo hingga 2024 ini, pertumbuhan kita paling tinggi tak jauh-jauh dari 5%.

Meskipun terdengar pedas dan pesimistis, barangkali benar yang dikatakan ekonom senior Faisal Basri. Ia menyangsikan Indonesia mampu menjadi negara maju seperti yang diimpi-impikan. Ia tegas menyebut harapan Indonesia menjadi negara maju sudah pupus.

Padahal, menjadi negara maju itu penting dalam konteks bahwa pada saat bersamaan pendapatan per kapita masyarakat juga akan terkerek. Sampai akhir tahun ini, pendapatan per kapita kita paling mentok antara US$5.300 dan US$5.400. Adapun pada saat Indonesia emas 2045 nanti, pendapatan per kapita ditarget menembus US$30 ribu. Naik enam kali lipat.

Ada yang menyebut itu target yang sangat 'radikal'. Namun, kalau Indonesia ingin betul-betul siap menghadapi aging population pada 2038 atau 2045, memang angka pendapatan per kapita sebesar itulah yang dibutuhkan. Tidak terbayangkan implikasinya jika Indonesia memasuki era aging population dengan pendapatan per kapita kecil. Penduduk tua akan menjadi beban berat, baik bagi negara maupun bagi masyarakat lain yang berada di usia produktif.

Menjadi tua sebelum kaya ialah persoalan serius. Dalam konteks masyarakat, misalnya, kaum tua rata-rata akan berada dalam kondisi pensiun, pendapatan terbatas, kesehatan melemah, dan lain-lain. Di lain sisi, biaya kesehatan makin mahal, biaya pendidikan anak terus naik, dan sebagainya. Pendeknya, beban lebih besar daripada pendapatan.

Begitu juga dalam konteks negara. Menurut ekonom Chatib Basri, negara yang sudah keburu tua (penduduknya diisi banyak golongan lansia) sebelum menjadi negara maju akan menghadapi situasi risiko anggaran pemerintah yang tidak sustainable. Sebagai contoh, pajak yang dibayarkan penduduk tua yang tidak aktif tentu tidak sebesar ketika mereka masih aktif. Sebaliknya, anggaran untuk menutup beban kesehatan mereka meningkat.

Optimisme presiden terpilih Prabowo Subianto yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi sebesar 8% dalam lima tahun mendatang patut kita apresiasi sebagai penyemangat untuk segera bangkit dan bekerja keras mewujudkan mimpi Indonesia menjadi negara maju (kaya) sebelum jatuh menua.

Namun, optimisme tak boleh menafikan realitas. Faktanya, hampir semua negara mengalami tren pertumbuhan yang melambat sampai dengan 2050. Indonesia, kalaupun ingin menjadi antitesis dari tren dunia tersebut, mesti jelas memetakan peluang, tantangan, dan hambatan yang ada. Pemerintah harus pandai mengidentifikasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang dioptimalkan lima tahun ke depan.

Optimisme tak boleh berhenti sebagai janji. Janji mesti sungguh-sungguh dituntaskan dengan strategi serta kebijakan yang jelas dan terukur. Bukan cuma omon-omon. Tanpa kesungguhan itu, siap-siap saja kalau bangsa ini mesti menjalani tua sebelum kaya. Sementara itu, cita-cita menjadi kaya sebelum tua akan terus menjadi sekadar harapan.



Berita Lainnya
  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.