Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Tambang Berkemajuan

Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group
30/7/2024 05:00
Tambang Berkemajuan
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

DALAM Kongres Muhammadiyah di Yogyakarta pada 1922, pendiri persyarikatan KH Ahmad Dahlan menyampaikan pidato yang menggetarkan berjudul Tali Pengikat Hidup.

Pidato itu kemudian diterbitkan oleh Hoofdbestuur (HB) Majelis Taman Pustaka berjudul Kesatuan Hidup Manusia. Sejumlah  ilmuwan Eropa pun terkesan dengan pidato tokoh yang memiliki nama kecil Muhammad Darwis. 

Pidatonya selain menyasar umat, tokoh yang disebut Bung Karno sebagai 'manusia amal' karena amal usahanya tersebar ke seluruh wilayah Indonesia itu juga memberikan warning kepada para pemimpin. 

Ahmad Dahlan menyebutkan penyebab orang yang mengabaikan atau menolak kebenaran. Penyebabnya ada lima, di antaranya cinta dunia. "Khawatir berkurang atau kehilangan kemuliaan, pangkat, kebesaran, kesenangan, dan sebagainya," tandasnya. 

Muhammadiyah ialah salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar setelah Nahdlatul Ulama di Tanah Air. Kedua ormas itu merupakan dua 'sayap garuda' yang menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Setelah NU mendapat sorotan tajam karena menerima konsesi izin usaha pertambangan (IUP) yang ditawarkan pemerintah, giliran Muhammadiyah sami mawon. 

Izin pengelolaan tambang oleh ormas keagamaan diatur dalam PP Nomor 25 Tahun 2024 yang mengubah PP Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Ormas keagamaan yang dimaksud dalam PP tersebut ialah ormas yang salah satu organnya menjalankan kegiatan ekonomi serta bertujuan pemberdayaan anggota dan kesejahteraan masyarakat/umat.

Bak pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu, suara-suara kritis, baik dari internal maupun eksternal, yang meminta ormas yang lahir di Kauman Yogyakarta pada 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah) itu menolak IUP, hilang tersapu angin.

Kajian awal penolakan diterbitkan oleh Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia (MHH) PP Muhammadiyah. Ketua MHH PP Muhammadiyah Trisno Raharjo mengatakan aktivitas pertambangan memiliki risiko lingkungan dan konflik sosial yang tinggi. Alhasil, mudaratnya lebih besar ketimbang maslahatnya. 

Setali tiga uang, penolakan juga dikumandangkan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1995-1998 Amien Rais, Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Muhammadiyah Usman Hamid, Kepala Divisi Lingkungan Hidup dan Manajemen Bencana PP Aisyiyah Hening Parlan, serta sejumlah kader muda Muhammadiyah. 

Namun, Pengurus Pusat Muhammadiyah menepis tudingan bahwa mereka mengabaikan suara-suara yang menolak.  Mereka menyambut konsesi tambang untuk ormas nawaitu-nya bukan cuan. Dalam menjalankan usaha tambang, Muhammadiyah ingin menjadi role model agar pengelolaan tambang tidak merusak lingkungan hingga menimbulkan disparitas sosial.

"Bagi kami harus dikelola, tapi jangan dirusak. Nah, itu perbedaannya. Kami ingin punya role model pengelolaan tambang yang tidak merusak lingkungan dan tidak menimbulkan konflik serta disparitas sosial," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Minggu (28/7). 

Di sisi lain, Muhammadiyah ialah ormas yang menawarkan Risalah Islam Berkemajuan (Al-Islam at-Taqaddumi) dalam Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta pada 2022 yang dibuka Presiden Joko Widodo. 

Dalam risalah itu disebutkan bahwa Islam yang berkemajuan ialah Islam yang menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia (rahmatan lil alamin). Islam berkemajuan bergerak dalam bidang dakwah, tajdid (pembaruan), ilmu, dan amal. 

Sejatinya Muhammadiyah menolak konsesi tambang karena tidak senapas dengan gerakan tajdid. Semangat pembaruan Muhammadiyah menolak kejumudan, bersikap progresif, dan berani berijtihad. Tajdid tidak melulu menyentuh ranah keagamaan, tetapi juga aspek kehidupan lainnya. 

Pertambangan ualah dunia masa lalu meski memiliki signifikansi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia, yakni Rp2.300 triliun atau 8,57% dari total PDB. Aktivitas ekstraktif yang tidak ramah lingkungan itu menjadi kecemasan global. 

Dunia akan mengakhiri energi fosil menuju energi baru dan terbarukan (renewable energy), termasuk Indonesia yang akan mengurangi energi fosil pada 2040. 

Pertambangan berada di peringkat ketiga sektor penyebab konflik agraria. Data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) pada 2023 menunjukkan pertambangan menyebabkan 32 letusan konflik agraria di 127.525 hektare lahan dengan 48.622 keluarga dari 57 desa terdampak tambang.

Ahmad Dahlan pada akhir pidatonya dalam Kongres Muhammadiyah di Yogyakarta pada 1922 menyinggung perbedaan antara orang pintar dan orang bodoh. "Orang pintar itu pasti mengerti barang yang akan menjadikan senang dan susah, orang yang bodoh tidak mengerti," ujarnya. 

Walakin, orang pintar, menurut tokoh pembaruan Islam di Tanah Air itu, juga bisa menimbulkan masalah bagi orang lain jika menegasikan petunjuk sang Khalik dan memberhalakan hawa nafsunya. Tabik!



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik