Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Judi itu Racun

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
20/6/2024 05:00
Judi itu Racun
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

JUDI online yang saat ini ramai dibicarakan sesungguhnya bukan persoalan baru. Masalah yang kini mengemuka sebagai dampak dari judi secara daring barangkali tidak jauh berbeda dengan persoalan yang timbul ketika dahulu judi luring atau konvensional sedang merajalela. Bedanya, kini transaksinya lebih menggila karena dibantu oleh kemudahan mengakses situs judi secara online

Namun, pangkal problemnya pada dasarnya sama, yaitu di perilaku judinya. Bukan soal medianya daring atau luring. Mau daring, mau luring, permainan taruhan adu untung itu memang selalu menjadi biang dari banyak masalah. Apa pun platformnya, pada zaman kapan pun judi dilakukan, yang untung pasti bandarnya, yang buntung penjudinya.

'Kalaupun kau menang, itu awal dari kekalahan. Kalaupun kau kaya, itu awal dari kemiskinan', kata Rhoma Irama dalam lagunya berjudul Judi yang amat legendaris. Pada bait selanjutnya, sang 'Raja Dangdut' itu menulis, 'Yang kaya bisa jadi melarat, apalagi yang miskin. Yang senang bisa jadi sengsara, apalagi yang susah'. 

Lagu itu dirilis pada 1987, jauh sebelum era internet dan ponsel pintar mengubah dunia, termasuk dunia perjudian. Tembang itu konon terinspirasi atau mungkin lebih tepatnya diperuntukkan menyindir praktik perjudian di bidang olahraga yang ketika itu dilegalkan pemerintah Orde Baru, yakni Porkas (Pekan Olahraga dan Ketangkasan).

Namun, nyatanya konteks lagu itu masih relevan untuk memotret fenomena judi online yang belakangan merebak dahsyat. Artinya, sebetulnya tidak ada perubahan dari cara kerja dan dampak yang diciptakan judi, baik ketika masih pakai sistem zadul maupun setelah mengadopsi sistem digital seperti sekarang. 

Platformnya boleh berganti, tapi impak dan cengkeraman buruk judi tetap sama. Meski demikian, harus diakui saat ini tingkat keparahannya memang lebih tinggi. Kemudahan akses melalui sistem daring telah membuat semua orang dapat dengan mudah menjadi pejudi. Dulu mungkin cuma orang dewasa yang masuk jeratan judi, tapi kini hampir semua lapisan masyarakat terperangkap.

Data terbaru yang dihimpun Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyebutkan bahwa anak di bawah umur hingga orang tua, bahkan yang sudah lansia, terjerat oleh judi online. Tak hanya itu, para pemain judi online itu kebanyakan bukan dari kelompok masyarakat yang secara materi berkecukupan. Sampai pengemis pun ada yang main judi daring. 

Dari mana mereka mendapatkan uang untuk modal judi, itu lebih bikin miris lagi ceritanya. Barangkali bukan hal yang baru jika anak-anak atau anak muda mengambil duit orangtua mereka untuk berjudi. Namun, bagaimana kalau sebaliknya, ketika banyak kaum lansia menggunakan nafkah bulanan dari anak mereka bukannya untuk keperluan sehari-sehari malah buat main judi? Benar kata Bang Haji Rhoma, judi memang meracuni kehidupan.

Ketika racun judi online sudah sedemikian hebat merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat, pemerintah, seperti biasa, selalu ketinggalan beberapa langkah. Ketika korban sudah banyak berjatuhan, baik korban langsung maupun tidak langsung, barulah Presiden membentuk Satuan Tugas Pemberantasan Perjudian Daring. Keppres tentang pembentukan satgas itu baru ditetapkan pada 14 Juni lalu.

Pembentukan satgas itu sendiri sesungguhnya mengonfirmasi bahwa selama ini pemerintah, termasuk kepolisian, memang telah gagal mencegah dan memberantas judi online. Satgas Pemberantasan Perjudian Daring dijadikan semacam messiah, juru selamat untuk membalikkan kegagalan tersebut. Sehebat itukah nantinya satgas tersebut?

Kalau merujuk pada kebiasaan pemerintah membentuk satgas untuk kasus-kasus yang gagal mereka tangani, seperti satgas mafia tanah, satgas pornografi anak, dan satgas pinjaman onlinehampir semuanya tidak berjalan efektif, publik pun tak terlalu optimistis dengan satgas judi online. Jangan-jangan seperti yang sudah-sudah, ini cuma strategi untuk meredakan sementara keresahan masyarakat.

Celakanya, di saat yang sama pemerintah malah melempar wacana dan program yang kian menambah skeptisisme publik. Soal bantuan sosial untuk korban judi online, misalnya, meski sudah diluruskan bantuan itu untuk keluarga korban bukan buat 'si penjudi yang kalah', tetap saja lontaran seperti itu sungguh tidak elok. Masih banyak masyarakat miskin yang jauh lebih layak mendapatkan bansos ketimbang mereka.

Lalu, yang tak kalah kocak ialah program edukasi tentang bahaya judi daring melalui SMS blast yang kini gencar dilakukan Kemenkominfo. Pesan itu berbunyi, 'Judi Online Bahaya dan Merusak Pengguna. Jangan Pernah Mencoba. Jaga Masa Depan Penuh Bahagia. #StopJudiOnline'. Niatnya mungkin bagus, tapi apakah tidak ada kajian terlebih dulu kalau cara seperti itu sama sekali tidak akan menyadarkan orang untuk tidak berjudi? Dibaca pun mungkin tidak, apalagi 'diamalkan'.  

Judi ibarat racun. Ia harus dimatikan dulu sebelum membunuh lebih banyak korban. Namun, kalau cara-cara nirguna seperti itu yang terus dipakai, jangan terlalu berharap judi online bakal mati dengan mudah.



Berita Lainnya
  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.