Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Akrobatik RUU Bebek Lumpuh

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
20/5/2024 05:00
Akrobatik RUU Bebek Lumpuh
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

ADA fenomena menarik yang terus berulang setiap lima tahun. Fenomena yang dimaksud ialah aktivitas legislasi DPR justru mencapai titik puncaknya setelah hasil pemilu ditetapkan.

Kurun waktu antara penetapan hasil pemilu (20 Maret 2024) dan pelantikan anggota DPR baru (1 Oktober 2024) disebut sebagai sesi bebek lumpuh. Pada masa itulah, tiba-tiba saja DPR memiliki energi berlimpah untuk membahas rancangan undang-undang (RUU). DPR tiba-tiba terlihat doyan membahas RUU.

Ada 43 RUU yang dibahas DPR bersama pemerintah dalam empat bulan ke depan. Padahal, DPR hanya mengesahkan 18 undang-undang pada 2023. Begitu juga pada 2022, hanya 32 RUU yang rampung dan disetujui menjadi UU. Regulasi yang dihasilkan tidak sebanyak kontroversi yang mereka ciptakan.

DPR periode 1999-2024 memberikan prioritas tinggi pada kewenangan legislasi. Buktinya, berdasarkan Program Legislasi Nasional (Legislasi) 2020-2024 yang ditetapkan pada 17 Desember 2019, terdapat 248 RUU yang menjadi target. Hingga 16 Agustus 2023, DPR mampu menuntaskan 64 RUU (25%).

Mampukah DPR menuntaskan 43 RUU yang saat ini masih berada dalam pembicaraan tingkat pertama? Jika menelaah kebiasaan pada sesi bebek lumpuh selama ini, DPR tidak menemui kesulitan untuk menuntaskan berapa pun banyak RUU yang hendak disahkan.

Saking semangatnya, RUU yang tidak masuk 34 RUU yang diprioritaskan, juga tidak masuk daftar Prolegnas 2020-2024, tiba-tiba saja dibahas Badan Legislasi DPR pada Selasa (14/5). RUU yang dimaksud ialah revisi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara.

Boleh-boleh saja DPR memperlihatkan produktivitas berlebihan menjelang akhir masa jabatan. Akan tetapi, ada persoalan yang menyertainya, yaitu masalah legitimasi dan substansi setiap RUU yang dibahas DPR bersama pemerintah.

Masih adakah legitimasi DPR pada sesi bebek lumpuh untuk membahas RUU? Fitra Arsil (2019) menyebutkan para anggota parlemen dan kepala eksekutif yang masih duduk di jabatannya pada saat sudah terpilih para anggota baru sebenarnya memiliki legitimasi yang rendah karena terbukti para pemilih tidak memberikan kepercayaan lagi.

Memang, berdasarkan laporan Centre for Strategic and International Studies (CSIS), jumlah calon anggota DPR petahana yang terpilih kembali lebih banyak ketimbang calon pendatang baru. Total 56,4% calon anggota DPR petahana terpilih kembali, sedangkan pendatang baru berjumlah 43,6%. Anggota DPR yang tidak terpilih kembali mengandung makna rakyat tidak memercayai mereka lagi.

Mereka yang tidak meraih kembali kepercayaan dari rakyat itulah yang ikut membahas RUU dalam empat bulan ke depan. Dengan demikian, elok nian bila RUU kontroversial tidak dibahas, misalnya revisi keempat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan revisi UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Hentikan saja pembahasannya!

Persoalan substansi pembahasan RUU hendaknya mematuhi ketentuan UU 12/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Pasal 96 mengatur partisipasi masyarakat yang pada ayat (1) menyebutkan masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam pembentukan peraturan perundang-undangan.

Partisipasi masyarakat mutlak dilaksanakan sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91/PUU-XVIII/2020. Menurut MK, partisipasi masyarakat perlu dilakukan secara bermakna (meaningful participation) sehingga tercipta/terwujud partisipasi dan keterlibatan publik secara sungguh-sungguh.

MK menetapkan bahwa partisipasi masyarakat yang lebih bermakna tersebut setidaknya memenuhi tiga prasyarat, yaitu pertama, hak untuk didengarkan pendapatnya (right to be heard); kedua, hak untuk dipertimbangkan pendapatnya (right to be considered); dan ketiga, hak untuk mendapatkan penjelasan atau jawaban atas pendapat yang diberikan (right to be explained).

Harus tegas dikatakan bahwa partisipasi masyarakat diabaikan dengan penuh kesadaran dalam proses pembahasan RUU di Senayan. Karena itu, perlu dipertimbangkan untuk menghentikan semua pembahasan RUU pada sesi bebek lumpuh sehingga terhindari adanya pasal-pasal transaksional. Kiranya pembahasan RUU tetap memperhatikan masalah legitimasi dan substansi yang mengakomodasi aspirasi masyarakat.

Semua RUU yang tidak bisa selesai pada periode sekarang bisa diwariskan kepada DPR periode 2024-2029 lewat sistem carry over. Memaksakan diri untuk menuntaskan 43 RUU dalam empat bulan ke depan hanya memberikan kesempatan kepada DPR untuk membuka celah perjumpaan di lorong-lorong gelap menuju kekuasaan. Kiranya dicegah akrobatik RUU pada sesi bebek lumpuh.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik