Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Kekalahan ini seperti Tato

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
26/4/2024 05:00
Kekalahan ini seperti Tato
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

SIAP menang gampang diucapkan, mudah pula dijalankan. Siap kalah juga mudah dilafalkan, tetapi begitu sulit untuk dilakukan. Apalagi jika kekalahan dirasa akibat kecurangan pemenang. Terlebih kalau kekalahan diyakini sebagai imbas dari cawe-cawe kekuasaan.

Itulah yang dirasakan jutaan orang di Indonesia selepas kompetisi Pilpres 2024. Ditandai dengan putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak gugatan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD, kemenangan Prabowo-Gibran tak lagi terhalang. Keduanya sudah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai presiden dan wakil presiden terpilih. Keduanya tinggal dilantik 20 Oktober mendatang.

Bahwa kemudian Anies dan Cak Imin mengucapkan selamat kepada Prabowo-Gibran, itu kiranya menunjukkan kebesaran hati mereka. Keduanya pasti kecewa, sama seperti 40 juta lebih pemilih mereka. Dalam pidatonya setelah ditetapkan KPU sebagai pemenang, Prabowo juga paham senyum Anies dan Cak Imin senyuman yang berat. Senyum dalam duka, begitu istilah lainnya.

Apa pun, kita mengapresiasi kesediaan Anies dan Muhaimin untuk hadir dalam penetapan kemenangan rival mereka itu. Ihwal absennya Ganjar dan Mahfud, kita tak perlu menghakimi. Apalagi kalau keduanya benar tak mendapat atau terlambat menerima undangan dari KPU.

Ini bukan masalah suka tidak suka, mau tidak mau. Ini soal hati. Barangkali tak terlalu berat untuk akhirnya mengakui dan menerima kemenangan Prabowo. Sebagian rakyat sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan keberadaan Prabowo sebagai capres sehingga tak terlalu menjadi soal pula ia menjadi presiden.

Kemenangan Prabowo memang tak mulus, ada noda, berbalut jelaga. Akan tetapi, di sisi lain, setidaknya bagi saya, ia juga memberikan pembelajaran soal arti perjuangan. Prabowo tak lagi muda. Ia yang lahir pada 17 Oktober 1951 saat mengikuti pilpres ini sudah berusia 72 tahun. Ia akan menjadi presiden tertua dalam sejarah Indonesia, lebih tua ketimbang BJ Habibie yang dilantik pada 1998 saat berumur 62 tahun.

Prabowo juga bakal berjejer di daftar pemimpin negara tertua di dunia.

Prabowo setidaknya membuktikan pitutur luhur bahwa usia bukanlah halangan untuk mewujudkan asa. Ia sudah memahatkan harapan sebagai pemimpin negeri jauh-jauh hari.

Pada Pilpres 2009, ia turun gelanggang sebagai cawapres Megawati Soekarnoputri, tapi kalah dari SBY-Boediono. Ia kembali berkompetisi di Pilpres 2014 sebagai capres, tetapi kalah jua. Kali ini oleh Jokowi. Tak lantas berputus asa, Prabowo maju lagi lima tahun kemudian, tapi lagi-lagi kalah dari Jokowi.

Prabowo mengonfirmasi nasihat Albert Einstein bahwa kegagalan ialah kesuksesan yang sedang berlangsung benar adanya. Ia berulang-ulang tumbang, tapi pantang putus harapan. Mirip dengan Abraham Lincoln yang juga berkali-kali gagal dalam karier politik, tapi akhirnya sukses menjadi presiden ke-16 Amerika pada 1860. Itu contoh baik buat yang tua-tua, juga bagi anak-anak muda. Semangat Prabowo boleh ditiru, tapi cara-cara buruk yang dilakukannya jangan.

Ini bukan soal suka tidak suka, mau tidak mau. Kiranya terlalu berat untuk akhirnya mengakui dan menerima kemenangan Gibran. Terlalu sulit melupakan begitu saja jejak kotor perjalanan anak Presiden Jokowi itu menjadi wakil presiden termuda Indonesia dengan umur 36 tahun, lebih muda ketimbang M Natsir saat menjadi wapres pada 1950 dalam usia 42 tahun.

Salah satu syarat sebagai pemimpin ialah satu lisan dan perbuatan. Tidak boleh plinplan, pantang tempo hari begono hari ini begini, besok lain lagi. Akan tetapi, Gibran melakukan itu. Ia pernah bilang tak tertarik politik, maunya berbisnis, tapi faktanya terbalik.

Syarat pemimpin yang ideal ialah kesetiaan. Akan tetapi, Gibran menabrak paugeran itu. Pada suatu kala ia bilang tegak lurus pada Megawati, tapi tak lama berselang malah berlawanan.

Syarat lain pemimpin yang baik ialah memuliakan etika. Akan tetapi, Gibran dinilai justru menistakannya. Tiket sebagai cawapres yang ia dapat cacat etika, hasil mengakali konstitusi. Dalam debat cawapres, ia disebut tak beretika pada kompetitornya yang tua-tua. Ia bukan contoh yang baik.

Kendati satu paket, kiranya ada kontradiksi penyikapan terhadap Prabowo dan Gibran. Kekecewaan mereka yang kalah terhadap Prabowo barangkali tak akan berlama-lama, tapi tidak untuk Gibran. Hora sudi, tidak mau. Itulah jawaban ketus teman saya ketika ditanya apakah akan memajang foto Gibran sebagai wapres. Ia yang menjunjung tinggi etika dan demokrasi masih kecewa berat, marah besar. Kata dia, kekecewaannya, kemarahannya, sangat sulit diobati.

Teman saya pasti tak sendiri. Saya pastikan masih banyak yang juga berat menerima dan melupakan kekalahan dari Gibran. Ihwal itu, pepatah Inggris 'failure is a bruise, not a tattoo (kegagalan atau kekalahan adalah memar, bukan tato)' rasanya tak lagi mewakili.



Berita Lainnya
  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik