Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Menerima dengan Kritis

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
25/4/2024 05:00
Menerima dengan Kritis
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

PEMILIHAN umum sering diibaratkan sebuah kompetisi atau pertandingan politik. Serupa dengan pertandingan olahraga, di situ ada aturan main yang mesti ditaati, ada wasit sebagai pengadil, ada prinsip fair play yang harus dipegang teguh. Di akhir kompetisi atau pertandingan, tentu ada pihak yang menang, ada kubu yang kalah.

 

Sepanas-panasnya atmosfer pertandingan, pada akhirnya semua mesti menerima hasil akhir itu. Seburuk-buruknya kepemimpinan pengadil hingga dirasa merugikan salah satu pihak, ketika pertandingan usai, hasil akhir nyaris tidak mungkin bisa diubah.

Bagi yang kalah, marah wajar, kecewa lumrah, menggerundel pun boleh. Namun, ketika pengadil yang lebih tinggi pun sudah memastikan hasil pertandingan itu sah, kemarahan, kekecewaan, dan gerutuan kiranya tak elok diteruskan. Bisa-bisa malah bikin sakit hati berkepanjangan atau bahkan memicu darah tinggi.

Sebagai analogi, laga perdana Piala Asia U-23 di Grup A yang mempertemukan timnas Indonesia U-23 melawan tuan rumah Qatar U-23, pekan lalu, tampaknya sangat pas untuk mendeskripsikan itu. Pengadil yang tidak 'netral', pemain lawan yang gemar memprovokasi dengan drama-drama menjengkelkan, semua ada. Lengkap.

Soal pengadil, kurang buruk apa kinerja wasit Nasrullo Kabirov saat memimpin pertandingan itu? Banyak keputusan kontroversial dari wasit berkebangsaan Tajikistan itu yang sangat merugikan anak asuh Shin Tae-yong. Termasuk dua kartu merah yang ia keluarkan kepada punggawa timnas ‘Garuda’ dan penalti yang ia 'hadiahkan' kepada tim tuan rumah.

Wajar saja kalau masyarakat Indonesia, terutama para pecinta dan pendukung timnas geram, marah, dan mengutuki kerja wasit itu. Menurut mereka, pengadil yang berat sebelah itu menjadi pangkal kekalahan Indonesia di pertandingan tersebut. Pada laga itu, Rizky Ridho dkk harus mengakui keunggulan Qatar dengan skor 0-2.

Netizen Indonesia ngamuk. Sejumlah unggahan di akun Instagram pribadi wasit Kabirov ataupun akun resmi AFC langsung dibombardir komentar-komentar yang semuanya berisikan ekspresi kekecewaan dan kemarahan suporter timnas. Seperti biasa, kalau netizen Indonesia sudah marah, seng ada lawan.

Tidak cuma dari dalam negeri, media asing sekelas ESPN juga ikut menyoroti kepemimpinan wasit. ‘Ketika Indonesia kalah 2-0 dari tuan rumah Qatar dalam pertandingan pembuka Piala Asia AFC U-23 2024, reaksi setelahnya berpusat pada kemarahan terhadap keputusan penting wasit. Dan hal itu dapat dimengerti’, tulis ESPN.

Akan tetapi, kecaman dan kemarahan itu pada akhirnya tidak mampu mengubah keadaan. Bahkan, protes resmi yang dilayangkan PSSI kepada AFC terkait dengan keputusan-keputusan kontroversial wasit di laga pembuka itu ditolak alias tak menghasilkan apa-apa.

Artinya, meskipun sambil menggerundel, the show must go on. Sebesar apa pun kekecewaan yang diterima, pertunjukan tetap jalan terus. Respons yang positif akhirnya membuahkan hasil yang juga positif.

Keberhasilan ‘Garuda’ move on dari kegagalan di pertandingan pertama, berbuah manis dengan keberhasilan mereka mengemas kemenangan di sisa dua pertandingan Grup A. Australia dibekuk dengan skor tipis 1-0, berikutnya Yordania gantian dilibas 4-1. Indonesia, sang debutan di Piala Asia U-23, pun lolos ke perempat final.

Prinsip dan konsep antara pertandingan sepak bola dan pertandingan politik alias pemilu, sejatinya tidak beda. Menerima hasil kompetisi, sekalipun prosesnya terkadang menyakitkan, ialah modal untuk kita mau dan mampu move on, beranjak lepas dari bayang-bayang kekecewaan. Itu setidaknya sudah ditunjukkan anak-anak muda di skuad ‘Garuda’.

Kini, pemilu usai. Gugatan sengketa pilpres sudah diputuskan Mahkamah Konstitusi. KPU juga sudah menggelar penetapan hasil Pilpres 2024 yang menempatkan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai presiden dan wakil presiden terpilih.

Suka tidak suka, puas tidak puas, masyarakat mesti menerima itu. Publik kiranya perlu diajak untuk menyikapi hasil pemilu itu sebagai realitas politik dan konsekuensi logis dari sistem demokrasi yang dipilih bangsa Indonesia. Dari situ baru kita bisa bergerak dan melangkah menjemput kemajuan yang diimpi-impikan.

Namun, kalau menilik proses Pemilu 2024 yang banyak dituding kotor dan melenceng dari prinsip demokrasi dan itu mendapat konfirmasi dari dissenting opinion

 yang diberikan tiga hakim konstitusi dalam putusan sengketa Pilpres 2024, eloknya penerimaan atas hasil pemilu itu tetap disertai dengan catatan-catatan kritis.

Pertandingan kali ini memang sudah selesai, tetapi masih akan ada pertandingan-pertandingan lain yang harus dijaga kelurusan dan keadaban prosesnya. Catatan kritis itu menjadi refleksi untuk penyelenggaraan pemilu yang lebih baik di masa depan.

 



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik