Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Setelah Lebaran lalu Apa?

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
13/4/2024 05:00
Setelah Lebaran lalu Apa?
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

IDUL Fitri tahun ini diliputi beragam rasa. Ada kumpulan besar kegembiraan, kebahagiaan, dan kesenangan. Namun, ada onggokan keprihatinan, bahkan kesedihan mendalam. Atmosfer kegembiraan dan kebahagiaan itu lumrah karena ratusan juta orang bertemu sanak saudara dan para sahabat.

Namun, gumpalan kesedihan mestinya berkurang dari waktu ke waktu. Orang pasti ingin 'hidup yang hidup'. Dalam bahasa Jawa, urip iku urup (hidup itu menyala dan sarat energi). Kita pasti tidak ingin hidup 'hanya menunda kekalahan'.

Melihat banyaknya kecelakaan yang merenggut korban jiwa sedikitnya 67 orang dalam lalu lintas Lebaran 2024 hingga detik ini, tentu ada yang ternodai dalam hidup. Saat melihat kemacetan di Pelabuhan Merak yang tidak terantisipasi, keprihatinan dan kemarahan menggerus kebahagiaan berlebaran.

Apatah lagi saat melihat harga pangan yang turun sebentar lalu sekonyong-konyong naik lagi, batin yang gembira bisa kembali kecut. Publik bertanya, apa iya kebahagiaan hanya seterang kunang-kunang? Ketika melihat harga-harga itu, kian kentara bahwa kebahagiaan bagi sebagian besar masyarakat selalu mesti bersabung dengan rasa waswas.

Membaca panel harian harga kebutuhan pangan akhir-akhir ini kerap membuat jantung publik berdegup kencang. Pekan ini, misalnya, beras dan cabai merah keriting menjadi komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga lagi. Pada Kamis (11/4) atau hari kedua Idul Fitri 1445 Hijriah, rata-rata harga beras naik lebih dari Rp900 per kilogram.

Berdasarkan pantauan pada Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) pukul 07.30 WIB, Kamis, rata-rata nasional harga beras premium di tingkat eceran naik secara harian sebanyak Rp980 menjadi Rp17.340/kg, beras medium naik Rp840 menjadi Rp14.960/kg, dan cabai merah keriting naik Rp1.130 menjadi Rp52.830/kg.

Selain itu, terdapat 11 komoditas lainnya yang naik secara harian di tingkat eceran, yakni kedelai biji kering (impor), bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Selanjutnya, ada minyak goreng kemasan sederhana, tepung terigu, jagung makanan ternak, tongkol, bandeng, garam halus beryodium, dan tepung terigu kemasan.

Ada memang sejumlah komoditas yang turun harga. Namun, jumlahnya tidak sesignifikan komoditas yang naik. Jenis komoditas yang harganya turun juga tidak semuanya 'selevel' komoditas yang naik. Tidak 'apel dengan apel'.

Sayangnya, kita tidak mendapatkan jawaban yang memadai dari para pemangku kepentingan. Sejak menjelang Ramadan, saat Ramadan, menjelang Lebaran, saat Lebaran, hingga usai Lebaran, penjelasan Menteri Perdagangan tidak beringsut dari itu ke itu. Kata Mendag Zulkifli Hasan, 'barang tersedia dengan cukup'. Atau, kadang dengan kalimat 'jangan khawatir, panen raya segera datang, harga beras akan turun'.

Pernyataan seperti itu mengingatkan saya pada era Orde Baru, saat pemerintah gemar membiakkan eufemisme, alias penghalusan bahasa. Di pasar, harga-harga pada naik, tapi pemerintah berkata, 'itu bukan kenaikan, melainkan penyesuaian'. Penghalusan istilah dilakukan agar kegetiran tidak terlalu dirasakan. Biar kebahagiaan, walau semu dan sekejap, tetap bisa dicecap.

Ada sindiran keras dari kolumnis legendaris Mahbub Djunaidi soal penghalusan bahasa yang gemar disebar pemerintah Orde Baru ini. Dalam kolom Asal Usul, Mahbub menulis: "Membaca koran itu bukan seperti makan lemper yang sudah pasti enaknya. Misalnya, sering kali orang melewatkan halaman depan yang memuat ucapan-ucapan aneh dan klise. Misalnya, pembaca tidak tertarik lagi dengan istilah 'penyesuaian', karena kata itu sudah pasti berarti kenaikan harga, dan bukan sebaliknya. Seorang murid SD malahan punya usul yang amat progresif, bagaimana kalau lawan kata 'turun' diganti saja dengan 'sesuai' dan bukannya naik".

Kini, gejala 'menenangkan hati' publik yang gundah itu seolah direpetisi lewat pernyataan-pernyataan klise. Namun, antara pernyataan dan kenyataan masih sejauh utara dan selatan, masih sesenjang timur dan barat. Sebagian rakyat yang masih terhibur dengan datangnya Idul Fitri tidak lama lagi akan gigit jari. Mereka akan bertanya, setelah Lebaran, mau apa? Lalu, seusai Idul Fitri, bagaimana? Serampung hari raya, akan bernasib seperti apa?



Berita Lainnya
  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.